Mutilasi Cakung Libatkan Wanita Muda

Kompas.com - 04/10/2008, 05:03 WIB

 JAKARTA, SABTU- Identitas pria bertato macan yang menjadi korban mutilasi hingga Jumat (3/10) belum diketahui.  Polisi mendapat informasi bahwa pria tersebut diduga seorang karyawan di kawasan pergudangan Tangerang. Namun pemberi informasi tersebut sedang mudik ke Semarang, sehingga belum didapat informasi yang lebih lengkap. 

Seperti diberitakan, mayat terpotong 13 tanpa kepala dan telapak tangan ditemukan di bus Mayasari Bakti P 64 jurusan Kalideres-Pulogadung yang sedang parkir di pompa bensin di kawasan Tugas, Cakung, Jakarta Timur, Senin (29/9) sore. Petunjuk penting pada mayat korban mutilasi ini adalah tato gambar kepala macan di lengan.

Salah satu dari saksi yang telah dimintai keterangan oleh polisi mengatakan, bungkusan plastik yang belakangan diketahui berisi potongan tubuh manusia tersebut dibawa oleh seorang wanita muda. Ketika naik bus, wanita tersebut diantar seorang pria dan masuk lewat pintu belakang.

Wanita itu, kata seorang penyidik mengutip keterangan saksi, kemudian ditinggalkan oleh pria pengantarnya. Namun, saat kondektur menarik uang dari penumpang, ongkos wanita itu ditanggung oleh lelaki yang duduk di sebelahnya. 

Leo Aritonang?

Begitu kabar penemuan korban mutilasi 13 tersebar, polisi menerima telepon dari seorang pria yang mengaku sebagai karyawan di kawasan pergudangan di Tangerang. Pria tersebut menduga korban mutilasi 13 adalah rekannya, Leo Aritonang, yang juga karyawan di kawasan pergudangan tersebut. 

Kepala Kepolisian Sektor Metro Cakung Komisaris Yayat Popon menyatakan, penelepon tersebut mengatakan bahwa rekannya, yakni Leo Aritonang, sudah beberapa hari menghilang. Namun polisi belum bisa meminta keterangan lebih banyak dari pria tersebut, karena hingga kemarin dia masih mudik ke Semarang.

”Kami belum bisa menggali keterangan lebih banyak warga tersebut. Kami terpaksa menunggu dia balik ke Jakarta,” ucap Yayat Popon didampingi Kepala Unit Reserse Kriminal Iptu Bambang Cipto. 

Menurut Yayat, polisi belum tahu apakah orang yang memberi informasi itu punya kedekatan khusus dengan Leo Aritonang. ”Bisa jadi orang tersebut memberi kabar karena dia punya ketertarikan atau kepedulian dalam kasus mutilasi ini,” ucapnya. 

Hingga Jumat malam, belum ada orang yang mengaku sebagai keluarga korban mutilasi 13 yang datang ke Mapolsektro Cakung. Yayat juga mengatakan bahwa pihaknya sempat menerima informasi lewat telepon yang mengatakan potongan kepala seorang pemuda ditemukan di daerah  Ciputat. Namun, setelah dicek, ternyata tidak ditemukan kepala manusia seperti yang diinformasikan melalui telepon.

Sebar foto

Di sisi lain, untuk menjaring informasi lebih banyak, polisi menyebar gambar tato macan di lengan korban. Gambar tersebut disebar di tempat-tempat keramaian seperti terminal bus, stasiun KA, pasar, dan kawasan pabrik. ”Sebanyak-banyaknya akan kami pasang supaya masyarakat yang mengenali gambar tato macan itu bisa memberi kabar ke polisi,” tutur Yayat. 

Menurut Yayat, pemeriksaan oleh dokter terhadap korban mutilasi 13 belum dapat menentukan penyebab pasti kematian korban. ”Untuk mengetahui penyebab kematiannya kan mesti memeriksa organ tubuh, salah satunya jantung. Tapi pada korban mutilasi ini kan tidak ada (bagian) itu. Jari kaki dan tangan juga tidak ada, pelaku benar-benar lihai, sepertinya dia belajar dari kasus-kasus mutilasi yang pernah ada,” paparnya.

Yayat juga mengimbau warga masyarakat yang kehilangan anggota keluarganya atau memiliki informasi akurat tentang kasus mutilasi 13 ini memberikan informasi ke Polsektro Cakung. (ded)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau