Tak Mau Mengekor Ki Manteb

Kompas.com - 15/10/2008, 17:40 WIB

JAKARTA, RABU - Pedalang wayang kulit Darmadi berasal dari Kampung Palur, Kecamatan Mojolaban Sukoharjo, Jawa Tengah. Namanya melejit ketika tahun 1979 menjadi Juara I Nasional Pedalang Cilik. Saat itu anak bontot dart tujuh bersaudara pasangan Harjo Wiyono (alm) clan Sudarti (alm) ini berhak meraih Piala Presiden.

"Saat itu presidennya masih Soeharto yang kini sudah almarhum, dan waktu itu saya duduk dipangku olel Pak Harjo. Kenangan itu menjadi sebuah memori indah karena saya sebagai seorang anak desa bisa bertemu presiden. Biasanya kan saya hanya melihatnya di televisi, tapi berkat kemampuan saya, saya bisa ketemu dengan beliau," ujar Darmadi menuturkan.

Selain bertemu dengan Presiden RI, Darmadi senang sekali karena bisa dekat dengan artis cilik seperti Chica Koeswoyo, Ira Maya Sopha, clan Adi Bing Slamet. "Nama Darmadi ini santer sekah Mas, bukan hanya di kampungnya, tapi di kampung saya yang jaraknya cukup jauh. Saya belum pernah melihat Darmadi saat itu tapi saya sudah mendengar nama beliau dart mulut ke mulut," kata Sulasno (42), pemain gamelan di Sanggar Redi Waluyo.

Untuk menjadi juara pedalang cilik tingkat nasional tidaklah mudah. Darmadi yang kini berusia 35 tahun dan belum menikah, harus melewati proses cukup panjang. Di tingkat kabupaten Darmadi bersaing dengan 15 pedalang cilik lainnya. Lalu di tingkat Provinsi Jawa Tengah Darmadi meninggalkan 17 peserta lainnya. Di tingkat nasional, lelaki berambut keriting ini mengalahkan 24 peserta dari 24 provinsi.

Karena kemenangannya itu kehidupan bocah dari Kampung Palur itu berubah. Dia mendapat beasiswa dari
beberapa menteri dan dinas P dan K setempat. Salah satu menteri yang memberi hadiah adalah Mendagri Supardjo Rustam (alm). Beasiswa didapat Darmadi sampai dia lulus kuliah di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.
Darmadi ternyata tidak lain adik kandung pedaling Ki Manteb Sudarsono. Meski punya kakak yang juga dalang ngetop, Darmadi menyatakan tidak mau mengekor ketenaran nama Ki Manteb clan juga ticlak mau meniru langkah kakaknya itu.

"Saya ya saya, dia ya dia.. Katni bersaing secara sehat," tutur Darmadi. "Soal siapa yang tangguh, pernah Anom Suroto, dia juga pedalang senior, takjub melihat kepiawian saya sebagai pedalang cilik yang sudah mahir sekali mengibaskan wayang," lanjutnya.

Kini di Sanggar Redi Waluyo, Darmadi bersama kawan-kawannya menggantungkan penghidupannya. Selain sebagai tempat pelatihan dalang, sanggar tersebut juga menyawakan peralatan gamelan. Jika ingin menanggap dalang cilik biayanya Rp 5 juta sedangkan menanggap dalang orang dewasa biayanya Rp 15 juta. (Warta Kota/Dedy)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau