Bus Sekolah Terancam Jadi Besi Tua

Kompas.com - 12/10/2008, 22:35 WIB

 

JAKARTA,MINGGU-Akibat belum tuntasnya proses lelang, pengoperasian 37 bus sekolah hingga kini belum bisa dioperasikan. Bus angkutan gratis untuk pelajar tersebut belum bisa digunakan oleh para siswa yang terhitung Senin (13/10) ini mulai kembali bersekolah.

Sejauh pengamatan, Sabtu (12/10), sebanyak 37 bus sekolah terparkir di Pool Bus Transjakarta (eks Pool Bus PPD) di Kramatjati, Jakarta Timur. Bus yang tidak dioperasionalkan sejak Januari 2008 itu terancam menjadi besi tua karena kondisi fisiknya sudah memprihatinkan.

Sebagian besar bodi bus tersebut berkarat, baik dari atap hingga bagian bawah bus. Beberapa bus ditopang velg berkarat dan keropos. Sebagian bus lagi memiliki ban yang sudah 'botak' dan cat bodi yang terkelupas. Sejumlah bus dalam kondisi pintu yang tidak terkunci.

Seorang petugas di pool bus transjakarta Kramat Jati yang tidak mau disebut namanya mengatakan, sebanyak 37 bus sekolah terparkir di tempat itu sejak Januari 2008.

Sejak masuk di tempat ini, bus-bus itu tidak pernah dirawat. "Setiap hari, mesin bus tidak pernah dipanaskan," kata petugas itu yang menduga accu bus-bus itu rusak dan tidak berfungsi lagi. Selain itu, masa uji kir bus-bus itu sudah mati sejak 14 september 2008 lalu.

Seperti diberitakan, sejak Januari lalu pelajar di Jakarta kehilangan angkutan gratis sehingga sebagian di antara mereka kembali mencegati angkutan bak terbuka di jalanan dan naik bergerombol. Pemandangan berbahaya itu kerap disaksikan setiap hari oleh pengguna jalan raya. Menghilangnya bus sekolah itu diakui Kepala Unit Pelakasana Teknis Bus Sekolah Dinas Perhubungan DKI Jakarta Sihol Sijabat. Menurut dia, pengoperasian bus sekolah dalam tahap proses lelang operasional operator. Direncanakan bulan Agustus semua bus sudah dioperasikan. (Kompas, 8/8).

Keterlambatan lelang ini kata Sihol karena ada perubahan tarif per kilometer akibat kenaikan harga bahan bakar minyak. Semula harga BBM Rp 4.100 per km, setelah kenaikan BBM mengalami penyesuaian tarif menjadi Rp 4.700 per km. Tahun 2007, bus sekolah dioperasionalkan PT Sinar Jaya dan tahun ini harus dilelang kembali.

Trayek

Armada bus sekolah itu melayani trayek utara Lapangan Banteng Kemayoran, Tanjung Priok PIK Penggilingan, Taman Mini Kampung Melayu dan Pasar Minggu Blok M ditambah trayek penghubung Cawang Grogol dan Cawang Plumpang.

Pengadaan bus sekolah gratis untuk pelajar sudah diusulkan sejak tahun 2006. Saat itu, Pemprov DKI mengusulkan pengadaan 100 unit bus sekolah, namun ditolak Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta. Wakil rakyat ini hanya menyetujui pengadaan 34 unit.

Pada tahun 2007, pengoperasian bus sekolah dilakukan oleh operator dari PT Sinar Jaya dan diinapkan di Pool Bus Sinar Jaya, di Cibitung, Bekasi, Jawa Barat. Namun di tengah perjalanan, bus tersebut beralih fungsi. Tidak hanya pelajar, masyarakat umum pun turut menikmati bus tersebut.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau