BANGKOK, SENIN — Perdana Menteri Thailand Somchai Wongsawat menolak seruan terhadap dirinya untuk mengundurkan diri. Wongsawat berdalih bahwa pengunduran diri tidak akan menjernihkan kekeruhan krisis politik yang terjadi di Thailand.
Demonstran antipemerintah menuntut Somchai Wongsawat mengundurkan diri untuk mempertanggungjawabkan aksi unjuk rasa, Selasa (7/10) pekan lalu, yang berbuntut dengan bentrokan antara demonstran dan polisi antihuru-hara sehingga menewaskan 3 orang dan mencederai hampir 500 demonstran. Ini merupakan kekerasan politik terburuk dalam 1 dasawarsa di Thailand.
Pertikaian berubah menjadi brutal setelah polisi menembakkan gas air mata untuk membubarkan demonstran yang mencoba menghalangi gedung parlemen saat Somchai akan menyampaikan pidato kebijakan pertamanya kepada anggota parlemen. Somchai dilantik sebagai Perdana Menteri Thailand pada 25 September.
Demonstran menuduh polisi antihuru-hara telah bertindak secara berlebihan dalam membubarkan massa. Demonstrasi dalam skala besar akan digelar dalam pekan ini di kantor pusat kepolisian Bangkok. Unjuk rasa secara besar-besaran ini semula dijadwalkan Senin (13/10) ini, tetapi akhirnya ditunda untuk memberikan kesempatan masa berkabung bagi 2 korban tewas dalam unjuk rasa yang akan dikremasi hari ini.
"Banyak kelompok sosial yang menyerukan saya mundur atau membubarkan parlemen," kata Somchai Wongsawat dalam pidato televisi yang ditayangkan secara nasional. "Saya tak terikat dengan jabatan. Namun, saya tak yakin jika pengunduran diri merupakan solusi yang tepat," Somchai Wongsawat menegaskan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang