Ketakutan Gallas pada Mr. Bean

Kompas.com - 10/10/2008, 03:37 WIB

LONDON, JUMAT - Setiap orang yang mengenal Mr. Bean akan menganggapnya sebagai tokoh lucu, kadang konyol. Namun, bek tengah Arsenal William Gallas justru takut terhadap tokoh yang diperankan oleh Rowan Atkinson itu.

Dengan lelucon tanpa suara ala Charlie Caplin, gaya Atkinson memerankan Mr. Bean sering kali membuat penonton terpingkal-pingkal. Sikapnya yang lugu seperti anak-anak, kadang jorok dan seenaknya, sering membawa kesialan bagi dirinya sendiri. Inilah yang ditakutkan oleh Gallas. Ia tidak mau teman-temannya menganggapnya sebagai Mr. Bean dari Perancis.

Beberapa waktu lalu, gelandang Paris St. Germain, Jerome Rothen sempat memanggilnya dengan sebutan Pierre Richard, aktor Perancis yang sama konyolnya dengan Mr. Bean. Sebutan itu ia berikan karena menganggap Gallas sebagai seorang pecundang dan bahan ledekan.

Dalam bukunya yang berjudul You’re Not Going To Believe Me, Rothen juga menyebutkan bahwa Gallas juga pernah mencuri kartu ATM milik temannya dan mengambil uang sebesar 1.500 franc Perancis (senilai Rp2,5 juta) dari rekening tersebut. Peristiwa itu terjadi kurang lebih 14 tahun lalu ketika Gallas masih bermain di Caen.

"Itulah Gallas yang sebenarnya, disukai banyak orang tapi selalu tertangkap basah," cerita Rothen dalam bukunya. "Aku tidak mengira William Gallas akan bercerita kepadaku bagaimana ia menjadi seorang yang putus asa."

"Di sekolah dia selalu duduk di deretan belakang, sejauh mungkin dari papan tulis. Suatu hari guru matematika kami memberikan ujian. Dia tahu William tidak paham matematika sama sekali, sehingga dia mengizinkannya membuka buku. Namun, meski sudah menempelkan buku di hidungnya dia tetap mendapat nilai empat dari rentang nilai 20."

Soal pencurian uang tadi, Rothen kemudian menuliskan, "Suatu petang, Eric Sitruk (pelajar yang lain) masuk ke kamarku dan berteriak, 'Seorang telah mencuri kartu ATM-ku dan mengambil 1.500 franc'. Dengan marah, ia menuduh kami berlima. Itu wajar karena kami semua sangat dekat, masing-masing dari kami memiliki kunci kamar teman-teman kami dan tahu kode kartu ATM mereka sehingga kami dapat meminjam uang satu sama lain. Keesokan hari, Eric pergi ke bank dan kamera pengintai memperlihatkan orang yang menggunakan kartunya."

Setelah itu, Sitruk datang menemui teman-temannya dan hendak menguji kejujuran mereka. "Dia bilang, 'Aku tahu siapa yang bersalah'. Itu hanya semacam gertakan. Namun, satu jam kemudian, William mengetuk pintunya dan mengakui kesalahannya," tulis Rothen lagi.

Gallas membenarkan semua kejadian itu, tapi ia hendak meluruskan bahwa ia tidak seperti yang dituduhkan Rothen. Ia menganggap sebutan seperti itu hanyalah upaya pembunuhan karakter yang ditujukan kepadanya.

"Ya, aku pernah dijuluki seperti itu, tapi itu ketika kami berusia 16 atau 17 tahun. Sekarang aku sudah berkeluarga dan menjadi bapak, dan aku tidak suka cerita itu dibocorkan," kata pemain berusia 31 tahun tersebut seperti dikutip The Mirror.

Kapten Arsenal itu ingin sekali menceritakan kisah sebenarnya tentang pencurian uang tersebut. Namun, ia ingin melakukannya dalam sebuah wawancara di televisi agar semua orang tahu alasan yang sebenarnya.

"Teman baikku, David Sommeil, mengalami kecelakaan dan aku belum pernah menemuinya lagi. Anakku sudah lahir dua bulan sebelumnya, aku tidak ingin mengomentari apa yang dituliskan oleh Jerome," kenang Gallas. "Aku akan meresponsnya jika aku ingin. Aku ingin melakukannya lewat siaran televisi sehingga setiap orang tahu apa yang kurasakan. Apa yang ditulisnya benar. Namun, dia tidak seharusnya melakukan itu."

Semoga Gallas melakukan itu untuk tujuan baik dan segera meluruskan kejadian buruk ini. Dan, lebih penting lagi, ia sudah mengakui kesalahannya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau