JAKARTA, RABU - Salah satu trik untuk menyelamatkan diri dari terjangan badai krisis finansial global adalah berani bersikap tidak silau sama buatan asing. Nah, salah satu langkah pemerintah berkenaan dengan hal tersebut adalah menggalakkan kembali penggunaan produk dalam negeri sehingga pasar domestik akan bertambah kuat.
Hal itu dikatakan Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Industri, Teknologi dan Kelautan, Rachmat Gobel, di Jakarta, Rabu (7/10).
"Untuk itu, perlu sosialisasi terhadap langkah tersebut yang diikuti dengan perluasan penerapan SNI wajib secara lebih tegas guna mengurangi masuknya barang impor tidak berkualitas dan menekan barang selundupan," katanya
Rachmat mengatakan prihatin atas masih minimnya penerapan SNI wajib di Indonesia. Berdasarkan survei Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2007 penerapan SNI atas barang yang beredar di Indonesia hanya mencapai 9,8 persen, sehingga produk asing dengan mudah masuk ke pasar dalam negeri.
Lebih jauh ia menilai peluang investasi justru semakin besar dengan adanya krisis global saat ini. Menurut dia, krisis keuangan yang terjadi saat ini justru mengingatkan investor bahwa risiko investasi melalui sekuritas sangat tinggi. "Pemilik dana akan kembali melihat peluang di sektor investasi langsung, dan ini kesempatan emas bagi Indonesia," katanya.
Oleh karena itu, menurut dia, penting bagi kita segera memperbaiki iklim investasi yang mampu bersaing dengan negara lainnya. Perbaikan yang diharapkan cepat, kata dia, antara lain infrastruktur dan harmonisasi peraturan investasi.
Rachmat menilai selama ini peraturan yang terkait investasi masih belum harmonis. Sehingga, PP No 1/2007 yang memberikan insentif fiskal kepada investor di daerah tertentu dan sektor tertentu pun tidak mampu menarik banyak investor khususnya asing.
Dari 58 perusahaan yang mengajukan insentif fiskal sesuai peraturan itu, kata Rachmat, hanya sekitar 50 perusahaan yang mendapatkannya. "Itu terjadi karena tidak selarasnya peraturan di BKPM dengan Departemen Keuangan," katanya.
Oleh karena itu, Rachmat menyerukan agar momentum krisis keuangan dimanfaatkan pejabat pemerintah dari pusat sampai daerah untuk memperbaiki iklim investasi lebih serius lagi agar peluang yang ada bisa dimanfaatkan secara optimal.
Sedangkan, Rachmat menilai, peluang di bidang ekspor masih cukup besar meskipun negara tujuan utama seperti Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Jepang tengah menghadapi krisis keuangan. "Masih ada peluang di negara-negara Asia seperti China, India, kawasan Timur Tengah dan Rusia. Karenanya, diversifikasi pasar dan produk ekspor harus segera dilakukan," katanya.
Salah satu potensi diversifikasi yang sangat memungkinkan adalah produk berbasis budaya atau produk yang berasal dari sektor ekonomi kreatif yang banyak dikembangkan usaha kecil dan menengah (UKM). Pasar Kawasan Timur Tengah misalnya, selama ini lebih banyak dinikmati oleh China dan India. Padahal, kata dia, dari sisi budaya kawasan ini lebih dekat dengan Indonesia.
"Peluang ke Timur Tengah sangat besar, tidak hanya untuk ekspor tapi juga untuk menarik dana petro dollar yang melimpah. Ini yang harus segera digarap," kata Rachmat yang tengah mengembangkan jaringan bisnis di kawasan tersebut.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang