PM Thailand Tutup Telinga dari Seruan Mundur

Kompas.com - 13/10/2008, 10:13 WIB

BANGKOK, SENIN — Perdana Menteri Thailand  Somchai Wongsawat menolak seruan terhadap dirinya untuk mengundurkan diri. Wongsawat berdalih bahwa pengunduran diri tidak akan menjernihkan kekeruhan krisis politik yang terjadi di Thailand.

Demonstran antipemerintah menuntut Somchai Wongsawat mengundurkan diri untuk mempertanggungjawabkan aksi unjuk rasa, Selasa (7/10) pekan lalu, yang berbuntut dengan bentrokan antara demonstran dan polisi antihuru-hara sehingga menewaskan 3 orang dan mencederai hampir 500 demonstran. Ini merupakan kekerasan politik terburuk dalam 1 dasawarsa di Thailand.

Pertikaian berubah menjadi brutal setelah polisi menembakkan gas air mata untuk membubarkan demonstran yang mencoba menghalangi gedung parlemen saat Somchai akan menyampaikan pidato kebijakan pertamanya kepada anggota parlemen. Somchai dilantik sebagai Perdana Menteri Thailand pada 25 September.

Demonstran menuduh polisi antihuru-hara telah bertindak secara berlebihan dalam membubarkan massa. Demonstrasi dalam skala besar akan digelar dalam pekan ini di kantor pusat kepolisian Bangkok. Unjuk rasa secara besar-besaran ini semula dijadwalkan Senin (13/10) ini, tetapi akhirnya ditunda untuk memberikan kesempatan masa berkabung bagi 2 korban tewas dalam unjuk rasa yang akan dikremasi hari ini.

"Banyak kelompok sosial yang menyerukan saya mundur atau membubarkan parlemen," kata Somchai Wongsawat dalam pidato televisi yang ditayangkan secara nasional. "Saya tak terikat dengan jabatan. Namun, saya tak yakin jika pengunduran diri merupakan solusi yang tepat," Somchai Wongsawat menegaskan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau