Keterwakilan Perempuan Terhambat Tradisi Parpol

Kompas.com - 16/10/2008, 15:56 WIB

Laporan wartawan Kompas Suhartono

JAKARTA, KAMIS - Keterwakilan perempuan sebanyak 30 persen dalam pencalonan anggota legislatif terhambat akibat belum adanya tradisi yang baik dan kuat dalam rekrutmen anggota perempuan partai politik. Faktor lain yang membuat hambatan keterwakilan perempuan di legislaltif adalah masih adanya paradigma terhadap posisi pinggir kaum perempuan dan kedudukan kaum perempuan yang kebanyakan adalah pegawai negeri sipil (PNS). Akibatnya, mereka tidak berani berspekulasi untuk berkiprah di bidang politik.

Hal itu diungkapkan oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Nasyaitul Aisyiyah (PPNA) Evi Sofia Inayati, saat ditanya pers, seusai bersama pengurus lainnya bertemu Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla di Istana Wapres, Jakarta, Kamis (16/10) sore.

"Affirmatif action memang harus dilakukan agar perempuan punya keterwakilan di legislatif. Namun, pada kenyataannya, tidak mudah untuk mewujudkan 30 persen itu. Sebab, ada kesenjangan, selain adanya paradigma yang belum berubah. Tak dipungkirinya banyak kendala dari kaum perempuan sendiri yang sebetulnya potensinya cukup besar seperti di antaranya jabatan mereka sebagai PNS, sehingga tak mau berspekulasi," ujar Evi.

Faktor lainnya, tambah Evi, adalah belum adanya tradisi yang baik dan kuat dalam sistem rekrutmen anggota, khususnya perempuan di parpol. "Buktinya, meskipun tradisi parpol sudah ada sejak Pemilu 1955, namun rekrutmen anggota perempuan dalam parpol tetap saja tidak punya tradisi yang baik dan kuat," lanjut Evi.

Oleh karena itu, kata Evi, harus ada semacam gebrakan dalam tradisi di parpol. "Karena, kan, sanksi dalam UU Pemilu jika tidak memenuhi kuota 30 persen, hanya sanksi moral," demikian Evi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau