JAKARTA, RABU - Pedalang wayang kulit Darmadi berasal dari Kampung Palur, Kecamatan Mojolaban Sukoharjo, Jawa Tengah. Namanya melejit ketika tahun 1979 menjadi Juara I Nasional Pedalang Cilik. Saat itu anak bontot dart tujuh bersaudara pasangan Harjo Wiyono (alm) clan Sudarti (alm) ini berhak meraih Piala Presiden.
"Saat itu presidennya masih Soeharto yang kini sudah almarhum, dan waktu itu saya duduk dipangku olel Pak Harjo. Kenangan itu menjadi sebuah memori indah karena saya sebagai seorang anak desa bisa bertemu presiden. Biasanya kan saya hanya melihatnya di televisi, tapi berkat kemampuan saya, saya bisa ketemu dengan beliau," ujar Darmadi menuturkan.
Selain bertemu dengan Presiden RI, Darmadi senang sekali karena bisa dekat dengan artis cilik seperti Chica Koeswoyo, Ira Maya Sopha, clan Adi Bing Slamet. "Nama Darmadi ini santer sekah Mas, bukan hanya di kampungnya, tapi di kampung saya yang jaraknya cukup jauh. Saya belum pernah melihat Darmadi saat itu tapi saya sudah mendengar nama beliau dart mulut ke mulut," kata Sulasno (42), pemain gamelan di Sanggar Redi Waluyo.
Untuk menjadi juara pedalang cilik tingkat nasional tidaklah mudah. Darmadi yang kini berusia 35 tahun dan belum menikah, harus melewati proses cukup panjang. Di tingkat kabupaten Darmadi bersaing dengan 15 pedalang cilik lainnya. Lalu di tingkat Provinsi Jawa Tengah Darmadi meninggalkan 17 peserta lainnya. Di tingkat nasional, lelaki berambut keriting ini mengalahkan 24 peserta dari 24 provinsi.
Karena kemenangannya itu kehidupan bocah dari Kampung Palur itu berubah. Dia mendapat beasiswa dari
beberapa menteri dan dinas P dan K setempat. Salah satu menteri yang memberi hadiah adalah Mendagri Supardjo Rustam (alm). Beasiswa didapat Darmadi sampai dia lulus kuliah di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.
Darmadi ternyata tidak lain adik kandung pedaling Ki Manteb Sudarsono. Meski punya kakak yang juga dalang ngetop, Darmadi menyatakan tidak mau mengekor ketenaran nama Ki Manteb clan juga ticlak mau meniru langkah kakaknya itu.
"Saya ya saya, dia ya dia.. Katni bersaing secara sehat," tutur Darmadi. "Soal siapa yang tangguh, pernah Anom Suroto, dia juga pedalang senior, takjub melihat kepiawian saya sebagai pedalang cilik yang sudah mahir sekali mengibaskan wayang," lanjutnya.
Kini di Sanggar Redi Waluyo, Darmadi bersama kawan-kawannya menggantungkan penghidupannya. Selain sebagai tempat pelatihan dalang, sanggar tersebut juga menyawakan peralatan gamelan. Jika ingin menanggap dalang cilik biayanya Rp 5 juta sedangkan menanggap dalang orang dewasa biayanya Rp 15 juta. (Warta Kota/Dedy)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang