Kampus Bisa Ditutup

Kompas.com - 15/10/2008, 07:58 WIB

JAKARTA, KOMPAS - Pakar pendidikan Arief Rahman mengutuk tawuran antarmahasiswa di Salemba, Jakarta Pusat, Selasa (14/10). Tawuran yang terus berulang itu meresahkan dan merugikan masyarakat. Mahasiswa dan pihak rektorat harus bertanggung jawab, kalau perlu kampus ditutup sementara.

”Selesaikan kasus ini hingga tuntas. Perlu kerendahan hati mahasiswa maupun unsur pimpinannya. Mereka harus mau berdialog dan melaksanakan konsekuensi hasil dialog. Jika tidak, langsung saja tindak tegas dengan proses hukum,” kata Arief Rahman, Selasa.

Menurut Arief, tindakan tegas bisa dimulai dari manajemen kampus berupa skorsing terhadap setiap mahasiswa yang terlibat perkelahian massal, atau bahkan dikeluarkan dengan tidak hormat. Apabila terbukti pimpinan universitas dari tingkat rektor hingga dosen membiarkan kondisi itu berlarut-larut tanpa penyelesaian, aparat penegak hukum bisa memproses hukum dan kampus ditutup sementara.

Dua kali tawuran

Selasa kemarin, terjadi dua kali tawuran antarmahasiswa di kawasan Jalan Diponegoro, Salemba. Tawuran pertama terjadi pagi hari sekitar pukul 10.00 hingga 11.30 antara mahasiswa Universitas Kristen Indonesia (UKI) dan Universitas Persada Indonesia YAI. Sekitar pukul 15.30, mahasiswa UKI kembali berkelahi dengan sekelompok mahasiswa Universitas Bung Karno (UBK) yang memiliki kampus di Jalan Kimia, Salemba.

Kepala Kepolisian Resor Jakarta Pusat Komisaris Besar Ike Edwin mengatakan, belum diketahui pasti penyebab tawuran. Namun, tiga mahasiswa kini diperiksa polisi untuk dimintai keterangan.

Perkelahian massal ini menyebabkan Jalan Diponegoro harus ditutup dua kali dan kemacetan parah di sekitar Tugu Proklamasi, Jalan Diponegoro, Jalan Pramuka, dan Jalan Salemba Raya. Para pedagang kaki lima di sekitar RSCM kocar-kacir tak bisa berdagang. Mobil Toyota Avanza bernomor polisi B 2431 IZ rusak terkena lemparan batu.

Kombes Ike Edwin menambahkan, karena rawan tawuran, selalu ada polisi berjaga di kawasan Salemba setiap hari. Polisi juga telah berupaya mengantisipasi tawuran berulang dengan mengajak pihak rektorat dan mahasiswa menyelesaikan masalah bersama secara damai.

Salah didik

Arief menambahkan, tawuran yang kerap terjadi antarmahasiswa disebabkan adanya kesalahan pembinaan perguruan tinggi (PT). Kesalahan ini tidak hanya terjadi di Jakarta, tetapi di seluruh Indonesia. PT seharusnya mendidik mahasiswa menjadi orang berkarakter intelektual, bukan semata mengejar gelar.

Hasil pengalamannya di dunia pendidikan, Arief melihat, proses penyesuaian, membina persahabatan, dan pendidikan bersama yang mencerdaskan tanpa mementingkan diri sendiri, kini justru makin dikesampingkan.

”Dalam mendidik mahasiswa sebagai calon intelektual, harus ditekankan pentingnya kerendahan hati, empati, dan toleransi. Akan tetapi, yang berkembang saat ini justru iklim kompetisi berlebihan yang tidak sehat,” kata Arief. (ONG/NEL)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau