Tujuh Negara Minta Pertolongan IMF

Kompas.com - 16/10/2008, 05:32 WIB

WASHINGTON, SELASA - Setidaknya tujuh negara berkembang berpaling ke Dana Moneter Internasional (IMF) untuk meminta pertolongan. Negara- negara itu kekurangan dana karena penarikan dana oleh para investor asing seiring dengan terjadinya krisis global.

Permintaan pertolongan itu antara lain telah disampaikan Hongaria, Ukraina, Serbia, dan Eslandia pada pertemuan dengan IMF akhir pekan lalu di Washington. Saat itu berlangsung pertemuan tahunan yang diselenggarakan Bank Dunia dan IMF untuk membahas pemberantasan kemiskinan global.

Krisis sektor keuangan global sekarang ini dipicu kebangkrutan korporasi keuangan global, yang membuat para investor global panik dan menarik dana-dana investasi dan simpanan dari perbankan.

Pada tahun 1997, krisis dipicu dengan masalah di sisi negara pembayaran negara, antara lain ditandai dengan pinjaman-pinjaman internasional berjangka pendek, tetapi ditanamkan pada proyek yang baru menghasilkan dalam jangka panjang.

”Kami mendapatkan permintaan pertolongan dari enam atau tujuh negara,” kata seorang pejabat senior IMF kepada kantor berita Reuters, Selasa (14/10).

Pekan lalu Direktur Pelaksana IMF Dominique Strauss-Kahn menegaskan, ”Siap membantu negara-negara berkembang yang terpukul krisis.”

”Saya tidak akan kaget jika muncul puluhan negara lagi yang akan mengajukan permintaan tolong dalam beberapa bulan mendatang,” kata pejabat senior IMF yang minta namanya dirahasiakan.

Walau akar krisis sekarang ini berbeda dari krisis 1997, masalah yang dimunculkan relatif sama. Sejumlah negara terancam memenuhi kewajiban luar negeri seperti impor, membayari bunga dan cicilan utang luar negeri.

Makin ketatnya persyaratan untuk mendapatkan kredit dari sektor swasta, dan ketakutan industri perbankan menyalurkan kredit, telah membuat dana-dana di pasar berkurang. Krisis sekarang ini juga telah membuat investor swasta enggan membeli surat-surat utang.

Kembali berperan

Krisis sekarang ini mengembalikan IMF ke dalam bisnis. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah negara berkembang memalingkan muka dari IMF seiring dengan buruknya resep dan reputasi IMF. Di sisi lain, berkembangnya perekonomian dan bangkitnya kemampuan keuangan pemodal-pemodal swasta membuat banyak negara menyandar diri pada pasokan dana investor swasta.

Bahkan, dalam beberapa tahun terakhir, keberadaan modal-modal swasta membuat sejumlah negara ramai-ramai mengembalikan utang kepada IMF.

Namun, keadaan mendadak berubah sejak krisis meledak, yang dimulai di AS. ”Sistem keuangan global berada di ambang kejatuhan. Hal itu kembali menghidupkan paket bantuan darurat, seperti yang pernah terjadi pada 1995,” kata Strauss-Kahn.

Kawasan Eropa Timur tergolong paling rentan. Selama ini beberapa negara kawasan ini menyandarkan pembiayaan ekonomi dari pinjaman asing, yang kini mendadak mengering.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau