Parpol Jangan Lagi Bebani Pemerintah

Kompas.com - 08/10/2008, 09:28 WIB

KEDIRI, RABU - Wakil Ketua DPR RI Muhaimin Iskandar menyatakan, partai politik jangan lagi membebani pemerintah yang saat ini sedang bersusah payah menghadapi krisis keuangan global. "Parpol itu seharusnya menjadi infrastruktur penopang pemerintah, bukan malah membebani," katanya di Kediri, Jawa Timur, Rabu (8/10).

Oleh sebab itu, dia sangat mendukung pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terkait 10 langkah yang harus ditempuh untuk menghadapi krisis keuangan Amerika Serikat agar tidak memberikan pengaruh buruk terhadap perekonomian Indonesia.

Pada poin kesembilan, Presiden mengingatkan, tahun 2009 merupakan tahun politik dan tahun pemilu, kaitannya dengan upaya menghadapi krisis keuangan AS adalah memiliki pandangan politik yang nonpartisan serta mengedepankan kepentingan rakyat di atas kepentingan golongan maupun pribadi, termasuk dalam kebijakan-kebijakan politik.

"Kami sangat mendukung poin ini. Sehingga nantinya jangan ada lagi pengurus parpol yang mengintervensi kebijakan pemerintah," kata Ketua Umum DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu. Selain itu, dia juga meminta pemerintah baik pusat maupun daerah melakukan efisiensi penggunaan APBN dan APBD, terutama yang tidak memiliki kepentingan dengan rakyat.

"Seperti membangun gedung yang tidak ada kaitannya dengan kepentingan rakyat, sebaiknya ditiadakan saja," kata Muhaimin seusai melantik jajaran pengurus DPC PKB Kabupaten Kediri.

Sebelumnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memerintahkan 10 langkah yang harus ditempuh untuk menghindari dampak krisis keuangan yang terjadi di AS. Kesepuluh langkah itu adalah terus memupuk rasa optimisme dan saling bekerja sama sehingga bisa tetap menjaga kepercayaan masyarakat; pertumbuhan ekonomi sebesar enam persen harus terus dipertahankan antara lain dengan terus mencari peluang ekspor dan investasi serta mengembangkan perekonomian domestik.

Mengoptimalkan APBN 2009 untuk terus memacu pertumbuhan dengan tetap memerhatikan jaring pengaman sosial; meminta kalangan dunia usaha untuk tetap mendorong sektor riil; meminta semua pihak agar lebih kreatif menangkap peluang di masa krisis antara lain dengan mengembangkan pasar di negara-negara tetangga di kawasan Asia yang tidak secara langsung terkena pengaruh krisis keuangan AS.

Menggalakkan kembali penggunaan produk dalam negeri sehingga pasar domestik akan bertambah kuat; memperkuat kerja sama lintas sektor antara pemerintah, Bank Indonesia, dunia perbankan dan sektor swasta; mencegah timbulnya ketidapercayaan.

Menghilangkan budaya ego sentris dan juga kebiasaan; dalam kaitannya dengan upaya menghadapi krisis keuangan AS, adalah memiliki pandangan politik yang nonpartisan serta mengedepankan kepentingan rakyat di atas kepentingan golongan maupun pribadi, termasuk dalam kebijakan-kebijakan politik; dan meminta semua pihak melakukan komunikasi yang tepat dan baik pada masyarakat.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau