JAKARTA, SENIN- Meskipun krisis keuangan global yang tengah melanda dunia ini berbeda dengan krisis keuangan yang pernah terjadi pada tahun 1997 silam, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta bangsa Indonesia tidak boleh lengah dan lalai untuk mengantisipasinya.
Pemerintah dan dunia usaha harus terus waspada untuk bersama-sama satu tekad dan langkah menjaga momentum perekonomian. Diharapkan agar pertumbuhan ekonomi tidak turun dari angka 6 persen.
Demikian disampaikan Presiden Yudhoyono saat Sidang Kabinet Paripurna yang diperluas di Gedung Utama Sekretariat negara, Jakarta, Senin (6/10).
Hadir dalam rapat sidang tersebut Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla dan hampir seluruh menteri kabinet, kalangan dunia usaha, pimpinan umum dan pimpinan rekdasi media massa, serta pengamat ekonomi. Pengusaha yang hadir di antaranya Rachmat Gobel, Fransiscus Welirang, dan James Riady. Adapun pengamat ekonomi yang diundang di antaranya Christianto Wibisono, Pande Radja Silalahi, Mirza Adityaswara dan lainnya.
"Saya harus katakan secara tegas dan jelas, Insya Allah tidak akan terjadi krisis sebagaimana kita alami pada sepuluh tahun lalu. Rasionalnya jelas. Prakondisi faktor pemburuk dan isu-isu non ekonomi yang membuat krisis ekonomi 1997-1998 pada waktu dulu sungguh parah. Akan tetapi, sekarang, sesungguhnya tidak terjadi atau tidak sama dengan keadaan tahun 2008 ini," tandas Presiden.
Menurut Presiden Yudhoyono, "Saya tidak mengatakan akan aman-aman saja, tidak. Akan tetapi, saya punya keyakinan apabila kita bersatu bersinergi dan mengatasi masalah ini bersama, maka mimpi buruk yang terjadi pada 10 tahun yang lalu, niscaya tidak akan terjadi."
Presiden Yudhoyono kemudian memaparkan perbedaan kondisi pada saat krisis 1997 silam dengan kondisi ekonomi sekarang ini. Di antaranya, penyebab utama krisis ekonomi yang berbeda, adanya kepanikan pasar, dan hal-hal yang berkaitan dengan kebijakan yang tidak konsisten, kestabilan pemerintahan dan faktor ekonomi lainnya seperti harga minyak mentah dunia yang jatuh sampai 20 dollar AS per barrel.
"Untuk itu, mari menjaga misi bersama kita, tiada lain adalah memelihara momentum kebangkitan ekonomi nasional. Sayang kalau momen ini lepas dan kita sia-siakan karena bertahun-tahun kita bekerja keras karena proses recovery setelah krisis itu berjalan dengan baik, dan bahkan kemudian tahun-tahun terakhir ini tanda-tanda perbaikan itu nyata," ujar Presiden.
Presiden Yudhoyono menambahkan, dampak dari krisis keuangan di Amerika Serikat, dengan segala turunannya dan alirannya, akan berpengaruh pada momentum pertumbuhan itu. "Oleh Karena itu mari kita kelola agar tidak mengancam, apalagi menghentikan atau membuatnya mundur dari pertumbuhan ekonomi kita yang sedang berlangsung dewasa ini," lanjut Presiden Yudhoyono.
Diakui Presiden, banyak negara mengoreksi pertumbuhan ekonominya, namun dengan usaha bersama dan kegigihan sekuat tenaga, pertumbuhan ekonomi diharapkan berada di kisaran 6 persen. Saat ini, asumsi pertumbuhan ekonomi pemerintah diasumsikan masih 6,3 persen.
Secara khusus, untuk mengantisipasi krisis keuangan global yang terjadi, Presiden Yudhoyono mengeluarkan 10 perintah untuk dijalani oleh aparat pemerintah, dunia usaha dan masyarakat.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang