Melongok Bekas Kediaman Obama di Jakarta

Kompas.com - 10/10/2008, 01:51 WIB

SETELAH 3 tahun tinggal di kawasan Menteng Dalam, Tebet, Jakarta Selatan, pada awal tahun 1970 Barry kecil bersama keluarga akhirnya pindah ke sebuah rumah paviliun di Jalan Taman Amir Hamzah No 22, Kelurahan Pegangsaan, Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat.

Tempat tinggal Barry dan keluarga kali ini bukanlah rumah atau tempat tinggal utama yang sebenarnya. Rumah yang mereka tempati ini sebenarnya hanyalah sebuah paviliun dari rumah induk yang ditempati sang pemiliknya yakni Tata Aboe Bakar, seorang pensiunan TNI Angkatan Laut tahun 1981.

Menurut pemilik rumah, Tata Aboe Bakar (78), keluarga Lolo Soetoro beserta Barry pindah ke rumah tersebut ketika Ann Dunham sedang mengandung. "Menurut Lolo Soetoro, alasan mereka pindah ke paviliuan kami karena ingin lebih nyaman untuk tempat istrinya Ann Dunham melahirkan anak mereka," katanya.

Ia mengatakan, Lolo Soetoro menyewa rumah tersebut dengan cara membayar setiap bulan. Namun, ia mengaku tak ingat berapa harga sewa rumah paviliun itu saat disewakan kepada keluarga Lolo Soetoro, ayah tiri Barry.

Ketika Warta Kota mendatangi rumah dengan alamat di Jalan Taman Amir Hamzah No 22, Pegangsaan, Menteng, Jakarta Pusat, sempat bingung. Sebab ada dua bangunan rumah yang terpisah namun berada di dalam satu gerbang atau satu pagar pintu masuk.

Rumah di sebelah kiri agak besar dan lebih dekat dengan gerbang pintu masuk. Di rumah induk inilah pemilik rumah tinggal. Sedangkan rumah lainnya ukurannya agak kecil terletak di sebelah kanan dan agak menjorok ke dalam. Untuk mencapai rumah itu, mesti melewati satu pintu gerbang satu rumah lagi yang disewa Lolo Soetoro bersama keluarga. Di rumah atau paviliun inilah Barry kecil sempat tinggal.

Baik rumah induk maupun paviliun tempat Barry tinggal memiliki tipe bangunan yang hampir sama. Bedanya rumah induk lebih besar dan tidak terlalu berbentuk mengerucut seperti rumah tempat tinggal Barry. Luas rumah dan paviliun ini 1200 meter persegi.

Yang membuat bangunan khas adalah jendela kotak terbagi empat simetris berukuran 1X2 meter di samping rumah tampak sebagai penanda bahwa ini adalah bangunan tua zaman dulu. Tata Aboe Bakar mengungkapkan bentuk bangunan rumah dan paviliunnya itu masih seperti bentuk aslinya ketika dibangun pada tahun 1939. Menurutnya desain bangunannya adalah bangunan rumah-rumah Belanda zaman itu.

Paviliun tempat Barry tinggal memiliki dua kamar tidur dengan ruang tamu, ruang keluarga dan halaman rumah yang dipenuhi banyak tanaman dalam pot. Sebelah kanan rumah menempel langsung dengan dinding pemisah rumah di sebelahnya. Sedangkan di sebelah kiri rumah dibatasi dengan pagar pemisah sebagai pembatas dengan rumah induk. Menurut Tata, hanya satu tahun saja Barry tinggal di rumah tersebut. Sebab setelah ibu Barry, Ann

Dunham, melahirkan Maya, adik kandung Barry, keluarga Lolo Soetoro hijrah kembali ke Hawaii pada awal tahun 1971. "Hanya setahun mereka tinggal di sini dan tak banyak yang saya ingat tentang Barry," ujarnya.

Tata mengatakan di rumah paviliun inilah adik tiri Barry yakni Maya dilahirkan. Seorang dokter kandungan datang ke rumah itu ketika ibu tiri Barry akan melahirkan Maya.

Seingat Tata, Barry yang saat itu berusia 9 tahun adalah anak yang lincah dan memiliki binatang kesayangan seekor anjing pudel berwarna putih. Pada saat tinggal di rumah paviliun tersebut, Barry bersekolah di SDN 01 Menteng di Jalan Besuki, Menteng, Jakarta Pusat. "Barry pintar berbahasa Indonesia. Sepertinya ia lebih fasih berbahasa Indonesia dibandingkan ibunya," kata Tata.

Ia mengungkapkan selain bangunan rumah masih sama seperti aslinya saat keluarga Barry tinggal di rumah itu, ada satu sofa dari kayu jati yang kerap menjadi tempat bercengkerama Lolo Soetoro sekeluarga. "Sofa kayu jatinya masih ada. Mereka sekeluarga sering duduk-duduk di sofa itu termasuk Barry. Bahkan kadang Barry tertidur di pangkuan ibunya di sofa kayu itu," ujarnya.

Karena merupakan rumah tua yang masih tampak asli dan sama sekali belum pernah direnovasi, rumah dan paviliun milik Tata Aboe Bakar di Jalan Taman Amir Hamzah No 22, Pegangsaan, Menteng Jakarta Pusat ini pada tanggal 30 Agustus 2008 mendapat Anugerah Cagar Budaya 2008 Bidang Pelestarian Bangunan Cagar Budaya oleh Gubernur DKI Fauzi Bowo.

Menurut Tata, setelah diketahui bahwa paviliun rumah miliknya pernah ditinggali kandidat capres Barrack Obama, sudah banyak wartawan dalam dan luar negeri yang datang dan melihat langsung rumah yang pernah ditinggali oleh Barrack Obama ketika masih kecil.

Bukan itu saja, bahkan sudah 2 orang yang berasal dari Amerika Serikat datang dan sempat menanyakan apakah rumah seluas 1.200 meter persegi tersebut dijual. "Saya jawab, kalau harganya cocok oke saja," kata Tata.

Kedua-duanya bahkan mengaku berani membayar harga rumah tersebut 5 kali lipat dari harga normalnya. Namun dengan catatan apabila Barrack Obama menang dalam pemilihan calon Presiden Amerika Serikat.

Tata mengatakan orang Amerika Serikat pertama dan yang kedua datang untuk menanyakan harga rumahnya itu, kedua-duanya mengaku adalah orang suruhan dari bos mereka.

"Saya belum mencari tahu berapa harga normal atau harga NJOP tanah disini. Tapi semua orang juga tahu, bila harga tanah disini termasuk yang paling mahal di Jakarta. Jadi saya belum bisa mengira-ngira berapa harga normal rumah dan tanah saya ini," katanya.

Walaupun begitu, lanjut Tata, apabila Barrack Obama menang dalam pemilihan Presiden Amerika Serikat dan menjadi Presiden Amerika Serikat, maka ia akan mencari tahu harga normal atau harga NJOP rumah miliknya tersebut. "Sebab kalau benar orang Amerika Serikat itu mau beli dengan harga 5 kali lipat, maka kemungkinan besar akan saya jual. Sebab kami tak mau munafik dan masih butuh banyak uang untuk keluarga," katanya.

Menurut Tata, pada tahun 1939 ketika ayahnya baru membangun rumah tersebut, dana yang dibutuhkan untuk merampungkan rumah dan paviliunnya itu adalah 930.000 gulden (mata uang Belanda)."Mungkin dari harga itu bisa dikira-kira berapa harganya sekarang," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau