KEDIRI, RABU - Sejumlah pemain Persik Kediri mulai gelisah mendengar desas-desus bahwa manajemen tim kesebelasan ini akan menjual beberapa pemain kepada tim lain.
"Anak-anak sudah mulai banyak yang gelisah dengan kabar penjualan pemain yang kian santer itu," kata Pelatih Persik, Arcan Iurie di Kediri, Rabu (8/10).
Menurut dia, seharusnya manajemen bisa menunda rencana penjualan pemain Persik itu hingga kompetisi Liga Super Indonesia 2008 benar-benar usai. "Jangan dilakukan di tengah kompetisi karena mental anak-anak pasti akan terpengaruh. Padahal kami masih harus melakukan banyak pertandingan lagi," kata pelatih berkebangsaan Moldova yang sudah fasih berbahasa Indonesia itu.
Pada 11 Oktober 2008, Persik harus melakoni pertandingan kandangnya melawan Arema Malang di Stadion Gelora Delta Sidoarjo. Mereka terpaksa memilih stadion di Sidoarjo karena kepolisian tak memberikan jaminan keamanan jika pertandingan itu berlangsung di Stadion Brawijaya Kediri.
Selanjutnya, Persik masih harus melakukan tur maut di Papua menghadapi Persipura Jayapura pada 15 Oktober dan Persiwa Wamena empat hari kemudian. "Tiga pertandingan itu sudah berat, mental pemain masih dibebani rencana penjualan pemain," tambah Arcan.
Kabar penjualan pemain Persik merebak setelah manajemen klub mengalami masalah keuangan. Selama tiga bulan para pemain Persik belum menerima gaji penuh. Begitu pula pada hari raya Idul Fitri, mereka juga tidak mendapatkan tunjangan hari raya (THR) seperti tahun sebelumnya. Meski demikian, pelatih dan stafnya tetap meminta agar pemain tetap berkonsentrasi pada pertandingan.
"Saya juga lebih sering melakukan pendekatan kepada para pemain agar tetap tenang dan tetap konsentrasi dalam setiap pertandingan," kata Asisten Pelatih Persik, Harianto. Ia menyadari kondisi keuangan Persik saat ini. "Sebenarnya, masalah keuangan ini tidak hanya dialami Persik, tetapi tim lain yang selama ini menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)," ujarnya.
Sementara itu, Manajer Persik, Iwan Budianto, memastikan adanya penjualan pemain, baik lokal maupun asing, pada jeda kompetisi Liga Super Indonesia 2008. "Memang kondisi keuangan kami seperti ini adanya. Bantuan pendanaan dari APBD hanya 30 persen dari bantuan yang kami terima tahun sebelumnya," kata Iwan yang kini sibuk berkampanye sebagai calon Wali Kota Kediri itu.
Bantuan dana dari pihak swasta sampai sekarang belum juga mengucur, termasuk dari perusahaan rokok PT Gudang Garam yang sebelumnya menjadi donatur tetap. Sekretaris Umum Persik, Barnadi, meminta para pemainnya untuk berbesar hati menerima keputusan yang bakal diambil manajemen pada jeda kompetisi nanti. (ANT)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang