Prabowo Mengaku "Cuek" Dengan Melorotnya Saham

Kompas.com - 16/10/2008, 23:08 WIB

JAKARTA, KAMIS — Kondisi perekonomian global yang tidak menentu sekarang ini, membuat bursa saham di Indonesia turut carut-marut. Pialang dan pemilik saham kelimpungan akan kondisi tersebut. Untuk tidak memperburuk keadaan ini, Pemerintah sempat menutup sementara aktivitas di Bursa Efek Indonesia.

Benarkah ancaman krisis itu sedemikian hebatnya? Calon presiden yang diusung partai baru berlambang kepala burung garuda Gerindra, Prabowo Subianto mengaku tidak pusing memikirkan turunnya nilai saham dunia. Itu karena dia tidak memiliki saham yang diputar melalui BEI.

"Anggota Partai Gerindra tidak perlu risau dengan turunnya indeks saham. Soalnya, tidak ada yang punya saham. Jangankan kader Gerindra atau pimpinan DPD Gerindra, saya saja tidak punya saham di BEI," ujar Prabowo dalam pidatonya yang pertama setelah dicalonkan sebagai capres, di Planery Hall Jakarta Convention Center, Kamis (16/10).

Dia mengatakan Gerindra kini menjadi partainya wong cilik, partainya arus bawah, atau partainya orang kecil. Menurut dia, Pemerintah terlalu ceroboh untuk mengatakan indeks saham di Indonesia tinggi. Saat indeks tersebut jatuh seperti saat ini, lanjut Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra itu, tidak terdeteksi sedalam apa kejatuhan tersebut.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau