Pilpres, Rakyat Aceh Berharap pada SBY-JK

Kompas.com - 12/10/2008, 20:31 WIB

BANDA ACEH, MINGGU - Hasil pemilu presiden tahun 2009 nanti akan sangat mempengaruhi kondisi di Aceh. Sebagian rakyat Aceh percaya kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla  sangat menentukan terciptanya perdamaian di Aceh. Sebaliknya, bila pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla kalah dalam pemilu presiden mendatang, perdamaian di Aceh terancam.

Menurut antropolog Universitas Malikussaleh Lhok Seumawe yang juga Ketua Komunitas Peradaban Aceh Teuku Kemal Fasya, kondisi damai yang tercipta di Aceh sangat terkait dengan peran Yudhoyono-Kalla. Saat ini dari beberapa nama yang muncul sebagai kandidat calon presiden, menurut Kemal, belum ada yang memiliki komitmen terhadap penyelesaian Aceh secara damai.

Dia malah menilai, calon presiden yang mengemuka saat ini malah tidak respek dengan pencapaian Yudhoyono-Kalla, menciptakan perdamaian di Aceh. "Calon-calon presiden yang lain tidak menunjukkan respek pada perdamaian di Aceh. Bagi masyarakat Aceh, duet SBY-JK diharapkan sebagai pemenang pemilu mendatang," ujar Kemal di Banda Aceh, Minggu (12/10).

Kemal mengakui, kondisi damai di Aceh ini agak riskan jika duet Yudhoyono-Kalla tak lagi menjabat. Menurut dia, elit politik di Jakarta selalu reaktif menanggapi gejolak yang timbul di Aceh. "Bayangkan, konsep feodalisme positif seperti kelembagaan wali nanggroe saja dicurigai, tapi di sisi lain, konsep keistimewaan sultan di Yogyakarta bisa dipahami," katanya.

Terkait kedatangan proklamator Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Teu ku Muhammad Hasan di Tiro atau Hasan Tiro, Kemal mengungkapkan, hal tersebut bisa menjadi pegangan bagi masyarakat Aceh untuk menjaga perdamaian. "Kedatangan Hasan Tiro memberi prioritas, sekarang damai dulu, rekonstruksi dulu," katanya.

Rakyat Aceh menanggapi beragam kedatangan Hasan Tiro dari pengasingannya di luar negeri selama 29 tahun. Mereka berharap banyak, kedatangan Hasan Tiro dapat melanggengkan perdamaian di Aceh. Namun ada juga yang apatis terhadap kehadiran pemimpin tertinggi GAM ini. "Bagi saya yang penting Aceh damai. Saya tidak mau mikir soal-soal politik. Hidup saya tidak ada kaitannya dengan Hasan Tiro, yang penting saya bisa hidup nyaman dalam bekerja," ujar warga Banda Aceh, Er Juanda.

Dalam pandangan rakyat Aceh, kedatangan Hasan Tiro tak terlalu berpengaruh bagi perdamaian jika pemerintah pusat juga tak memiliki komitmen menjaga perdamaian. Menurut Kemal, duet kepemimpinan Yudhoyono-Kalla dianggap paling dapat memberi ruang bagi perdamaian selama 30 tahun konflik bersenjata di Aceh.

Warga Banda Aceh lainnya, Hari Teguh menuturkan, rakyat Aceh sudah bisa menilai siapa pemimpin yang kemungkinan menerapkan kebijakan represif jika timbul gejolak di Aceh. "Sejujurnya kami khawatir, jika ha sil pemilu nanti memunculkan presiden yang komitmen menegakkan perdamaiannya kurang, rakyat Aceh bisa terjerumus kembali dalam konflik bersenjata," katanya.

Dia berharap siapa pun nanti yang memimpin Indonesia, komitmen menyelesaikan persoalan di Aceh secara damai tetap dipegang. "Jangan begitu timbul gejolak, langsung diterapkan darurat militer," katanya.

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau