Nadia Masih Ingin ke Bali

Kompas.com - 14/10/2008, 22:05 WIB

JAKARTA, SELASA -  Kita selalu berharap di tanah ini muncul kembali petenis sekelas Yayuk Basuki pada masa jayanya. Turnamen tenis bertaraf internasional seharusnya  menjadi salah satu daya tariknya.

Nadia Ravita adalah salah satu atlet yang berharap mampu berprestasi setinggi Yayuk Basuki atau setdiaknya Angelique Widjaja pada awal karirnya. Dalam usia 14 tahun,  Nadia dianggap  memiliki potensi untuk tumbuh kembang menjadi petenis yang mampu bersaing di tenis pro.  

Padahal  ketika bertemu di CommonwealthBank Tennis Classic di Nusa Dua pada 2007 lalu, Nadia tak ubahnya seperti tennis-groupie lainnya. Ia dan teman-temannya mengejar-ngejar petenis yang hadir seperti Daniela Hantuchova untuk mendapatkan tandatangan atau sekadar berfoto bersama.

"Ternyata Patty Schnyder  orangnya tidak tinggi. Aku senang bisa foto bareng bersama," kata Nadia seperti dituturkan ibunya, mantan petenis nasional Lukky Tedjamukti.  Saat itu, Nadia datang ke Bali diajak oleh pamannya, Dedy Tedjamukti yang masih menjadi pelatih petenis nasional, Angelique Widjaja.

Pada 2007 tersebut Nadia tidak menyaksikan turnamen tenis CommonwealthBank Tennis Classic sampai final. Ia tidak berada di Nusa Dua saat petenis AS, Lindsay Davenport mengangkat trofi juara tunggal puteri sambil menggendong puteranya, Jonathan Jagger Leach yang barus berusia beberapa bulan.

"Aku tidak bsia sepanjang tunamen berada di Bali. Mahal.  Tapi aku senang banget. Bisa lihat langsung para petenis dunia itu bertanding dan foto bareng. Tapi yang pasti, mereka itu nggak sombong-sombong," kata Nadia. Salah satu hasilnya, adalah ia mampu "mengukur" tinggi tubuh petenis Swiss, Patty Schnyder dengan foto bersama.

Nadia tidak menjadi saksi saat Patty Schnyder menjadi juara CommonwealthBank Tennis Classic di lapangan tenis Grand Hyatt Nusa Dua, September lalu.  sejak Juni lalu, ia telah menimba ilmu di International Tennis Academy di Delray Beach, Florida. Denga memasuki sekolah tenis, ia sudah mengawali langkah awal seperti yang dulu dilakukan Patty Schnyder, Lindsay davenport  mau pun petenis-petenis dunia lainnya.

"Kalau ada kesempatan, kenapa tidak sekarang? Apalagi anaknya mengaku berani untuk menuntut ilmu sendirian di negeri orang," kata Lukki yang menikah dengan mantan petenis nasional lainnya, Hawin Sutopo.  "Di sana kan kesempatan untuk bertanding jauh lebih banyak daripada di sini."

Namun keberanian Nadia ini memang sebenarnya lebih tepat dikatakan sebagai  kenekatan remaja lulusan SD Pembangunan Jaya, Bintaro ini.  Setelah sempat ditemani ibunya selama tiga pekan, Nadia harus menjalani penggemblengannya di International Tennis Academy seorang diri. Belum lagi ia kemudian tercatat sebagai siwa di sekolah umum American Heritage. "Setingkat SMP-lah," kata Lukki.

Benar saja. Lukki kemudian menerima laporan dari pelatih di ITA bahwa puterinya mengalami home-sick. Rindu kepada ibunya, kehangatan keluarga besar Tedjamukti dan rekan-rekan belatihnya di Tedjamukti Tennis Camp di Bintaro.  "Sulitnya lagi, Nadia itu kan anaknya pendiam. Jadi para pelatihnya harus menebak-nebak ada apa dengan anak ini? Kok latihannya jelek atau bagaimana," kata Lukki lagi.

Tapi home-sick blues itu sudah menjadi cerita masa lalu. Saat ini menurut Lukki, Nadia tinggal mengejar kekurangannya di pendidikan akdemisnya.  "Terutama di bahasa Inggris. Tapi kalau pelajaran matematika atau pun bahasa Spanyol, dia bisa mengimbangi, karena sama-sama mulai dari nol," katanya. Pemahaman kedua bahasa ini menurut Lukki akan sangat penting bila Nadia memtuskan terjun secara total ke dunia tenis profesional. "Biar kalau menghadapi pers nanti nggak malu-maluin lah," kata Lukki lagi.

Dengan bersekolah pada pagi hari, Nadia berlatih selama tiga jam pada sore hari. Dengan sitem pendidikan yang semi privat, diharop kemajuan akan lebih cepat dicapai.  "Satu pelatih memegang tiga orang. Teman-teman Nadia bervariasi, dari yang seusia hingga yang berusia di atas dia," lanjut Lukki. "Stroke-nya dianggap sudah bagus, dia hanya perlu menambah tenaga."

Selain itu, karena  camp-tennis ITA cukup dikenal, ia memiliki kesempatan menyaksikan petenis-petenis dunia seperti Venus Williams berlatih di sana bila tengah menyiapkan diri menghadapi satu turnamen.  "Tentunya dengan perjanjian ketat, seperti tidak ada sesi minta tandatangan atau berfoto bersama. Namun itu pun sudah sangat berharga buat para murid yang masih muda seperti Nadia."

Kalau sudah seperti ini, Nadia tentunya akan mengenang lagi kehangatan turnamen tenis di Bali. Bahkan kesempatan untuk menyaksikan venus Williams di Nusa Dua Bali pun kini menjadi terbuka.  Mulai 2009,  CommonweralthBank Tennis Classic telah meningkat menjadi Championship dengan peningkatan hadiah dari 225 ribu menjadi 600 ribu dolar AS. Mereka yang bertanding di sini pun menjadi petenis peringkat di atas 20 besar dan dibatasi hanya 12 orang. Dengan waktu pelaksanaannya pada November 2009.

"Dia ingin sih, sekalian liburan. Tapi kayaknya Nadia nggak bisa nonton. Ia boleh pulang hanya satu kali dalam satu tahun. ia mengambil bulan JUni, sekalian memperpanjang visa," kata Lukki. Jadi untuk hal menonton pertandingan tenis akbar di Nusa Dua, Bali bolehlah kita merasa lebih beruntung. (Tjahjo SasongkO)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau