Selamat Datang "Wali Nanggroe"

Kompas.com - 11/10/2008, 07:36 WIB

Oleh MARULI TOBING

Dua pekan menjelang akhir November 1999, tersebar isu di Aceh bahwa Dr Teungku Hasan di Tiro akan kembali ke Aceh menghadiri peringatan HUT ke-23 Gerakan Aceh Merdeka atau GAM. Menurut isu tersebut, Hasan Tiro transit di Singapura dan melanjutkan perjalanan ke Aceh dengan mencarter pesawat terbang kecil.

Sebelum mendarat di Aceh, pesawatnya akan berkeliling lebih dulu. Di atas Meulaboh-Lamno pesawat itu akan terbang rendah agar ia dapat melihat lebih jelas, apakah masyarakat masih mengibarkan bendera GAM sebagai bukti dukungan terhadap perjuangan Aceh merdeka.

Tidak jelas siapa yang menyebarkan informasi ini. Aparat pemerintah maupun keamanan mengimbau agar masyarakat tidak terpengaruh isu tersebut. Sebaliknya, masyarakat justru menuding aparat pemerintah gemar berbohong.

Warga yang bermukim di tepi jalan antara Meulaboh dan Lamno, khususnya Calang-Panga sepanjang puluhan kilometer, kontan membabat segala tanaman di pekarangan rumahnya maupun pohon-pohon di pinggir jalan. Mereka kemudian mengibarkan bendera GAM dengan harapan Hasan Tiro dapat jelas melihatnya dari udara.

Peristiwa ini menunjukkan betapa besarnya skala wibawa Hasan Tiro di Aceh. Dan, peristiwa ini hanyalah salah satu dari sederet kejadian yang pernah terjadi. Padahal, pemimpin GAM itu sendiri tidak muncul di Aceh, bahkan pada 4 Desember 1999, karena memang tidak ada rencana untuk itu.

Melampaui wibawa pemerintah

Namun, hal yang luar biasa, kendati harus kerja bakti dan tanaman mereka ludes dibabat, sedikit pun tidak ada rasa kecewa masyarakat yang bermukim di sepanjang jalan Calang-Panga. Sebaliknya, mereka justru menyalahkan diri sendiri dengan mengatakan, perjalanan Hasan Tiro dibatalkan akibat persiapan pengamanan oleh rakyat belum memadai.

Inilah sosok karisma Teungku Hasan Tiro di Aceh. Walaupun sejak awal 1950 bermukim di AS dan kemudian kembali ke Aceh selama periode 1976-1979, ia adalah orang yang paling berpengaruh dan dihormati. Wibawanya bahkan mengalahkan pemerintah daerah maupun pusat.

Saat ini saja menjelang keberangkatannya ke Aceh dari Malaysia, berjubel tokoh masyarakat Aceh maupun warga biasa yang menjenguknya di salah satu hotel di Shah Alam, Selangor. Sebagian besar dari mereka datang secara khusus dari Aceh.

Di antaranya termasuk Gubernur Aceh Irwandi Yusuf, para bupati, Ketua MUI NAD Prof Dr Muhibuddin Wali, dan para ulama seperti Teungku Muhammad Ali Basyah, Teungku Marhaban, dan seterusnya.

Antara ada dan tiada

Dr Teungku Muhammad Hasan di Tiro adalah sosok imajinasi dalam kesadaran masyarakat Aceh. Mereka hanya mendengar kisah sepak terjang cicit Teungku Chik di Tiro ini dan tidak pernah melihat atau bertemu wujud aslinya. Kalaupun ada beberapa orang yang pernah bertemu, ini menjadi status sosial dalam masyarakatnya.

Selaras dengan doktrin kerahasiaan yang ditanamkannya dalam GAM, Hasan Tiro memang menutup diri. Ia hanya menerima kunjungan tokoh-tokoh kunci dalam organisasi. Dalam pandangan Hasan Tiro, kerahasiaan adalah metode mempertahankan keberadaan organisasi bawah tanah.

Alhasil, Hasan Tiro muncul dalam imajinasi masyarakat sebagai sosok misteri, antara ada dan tiada. Maka, tidak mengejutkan jika setiap menjelang HUT GAM kerap muncul dalam berbagai versi isu akan kembalinya Hasan Tiro. Celakanya, masyarakat Aceh selalu percaya karena isu tersebut mereka produksi sendiri di bawah sadar.

Masalahnya menjadi jelas jika diletakkan dalam konteks Aceh. Masyarakat di pedalaman khususnya, sejak lama mendengar kisah perjuangan dan pengorbanan Hasan Tiro. Wajar jika di tengah suasana konflik bersenjata yang begitu keras selama 29 tahun, mereka mendambakan kehadiran pemimpin demikian.

Disadari atau tidak, akumulasi memori yang terpendam ini lama-kelamaan berproses dan melahirkan sejenis khayalan mengenai kehadiran sang pemimpin. Contoh lainnya adalah Hikayat Perang Sabil yang hidup dalam alam kesadaran masyarakat Aceh, memproduksi imajinasi dan nilai-nilai kepahlawanan yang membangkitkan perlawanan.

Dari New York belantara

Akan halnya Hasan Tiro sendiri adalah sosok rasional dengan otak cemerlang. Lahir di Pidie tahun 1925 dan dalam usia 20-an tahun sudah menulis beberapa buku. Antara lain, Mencapai Perjuangan, isinya membandingkan perjuangan revolusi di negara-negara Amerika Selatan dan Turki. Selain itu, ia juga menulis buku tentang agama Islam dan Perang Aceh.

Sempat kuliah ilmu hukum di UII, Hasan Tiro melanjutkan pendidikan di AS tahun 1950-an. Ia memperoleh gelar doktor dalam bidang hukum internasional dari Colombia University. Selama kuliah di AS, ia sempat menjadi pejabat penerangan KBRI Washington.

Perubahan besar terjadi dalam pandangan hidupnya setelah PM Ali Sastroamidjojo menolak menghentikan peledakan bom desa-desa di Aceh dan provinsi lain, dalam operasi militer menumpas perlawanan DI/TII. Hasan Tiro akhirnya memutuskan keluar dari KBRI dan menyatakan dirinya sebagai Menlu DI/TII.

Selama menetap di New York, Hasan Tiro banting setir menjadi pengusaha dan sukses. Ia menikah dengan wanita AS serta dikaruniai seorang putra. Dalam bukunya, The Price of Freedom: The Unfinished Diary of Tengku Hasan Di Tiro (1984), ia menulis, walaupun hidup di tengah kemewahan bersama anak dan istri yang cantik, usaha bisnis yang sukses, terbang ke berbagai negara menemui rekan-rekan bisnis, pikirannya selalu melambung ke Aceh. Dan, tidak satu pun rekan bisnisnya maupun keluarga yang tahu hal ini.

Hasan Tiro akhirnya memutuskan kembali ke Aceh. Dengan menumpang perahu nelayan dari Malaysia, ia mendarat di pantai utara Aceh, 30 Oktober 1976 sekitar pukul 08.30. Dari sini ia berangkat ke kawasan hutan di Gunung Seulimeun, dekat kampung halamannya di Tiro, untuk memimpin belasan orang gerilyawan.

Ia mendeklarasikan kembali kemerdekaan Aceh, 4 Desember 1976, dan mendirikan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) sebagai bentuk pemerintahan darurat. Ia cedera dalam suatu penyergapan TNI di kawasan hutan antara Tangse dan Tiro. Namun, ia berhasil diselamatkan pendukungnya dari penangkapan TNI saat itu.

Pada tahun itu juga Hasan Tiro meninggalkan Aceh menuju Malaysia melalui jalur laut. Ia kecewa terhadap AS yang tidak memenuhi janjinya mengirim senjata. Hasan Tiro kemudian pindah ke Swedia. Rezim Soeharto sedikitnya tiga kali mengumumkan Hasan Tiro tewas. Dua kali dalam operasi militer TNI dan sekali karena sakit di AS.

Direncakan akan tiba

Pada masa maraknya konflik, tidak satu warga pun berani mengucapkan nama Hasan Tiro di tempat umum. Mereka hanya berbisik menyebut ”Wali Nanggroe’’ (wali negara, posisi kepemimpinan Hasan Tiro). Pada masa hidupnya, untuk menunjukkan rasa hormat, Panglima Perang GAM Teungku Abdullah Syafei malah selalu menggunakan kata ”Paduka yang Mulia Dr Teungku Muhammad Hasan di Tiro”.

Badai konflik telah berlalu di Aceh. Perdamaian berhasil menghentikan nyalak senjata selama tiga tahun ini. Kini kehidupan berjalan normal setelah 29 tahun tercabik-cabik oleh rangkaian kontak senjata, pembunuhan, pembakaran rumah-rumah penduduk, penangkapan, dan penyiksaan.

Akan tetapi, sebagian masyarakat masih tetap waswas, bahkan ada yang masih menyimpan senjata api. Sebelum menyaksikan secara langsung kehadiran Hasan Tiro, mereka tidak sepenuhnya percaya perdamaian itu akan abadi.

Sikap demikian akan lenyap karena Hasan Tiro direncanakan akan tiba di Bandara Sultan Iskandar Muda, Aceh Besar, siang ini. Memang, masih banyak warga tidak percaya dan mengatakan itu bukan Hasan Tiro asli, melainkan duplikatnya. Bisa dipastikan mereka akan terperanjat jika melihat kenyataan.

Dalam hal ini Pemerintah Indonesia seharusnya bersyukur atas kembalinya Hasan Tiro yang menyatakan kewajiban setiap warga Aceh mempertahankan perdamaian. Pernyataan bahwa Hasan Tiro adalah warga negara asing dan tidak diperlukan pengamanannya secara khusus jelas tidak pada tempatnya, provokatif, dan dapat mencederai perasaan rakyat Aceh.

Selamat datang Wali Nanggroe.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau