JAKARTA, KOMPAS - Pakar pendidikan Arief Rahman mengutuk tawuran antarmahasiswa di Salemba, Jakarta Pusat, Selasa (14/10). Tawuran yang terus berulang itu meresahkan dan merugikan masyarakat. Mahasiswa dan pihak rektorat harus bertanggung jawab, kalau perlu kampus ditutup sementara.
”Selesaikan kasus ini hingga tuntas. Perlu kerendahan hati mahasiswa maupun unsur pimpinannya. Mereka harus mau berdialog dan melaksanakan konsekuensi hasil dialog. Jika tidak, langsung saja tindak tegas dengan proses hukum,” kata Arief Rahman, Selasa.
Menurut Arief, tindakan tegas bisa dimulai dari manajemen kampus berupa skorsing terhadap setiap mahasiswa yang terlibat perkelahian massal, atau bahkan dikeluarkan dengan tidak hormat. Apabila terbukti pimpinan universitas dari tingkat rektor hingga dosen membiarkan kondisi itu berlarut-larut tanpa penyelesaian, aparat penegak hukum bisa memproses hukum dan kampus ditutup sementara.
Dua kali tawuran
Selasa kemarin, terjadi dua kali tawuran antarmahasiswa di kawasan Jalan Diponegoro, Salemba. Tawuran pertama terjadi pagi hari sekitar pukul 10.00 hingga 11.30 antara mahasiswa Universitas Kristen Indonesia (UKI) dan Universitas Persada Indonesia YAI. Sekitar pukul 15.30, mahasiswa UKI kembali berkelahi dengan sekelompok mahasiswa Universitas Bung Karno (UBK) yang memiliki kampus di Jalan Kimia, Salemba.
Kepala Kepolisian Resor Jakarta Pusat Komisaris Besar Ike Edwin mengatakan, belum diketahui pasti penyebab tawuran. Namun, tiga mahasiswa kini diperiksa polisi untuk dimintai keterangan.
Perkelahian massal ini menyebabkan Jalan Diponegoro harus ditutup dua kali dan kemacetan parah di sekitar Tugu Proklamasi, Jalan Diponegoro, Jalan Pramuka, dan Jalan Salemba Raya. Para pedagang kaki lima di sekitar RSCM kocar-kacir tak bisa berdagang. Mobil Toyota Avanza bernomor polisi B 2431 IZ rusak terkena lemparan batu.
Kombes Ike Edwin menambahkan, karena rawan tawuran, selalu ada polisi berjaga di kawasan Salemba setiap hari. Polisi juga telah berupaya mengantisipasi tawuran berulang dengan mengajak pihak rektorat dan mahasiswa menyelesaikan masalah bersama secara damai.
Salah didik
Arief menambahkan, tawuran yang kerap terjadi antarmahasiswa disebabkan adanya kesalahan pembinaan perguruan tinggi (PT). Kesalahan ini tidak hanya terjadi di Jakarta, tetapi di seluruh Indonesia. PT seharusnya mendidik mahasiswa menjadi orang berkarakter intelektual, bukan semata mengejar gelar.
Hasil pengalamannya di dunia pendidikan, Arief melihat, proses penyesuaian, membina persahabatan, dan pendidikan bersama yang mencerdaskan tanpa mementingkan diri sendiri, kini justru makin dikesampingkan.
”Dalam mendidik mahasiswa sebagai calon intelektual, harus ditekankan pentingnya kerendahan hati, empati, dan toleransi. Akan tetapi, yang berkembang saat ini justru iklim kompetisi berlebihan yang tidak sehat,” kata Arief. (ONG/NEL)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang