Waspadai Ranjau Paku, Hipnotis, dan Pembiusan

Kompas.com - 04/10/2008, 05:13 WIB

JAKARTA, SABTU - Warga Jakarta yang hendak kembali dari berlebaran di kampung halaman diimbau mewaspadai ranjau paku, aksi hipnotis, dan pembiusan. Ketiga kejahatan musiman ini umumnya berlangsung selama Lebaran.

Hari Jumat (3/10), enam pengendara sepeda motor menjadi korban ranjau paku. Setengah jam setelah mendapat laporan para korban, Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Condro Kirono mengerahkan dua kendaraan penyapu ranjau paku, enam belas sepeda motor besar, serta sejumlah mobil Patroli Pengawal (Patwal).

Petugas Patwal, Komisaris Hasan Untoro dan Inspektur Dua A Syafiq, yang ditemui sedang menyapu ranjau paku di sekitar Plaza Semanggi, mengatakan, sudah enam korban ranjau paku mengadu ke polisi sejak pukul 15.45.

Dengan kendaraan khusus penyapu ranjau paku, mereka menyisir jalan dari depan Universitas Atmajaya, menyusuri Jalan Gatot Subroto, sampai ke Jalan HR Rasuna Said dan kembali ke Markas Polda Metro. Kendaraan sejenis, lanjut Condro, juga menyusuri Jalan Daan Mogot, Jakarta Barat.

Pukul 16.00, enam belas sepeda motor besar Patwal dan sejumlah mobil piket Patwal mulai bergerak dari halaman Polda Metro. ”Delapan sepeda motor saya arahkan ke Bekasi, delapan sepeda motor lainnya ke Jalan Daan Mogot, sedangkan mobil Patwal berkeliling,” katanya.

Lokasi rawan ranjau paku di Jakarta Pusat ada di sekitar Jalan Hasyim Ashari dari pertigaan Jalan Gajah Mada hingga menjelang Jempatan Layang Roxy.

Brigadir Satu Imran NST yang sedang berpatroli menjelaskan, polisi sering memeriksa jalanan untuk mengecek keberadaan ranjau paku. ”Kejahatan lain yang menonjol adalah penjambretan dengan motor di sekitar bekas landas pacu Kemayoran-PRJ,” kata Imran.

Waspadai hipnotis

Kepala Satuan Kejahatan dengan Kekerasan Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Fadhil Imran mengimbau masyarakat yang akan kembali ke Jakarta selama masa Lebaran agar berhati-hati menghadapi kemungkinan hipnotis dan pembiusan.

”Sasaran penjahat biasanya orang desa yang hendak kembali ke Jakarta. Mereka, kan, umumnya santun dan tidak berpikir buruk tentang orang yang belum ia kenal. Sikap mereka pasrah dan tidak mau ribut. Para pelaku memanfaatkan perilaku dan sifat korban yang seperti ini,” papar Fadhil.

Untuk menghindari hipnotis dan pembiusan, ia mengingatkan warga agar selama perjalanan jangan melamun, jangan menyendiri, dan mengambil jarak terhadap orang yang belum dikenal di jalan.

”Tolak dengan santun bila ada orang yang belum dikenal menawarkan makanan atau minuman. Ke toilet umum sebaiknya tidak sendirian untuk mencegah penodongan,” kata Fadhil menjelaskan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau