JAKARTA, KAMIS - Gabungan Elektronik (Gabel) memperkirakan nilai ekspor produk elektronik turun sekitar 5-10 persen pada tahun ini dan tahun depan menyusul krisis keuangan di Amerika Serikat (AS) yang berdampak ke negara-negara lainnya.
"Sejak 2006 ekspor produk elektronik Indonesia telah mengalami penurunan. Dampak krisis keuangan di AS akan semakin menurunkan ekspor produk elektronik kita mencapai sekitar 10 persen," kata Ketua Umum Gabel, Rachmat Gobel, di Jakarta, Kamis (9/10).
Penurunan ekspor produk elektronik terjadi, kata dia, tidak hanya ke pasar AS, tetapi juga negara-negara lain yang terkena dampak krisis di AS, serta mengandalkan ekonomi dan ekspornya kepada negara adi daya itu.
"Nilai ekspor produk elektronik Indonesia ke AS sendiri tidak besar. AS merupakan negara tujuan utama ekspor ketiga terbesar setelah Singapura dan Jepang," ujar Rachmat.
Berdasarkan data Gabel, kontribusi ekspor produk elektronik ke AS hanya sekitar 8,04 persen atau mencapai sekitar 589 juta dollar AS pada 2007. Sedangkan Singapura memberi kontribusi ekspor elektronik sebesar 37, 28 persen atau senilai 2,73 miliar dollar AS dan Jepang sebesar 11,81 persen atau sekitar 865,5 juta dollar AS.
Sebagian besar produk yang diekspor ke AS adalah produk digital, seperti pemutar DVD, video camera, printer, semi konduktor, dan lain-lain.
Adapun negara tujuan ekspor lainnya dari produk elektronik Indonesia adalah Hong Kong (5,15 persen), China (4,69 persen), Jerman (2,97 persen), Belgia (2,95 persen), Malaysia (2,83 persen), Belanda (2,48 persen), dan Korea Selatan (2,08 persen).
Rachmat mengatakan, nilai ekspor produk elektronik Indonesia cenderung menurun sejak 2006. Pada 2006 nilai ekspor produk elektronik Indonesia mencapai sekitar 7,99 miliar dollar AS atau turun dibandingkan tahun 2005 yang mencapai 8,89 miliar dollar AS. Pada 2007 nilai ekspor produk elektronik Indonesia kembali turun menjadi sekitar 7,33 miliar dollar AS.
Menurut dia, penurunan tersebut terjadi akibat tidak ada pengembangan teknologi baru yang memberi nilai tambah lebih tinggi kepada industri elektronik Indonesia. Sehingga, pemerintah perlu secara cepat membuat kebijakan kongkrit yang mendorong investasi teknologi terbaru, khususnya digital.
"Industri elektronik yang ada di Indonesia sebagian besar merupakan hasil relokasi. Kalau Indonesia mengandalkan industri elektronik yang bersifat relokasi, akan kalah bersaing dengan Vietnam dan India untuk menarik investasi," ujar Rachmat yang juga Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Industri Teknologi dan Kelautan itu.
Oleh karena itu, menurut dia, Pemerintah harus membuat kebijakan insentif yang lebih maju untuk mendorong pengembangan teknologi yang lebih maju di bidang elektronik. Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 1 Tahun 2007 yang memberi insentif fiskal kepada industri tertentu dan daerah tertentu, dinilainya, masih belum cukup mendorong investasi teknologi elektronik terbaru.
"Kalau pemerintah ingin ekspor elektronik menggeliat kembali, maka harus ada insentif yang lebih maju dibandingkan negara pesaing kita seperti Vietnam, China, dan India," kata Rachmat.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang