BANDA ACEH,SABTU-Proklamator Gerakan Aceh Merdeka Tengku Cik Hasan Muhammad di Tiro atau lebih dikenal dengan nama Hasan Tiro, langsung mengucapkan terima kasih dan rasa syukur untuk perdamaian yang telah berjalan di Aceh, sekembalinya dari pengasingan selama hampir 30 tahun di luar negeri.
Dalam pidato tertulis yang dibacakan mantan Perdana Menteri GAM Malik Mahmud, Hasan Tiro mengucapkan rasa terima kasih teristimewa untuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) atas komitmen Pemerintah Republik Indonesia menyelesaikan konflik Aceh secara damai.
Hasan Tiro kembali ke Aceh menggunakan pesawat carteran dari Malaysia, Sabtu (11/10). Sebelumnya selama sepekan Hasan Tiro dan rombongan berada di Malaysia. Rombongan Hasan Tiro menyewa dua pesawat dan mendarat di Bandara Sultan Iskandar Muda, Blang Bintang Aceh Besar sekitar pukul 11.30. Dia datang beserta mantan petinggi GAM antara lain Malik Mahmud , dr Zaini Abdullah, Zakaria Saman dan Muzakir Manaf. Begitu turun dari pesawat, Hasan Tiro langsung bersujud.
Di Banda Aceh, kedatangan Hasan Tiro untuk pertama kali ke Aceh sejak mengasingkan diri ke luar negeri sejak 29 Maret 1979 silam, disambut sangat meriah oleh ratusan ribu warga. Mereka mulai berdatangan sejak Jumat dari berbagai kabupaten terutama dari Pesisir Pantai Timur seperti Aceh Timur, Aceh Utara, Kota Lhokseumawe, Bireun hingga Pidie yang merupakan kampung halaman Hasan Tiro.
Dari bandara rombongan Hasan Tiro langsung menuju Masjid Raya Banda Aceh, pusat berkumpulnya ratusan ribu warga. Namun kondisi fisik dan usia Hasan Tiro tak memungkinkannya berbicara lama secara langsung dengan massa di hadapannya. Dia hanya berpidato secara singkat dalam Bahasa Aceh. "Assalamualaikum, saya sudah kembali ke Aceh.Allahu Akbar, " ujarnya. Selanjutnya, pidato tertulis Hasan Tiro dibacakan Malik.
Dalam pidato tersebut, berulang kali Hasan Tiro mengucapkan rasa syukur dan terima kasih atas perdamaian dan kebebasan yang kini bisa dinikmati rakyat Aceh. "Dalam kesempatan ini, teristimewa, saya ingin mengucapkan terimakasih kepada pihak Pemerintah Republik Indonesia yang tetap komitmen dengan isi-isi MoU Helsinki. Untuk ini saya menghargai kebijaksanaan dan tekad baik yang telah diambil oleh Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Bapak Jusuf Kalla, yang sejak awal tahun 2000, telah merintis jalan penyelesaian konflik berkepanjangan di Aceh, harus melalui perundingan bukan dengan cara kekerasan senjata," katanya.
Dia juga berpesan kepada rakyat Aceh agar tetap memelihara dan menjaga perdamaian secara menyeluruh. D ia mengingatkan untuk tidak berusaha menghancurkan perdamaian. "Kalau masih ada pihak-pihak yang menentang dan tidak menyetujui MoU Helsinki ,, maka saya menyerukan untuk kembali dan bersatu dengan rakyat Aceh yang sekarang sedang memelihara dan menikmati kedamaian dan kebebasan yang menyeluruh di bumi Aceh, ujarnya.
Hasan Tiro mengungkapkan, pengalaman konflik bersenjata di masa lalu telah banyak memakan korban rakyat Aceh. "Di dalam perang kita telah sangat banyak pengorbanan, akan tetapi, dalam kedamaian kita harus bersedia berkorban lebih banyak lagi. Memang, biaya perang sangat mahal akan tetapi biaya memelihara perdamain jauh lebih mahal. Peliharalah kedamaian ini untuk kesejahtraan kita semua ," katanya.
Warga yang hadir di Masjid Raya umumnya mengaku puas dapat bertemu langsung dengan Hasan Tiro yang mereka anggap sebagai wali nanggroe atau penerus kepemimpinan setelah era Kesultanan Aceh berakhir. Menurut salah seorang warga asal Lhokseumawe, Muhajir, dia ingin tahu secara langsung sosok Hasan Tiro yang diceritakan orangtuanya. "Saya hanya dengar perjuangan Hasan Tiro dari orangtua, makanya saya mau jauh-jauh dari Lhokseumawe datang ke Banda Aceh, " katanya.
Tidak hanya orang tua, anak-anak muda termasuk para pelajar pun mengatakan ingin bertemu langsung dengan Hasan Tiro. Mukhlis, pelajar kelas tiga sebuah SMU di Lhokseumawe mengatakan, dari ayahnya dia tahu sosok Hasan Tiro sebagai pejuang rakyat Aceh. "Saya ingin melihat langsung, tidak hanya cerita dari orangtua saja, " katanya.
Seperti ribuan warga Aceh lainnya, Muhajir maupun Mukhlis rela meninggalkan aktivitas rutin seperti pekerjaan dan sekolah demi melihat langsung kedatangan Hasan Tiro. Sejak Jumat malam mereka rela menginap di tempat terbuka seperti Taman Budaya dan Taman Sari demi menyaksikan langsung sosok pahlawannya.
Berbagai jenis kendaran mereka gunakan, antara lain truk, bus hingga mobil pribadi. Mereka membawa bekal makanan berupa beras dan lauk pauk dari rumah. "Untuk memasaknya, kami membawa peralatan masak sendiri. Beras dan lauknya, " ujar Martunis yang datang bersama 32 orang temannya dari Aceh Utara menggunakan truk bak terbuka.
Meski massa yang hadir menyaksikan kedatangan Hasan Tiro mencapai ratusan ribu, kondisi keamanan Banda Aceh relatif terkendali. Beberapa toko memang sengaja memilih tutup pada hari Sabtu itu. Satu-satunya insiden yang terjadi adalah penurunan bendera Merah Putih di halaman Masjid Raya sesaat sebelum kedatangan Hasan Tiro. Namun aparat TNI langsung mencegah aksi tersebut dan menaikkannya kembali.
Kedatangan Hasan Tiro juga diwarnai ketatnya pengawalan oleh mantan pasukan GAM. Pengawal Hasan Tiro ini merupakan mantan combatan GAM yang pernah berlatih di Libya. Beberapa orang wartawan foto yang mencoba mengambil gambar Hasan Tiro dari jarak yang dekat sempat kesulitan akibat kawalan ketat mereka.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang