Pembangunan Jembatan Suramadu Masih Terganjal Dana

Kompas.com - 09/10/2008, 20:48 WIB

SURABAYA, KAMIS - Total perkembangan pembangunan proyek jembatan Suramadu hingga akhir September 2008 mencapai 87,22 persen. Pembangunan jembatan terpanjang se Indonesia dengan panjang 5,4 kilometer tersebut masih terkendala pencairan dana segar dan persoalan pembebasan lahan.

Kepala Satuan Kerja Sementara Pembinaan Teknik Pembangunan Jembatan Suramadu, Yudha Handita, Kamis (9/10) di Surabaya mengatakan, pembangunan bentang tengah terhambat karena terjadi keterlambatan pencairan dana. Kekurangan dana akhirnya menyebabkan pembangunan approach bridge (jembatan pendekat) sisi Surabaya oleh pihak Consortium of Indonesian Contractors atau CIC sepanjang 672 meter melambat.

Keterlambatan disebabkan belum cairnya dana pinjaman tambahan (additional loan) dari Bank Exim China. Karena itu, Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersedia menalangi dana sementara melalui Bank Jatim Rp 50 miliar agar pembangunan kembali berjalan. "Kami akan terus melihat detil pembangunan, khususnya persiapan pembangunan pada saat musim hujan tiba yang dikhawatirkan mengganggu proyek," kata Yudha.

Sementara itu Kepala Satuan Kerja Pembangunan Jembatan Suramadu Bentang Tengah, Atyanto Busono mengungkapkan pembangunan bentang tengah Jembatan Suramadu hingga akhir September mencapai 81,01 persen. Rincian realisasi pembangunan bentang tengah, yaitu 76,66 persen untuk pembangunan jembatan pendekat sisi Surabaya, 83,97 persen pada jembatan utama, dan 76,61 persen untuk jembatan pendekat sisi Madura.

Di bagian jembatan pendekat saat ini sedang pasang concrete box girder (balok beton penopang)dan di bagian jembatan utama dipasang steel box girder (balok baja penopang). Dari total panjang jembatan utama 818 meter, saat ini telah terpasang balok baja penopang sepanjang 556 meter.

Atyanto mentargetkan pemasangan balok baja penopang selesai sekitar bulan Januari sedangkan balok beton penopang selesai dipasang bulan Februari. "Pembangunan jembatan pendekat sisi Madura akan selesai sekitar bulan Februari dan sisi Surabaya bulan Maret," tambahnya.

Pinjaman tambahan terlambat

Terhambatnya pembangunan bentang tengah Suramadu disebabkan terlambatnya pencairan dana pinjaman tambahan dari Bank Exim China. "Rencananya penandatangan pencairan dana pada pertengahan September 2008 tetapi mundur hingga pertengahan Oktober 2008," kata Atyanto.

Menurut Atyanto, pihak Bank Exim China pada akhir September lalu datang ke proyek untuk melalukan pengamatan langsung dan mendata kelengkapan surat. Karena itu, pertengahan Oktober mendatang, pencairan dana diharapkan benar-benar terlaksana.

Sementara itu, persoalan pembebasan lahan baik di sisi Surabaya maupun Madura juga menjadi permasalahan pokok. Pimpinan Proyek Pembebasan Lahan Tanah Sisi Surabaya Tutuk Suryojatmiko mengatakan, hingga awal September lalu, realisasi pembebasan tanah di Surabaya telah mencapai 99,57 persen dengan jumlah tanah yang belum terbebaskan 637 meter persegi. Sedangkan kemacetan pembebasan lahan terbesar terjadi di sisi Madura yang macet sejak tahun 2005 karena masyarakat meminta ganti rugi lebih besar dari penawaran pemerintah sebesar Rp 35.000 per meter persegi.

Di sisi Surabaya, jalan pendekat yang harus dibebaskan sepanjang 4,35 kilometer dan di sisi Madura sepanjang 11,50 kilometer.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau