Hanya Ada Tokoh Kelas Dua di Golkar

Kompas.com - 18/10/2008, 18:56 WIB

JAKARTA, SABTU - Pengamat politik dari Universitas Indonesia (UI) Arbi Sanit memperkirakan Rapimnas Golkar yang tengah berlangsung sekarang ini, belum bisa mengambil putusan penting seperti mengenai calon presiden serta mengenai koalisi dalam pemilu 2009. "Mengapa, karena konflik masing-masing kepentingan masih sangat rumit di dalam tubuh Golkar," tegas Arbi Sanit, menjawab Persda, Sabtu (18/10).

Menurutnya konflik di dalam itu terutama antara orang-orang yang berambisi menjadi capres serta orang-orang yang menginginkan Golkar  hanya sebagai cawapres saja. "Masalahnya, di Golkar tidak ada tokoh kelas satu, yang ada justru tokoh kelas dua. Tokoh-tokoh kelas satu itu justru berada di luar yakni di PDIP dan di Partai Demokrat," ujarnya.

Akibatnya, kata Arbi, petinggi-petinggi Golkar jadi serba salah. Seperti SOKSI, sayap Golkar, yang baru-baru ini mewacanakan hendak mengusung Sri Sultan Hamengku Buwono X jadi capres Golkar. Padahal, kata Arbi lagi, Sultan itu hanya tokoh kelas dua saja.

Karena tidak adanya tokoh kelas satu di Golkar, menurut Arbi, hal itu sudah disadari Ketua Umum Partai Golkar Jusuf Kalla yang juga Wapres itu. Sehingga begitu ada tawaran SBY agar JK menjadi cawapresnya pada pemilu 2009, langsung ditangkapnya. "JK tampaknya menyadari itu dan dia lebih memilih tawaran itu. Golkar sekarang ini ibarat badan besar tapi kepala kecil," tegasnya.

Arbi juga memperkirakan hasil pemilu legislatif nanti akan menjadi amunisi bagi Golkar apabila bisa memenangkan suara sebanyak 30 persen. "Kalau bisa mendapatkan suara sebanyak itu, Golkar akan memakainya sebagai amunisi untuk jual mahal kepada SBY, untuk meminta lebih banyak menteri-menteri di kabinet," ujar Arbi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau