Hai Ibu, Waspada Anemia!

Kompas.com - 13/10/2008, 19:22 WIB

TANGERANG, SENIN - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tangerang mengimbau agar ibu melahirkan harus mewaspadai penyakit kekurangan darah (anemia).
     
"Mayoritas faktor penyebab kematian ibu melahirkan karena kekurangan darah akibat pendarahan," kata Kepala Bidang Kesehatan Keluarga Dinkes Kabupaten Tangerang, Reniati, Senin.

Catatan Dinkes, faktor penyebab kematian ibu melahirkan di Kabupaten Tangerang, 42 persen akibat pendarahan, 25 persen disebabkan hipotermia dan sisanya akibat faktor lainnya.

Reniati mengatakan, penyakit anemia disebabkan faktor kekurangan darah akibat kekurangan asupan makanan yang bergizi sehingga berdampak terhadap kondisi yang tidak fit.

Bahkan kekurangan asupan makanan bergizi juga berpengaruh terhadap pola hidup yang tidak sehat dengan tanda seperti letih, lemah dan lesu.

Selain itu, Dinkes melakukan penelitian kandungan darah terhadap anak 1.000 anak sekolah dasar di Kabupaten Tangerang, beberapa waktu lalu, hasilnya mengindikasikan sebanyak 45 persen siswa SD mengidap anemia.

Reniati menuturkan, siswa yang mengidap anemia atau kekurangan darah tidak akan memiliki semangat belajar yang tinggi karena sulit untuk berkonsentrasi.

"Akibatnya anemia secara tidak langsung berpengaruh terhadap nilai pelajaran dan prestasi siswa," kata Reniati.

Reniati menjelaskan, kebiasaan pola hidup sehat masyarakat di Kabupaten Tangerang tidak teratur seperti nilai kandungan makanan yang dikonsumsi kurang bergizi.

Sehingga dampak yang timbil semakin luas, misalnya kekurangan gizi atau gizi buruk, mudah letih, rentan terhadap serangan penyakit serta tidak bergairah melakukan aktifitas yang padat.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau