Mau Selamat, Pakai Buatan Negeri Sendiri!

Kompas.com - 08/10/2008, 18:56 WIB

JAKARTA, RABU - Salah satu trik untuk menyelamatkan diri dari terjangan badai krisis finansial global adalah berani bersikap tidak silau sama buatan asing. Nah, salah satu langkah pemerintah berkenaan dengan hal tersebut adalah menggalakkan kembali penggunaan produk dalam negeri sehingga pasar domestik akan bertambah kuat.

Hal itu dikatakan Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Industri, Teknologi dan Kelautan, Rachmat Gobel, di Jakarta, Rabu (7/10). 

"Untuk itu, perlu sosialisasi terhadap langkah tersebut yang diikuti dengan perluasan penerapan SNI wajib secara lebih tegas guna mengurangi masuknya barang impor tidak berkualitas dan menekan barang selundupan," katanya
     
Rachmat mengatakan prihatin atas masih minimnya penerapan SNI wajib di Indonesia. Berdasarkan survei Badan Pusat Statistik (BPS) pada  2007 penerapan SNI atas barang yang beredar di Indonesia hanya mencapai 9,8 persen, sehingga produk asing dengan mudah masuk ke pasar dalam negeri.
    
Lebih jauh ia menilai peluang investasi justru semakin besar dengan adanya krisis global saat ini. Menurut dia, krisis keuangan yang terjadi saat ini justru mengingatkan investor bahwa risiko investasi melalui sekuritas sangat tinggi. "Pemilik dana akan kembali melihat peluang di sektor investasi langsung, dan ini kesempatan emas bagi Indonesia," katanya.
    
Oleh karena itu, menurut dia, penting bagi kita segera memperbaiki iklim investasi yang mampu bersaing dengan negara lainnya. Perbaikan yang diharapkan cepat, kata dia, antara lain infrastruktur dan harmonisasi peraturan investasi.
   
Rachmat menilai selama ini peraturan yang terkait investasi masih belum harmonis. Sehingga, PP No 1/2007 yang memberikan insentif fiskal kepada investor di daerah tertentu dan sektor tertentu pun tidak mampu menarik banyak investor khususnya asing.
    
Dari 58 perusahaan yang mengajukan insentif fiskal sesuai peraturan itu,  kata Rachmat, hanya sekitar 50 perusahaan yang mendapatkannya. "Itu terjadi karena tidak selarasnya peraturan di BKPM dengan Departemen Keuangan," katanya.
   
Oleh karena itu, Rachmat menyerukan agar momentum krisis keuangan dimanfaatkan pejabat pemerintah dari pusat sampai daerah untuk memperbaiki iklim investasi lebih serius lagi agar peluang yang ada bisa dimanfaatkan secara optimal.
   
Sedangkan, Rachmat menilai, peluang di bidang ekspor masih cukup besar meskipun negara tujuan utama seperti Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Jepang tengah menghadapi krisis keuangan. "Masih ada peluang di negara-negara Asia seperti China, India, kawasan Timur Tengah dan Rusia. Karenanya, diversifikasi pasar dan produk ekspor harus segera dilakukan," katanya.
     
Salah satu potensi diversifikasi yang sangat memungkinkan adalah produk berbasis budaya atau produk yang berasal dari sektor ekonomi kreatif yang banyak dikembangkan usaha kecil dan menengah (UKM). Pasar Kawasan Timur Tengah misalnya, selama ini lebih banyak dinikmati oleh China dan India. Padahal, kata dia,  dari sisi budaya kawasan ini lebih dekat dengan Indonesia.
    
"Peluang ke Timur Tengah sangat besar, tidak hanya untuk ekspor tapi juga untuk menarik dana petro dollar yang melimpah. Ini yang harus segera digarap," kata Rachmat yang tengah mengembangkan jaringan bisnis di kawasan tersebut.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau