HIPMI Minta Suku Bunga Tidak Naik Lagi

Kompas.com - 14/10/2008, 10:39 WIB

JAKARTA,SELASA - Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) mengimbau agar para bankir menurunkan suku bunganya dan pengetatan pencairan kredit diperlonggar.

Krisis global yang terjadi saat ini membuat banyak bank menaikkan suku bunga kredit mereka. Selain itu para bankir juga semakin mengetatkan syarat-syarat pengucuran kredit. Jika bank terus-menerus melakukan hal tersebut maka besar kemungkinan sektor riil bakalan macet. Demikian dikatakan oleh Ketua umum HIPMI Erwin Aksa, Selasa 914/10)..

Oleh sebab itu Erwin mengimbau agar bank tidak lagi menaikkan bunga dan mengendurkan pengetatan syarat pengucuran kredit. "Artinya kredit yang sudah menjadi komitmen dan proyeknya sudah berjalan agar tetap diselesaikan, jangan sampai menjadi proyek yang tidak produktif dan menciptakan kredit macet," ungkap Erwin di sela-sela acara Coffee Morning dan diskusi HIPMI dengan perbankan nasional dengan tema Pemerintah Harus Fokus ke Bank, Jangan ke Bursa Terus.

Erwin juga berharap pengusaha yang berinvestasi ke sektor perkebunan tidak berpaling. Maksudnya jangan sampai para pengusaha perkebunan khususnya kepala sawit memindahkan investasinya dari perkebunan ke pasar modal karena return di pasar modal lebih baik jika dibandingkan dengan harga kelapa sawit yang terus menurun saat ini.

"Saat ini harga-harga saham di pasar modal kan sangat murah dan berpotensi besar untuk rebound." kata Erwin. Bahkan ada kemungkinan dalam waktu satu tahun ke depan harga saham naik 30 persen dari saat ini. (Arthur Gideon)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau