JAKARTA, MINGGU - Merosotnya nilai rupiah terhadap dollar AS hingga kini belum berpengaruh terhadap dunia penerbangan di Indonesia. Meski demikian, Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal meminta agar operator penerbangan untuk mewaspadainya.
"Sampai sekarang ini, krisis finansial belum berpengaruh terhadap penerbangan nasional, tapi perlu diwaspadai. Operator penerbangan
harus melakukan penyesuaian dan adaptasi," kata Menhub Jusman usai perayaan Hari Pehubungan Nasional 2008 di Jakarta, Minggu (12/10).
Hingga akhir pekan lalu, nilai rupiah terus melemah terhadap dollar AS dan ditutup pada angka Rp 10.000 per dollar. Padahal harga bahan
bakar pesawat (avtur) sangat dipengaruhi oleh dollar, karenanya dikhawatirkan bisa berpengaruh terhadap bisnis penerbangan
Indonesia.
"Pemerintah sendiri akan berusaha mengantisipasinya agar tidak berdampak merugikan. Penguasaha dan maskapai harus
mengantisipasinya dan selalu melakukan tindakan terbaik," ujar Jusman.
Secara terpisah Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Budhi Muliawan Suyitno menambahkan, pihaknya akan mengantisipasi masalah krisis
keuangan agar tidak menular ke dunia penerbangan dengan menyusun revisi Keputusan Menteri Perhubungan (KM) No 9 tahun 2002 tentang
tarif batas atas angkutan udara komersial. "Kita sedang mengevaluasi, mencari cara bagaimana agar bisnis penerbangan ini tidak dipengaruhi oleh krisis keuangan," kata dia.
Meski demikian, jelasnya, pihaknya tidak bisa buru-buru merevisi aturan tersebut karena banyak faktor yang perlu dikaji, selain
nilai dollar, juga harga avtur sendiri yang hingga saat ini masih tidak stabil. "Hingga sekarang belum terlihat adanya pengaruh krisis ini. Dan
kami ingin agar keputusan dilakukan pada saat nilai dollar stabil, sehingga keputusan pemerintah bisa direspon dengan positif," tandasnya.
Menurutnya, belum terlihatnya pengaruh krisis keuangan dengan penerbangan komersial nasional karena maskapai masih memberlakukan tarif batas atas.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang