Wisatawan Asing Borong Seni Ukir Komoro

Kompas.com - 17/10/2008, 01:55 WIB

DENPASAR, JUMAT--Promosi dan demonstrasi pembuatan seni ukir oleh sejumlah warga Suku Kamoro, Kabupaten Mimika, Papua, pada festival sastra "Ubud Writers & Readers Festival 2008" di Ubud, Bali, menarik perhatian wisatawan asing dari berbagai negara.

Sejumlah wisatawan seperti dari Australia, Italia dan kawasan Eropa lainnya, langsung memborong aneka produk seni ukir berharga Rp50 ribu hingga sekitar Rp3 juta per unit, demikian ANTARA melaporkan dari Galeri Seni Toko-Toko di Campuhan, Ubud, Kamis.

Melihat banyak wisatawan asing yang berminat mengoleksi aneka produk seni ukir tersebut, PT.Freeport Indonesia selaku pendukung kegiatan itu memutuskan menjadikan Bali sebagai "jembatan" pemasaran ke pasar internasional.

Karlman Muller, penanggungjawab kegiatan Suku Kamoro di Campuhan, Ubud, menyebutkan, sejak dilakukan promosi, Selasa (14/10) bertepatan dimulainya "Ubud Writers & Readers Festival" (UWRF), sudah puluhan karya seni ukir yang dibeli wisatawan.

"Mereka umumnya tertarik dengan corak etnik produk seni ukir khas Kamoro yang dianggap sebagai ’barang’ baru. Banyak yang langsung terpesona melihat aneka model seni ukir Kamoro. Mereka tampaknya menemukan keunikan baru," katanya didampingi stafnya, Luluk Intarti.

Di bagian ruangan galeri berukuran tiga kali tujuh meter itu, dipajang ratusan produk seni ukir. Sementara di lantai depan, lima seniman ukir Kamoro, yakni Damianus, Kasimirus, Anselmus, Frederikus dan Imanuel, mendemonstrasikan kebolehannya dalam membuat aneka ukiran.

Menurut juru bicara PT Freeport Indonesia, Mindo Pangaribuan, galeri promosi dan demonstrasi seni ukir Kamoro yang semula hanya akan digunakan selama festival sastra hingga Minggu (19/10), ditetapkan untuk terus dibuka sebagai pusat promosi internasional.

Pada kegiatan yang dihadiri 120 penulis dari 20 negara itu, perusahaan tambang tersebut juga menjadi sponsor tunggal untuk program anak-anak. Program ini memfokuskan untuk mengenalkan dan melatih anak-anak mendalami kesusasteraan.

Perusahaan itu tahun 2008 menyisihkan dana sekitar Rp450 miliar, guna menjalan program kepedulian sosial, termasuk untuk operasional dua rumah sakit dan lima Puskesmas, serta mendukung program anak-anak pada URWR.

PT Freeport Indonesia juga menghadirkan siswa-siswi dari Yayasan Pendidikan Jayawijaya, Kabupaten Mimika, guna mengikuti serangkaian program anak-anak dalam UWRF.

Program anak-anak di antaranya lokakarya film, pemanfaatan kompos, arena bercerita, bermain dan belajar menyayangi alam, memberi kata pada irama, pelatihan jurnalistik, penulisan fiksi, workshop komik kartun, belajar Bahasa Indonesia, lokakarya menggambar, menulis cerita pendek, berbagi cerita dengan Butet Manurung, membuat lukisan besar, dan membuat wayang dari daun.

Jarinus Beanal, Karl Heinz Jelmau dan Amintri Steffani, yang dampingi gurunya, Elsie Maniagasi, dari SD Yayasan Pendidikan Jayawijaya, mengaku senang bisa mengikuti program bercerita tentang pelestarian lingkungan.

Bersama 62 siswa, termasuk dari beberapa negara, mereka dengan tekun mendengarkan Shamini Flind dari Malaysia, yang bercerita tentang pelestarian penyu dan upaya pelestarian lingkungan lainnya.(ANT)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau