BANJARMASIN, SELASA — Kalangan petani dan penyadap karet di sentra perkebunan karet terbesar di Kalimantan Selatan di wilayah Banua Enam (Enam Kabupaten Utara Kalsel) belakangan ini kelabakan lantaran harga karet anjlok.
"Kami petani dan buruh penyadap karet merasa bingung kok tahu-tahu harga karet turun hingga 50 persen," kata beberapa petani karet melaporkan hal itu kepada Antara via telepon, Selasa.
Pihak petani dan penyadap karet tidak mengerti anjloknya harga karet yang begitu besar dalam sejarah perkaretan selama ini karena biasanya naik turunnya harga karet secara berangsur-angsur antara 5 hingga 10 persen saja.
Oleh karena itu, petani dan penyadap karet meminta kepada pemerintah daerah atau pemerintah pusat menelisik penyebab turunnya harga yang begitu besar apakah hal itu karena spekulan atau karena masalah lain.
Memang ada yang menyebutkan, turunnya harga karet tersebut menyusul terjadinya krisis ekonomi di berbagai negara, terutama Amerika Serikat. Namun, isu itu diperkirakan hanya diembuskan kalangan spekulan.
Mereka mencontohkan harga karet jenis lum yang tadinya Rp 7.000 per kilogram kini hanya Rp 3.500 per kilogram. Murahnya harga karet ini sekitar setengah bulan terakhir ini saja, padahal harga yang bertahan di atas hampir setahun terakhir ini.