Rubrik Konsultasi Kesehatan asuhan Prof Dr Samsuridjal Djauzi di surat kabar KOMPAS edisi Minggu:
Ayah saya (68) tinggal di rumah bersama kakak perempuan saya beserta keluarganya dan saya yang masih kuliah. Saya mahasiswi, sedang menyusun skripsi sehingga kewajiban kuliah sudah tidak ada. Karena itu, belakangan ini saya yang bertugas mengantar Ayah berobat ke rumah sakit.
Ternyata tugas tersebut cukup menyita waktu. Saya harus mengantar Ayah ke klinik jantung, kencing manis, dan rematik karena Ayah mengidap penyakit-penyakit tersebut. Setiap kunjungan menghabiskan waktu setengah hari.
Saya mulai menyadari orang berusia lanjut penyakitnya banyak. Karena saya juga yang mengambilkan obat Ayah, saya juga memahami orang usia lanjut memerlukan banyak obat.
Karena penglihatan Ayah terganggu katarak, maka saya juga harus membantu menyediakan obat Ayah pada pagi, siang, dan malam hari. Saya membayangkan bagaimana nasib orang lanjut usia yang tak punya anak, tentu mereka kesulitan mengonsumsi obat karena banyak jenisnya dan aturan pakainya berbeda-beda.
Ada obat yang dimakan sebelum makan dan ada yang sesudah makan. Semua dapat berjalan baik karena kerja sama kami di dalam keluarga.
Sebulan lalu Ayah yang biasa jalan kaki pagi mengeluh sesak napas. Saya mengira jantung Ayah kumat. Ternyata setelah berkonsultasi dengan dokter jantung, fungsi jantung beliau baik. Beliau justru dikonsultasikan ke dokter spesialis paru.
Saya terkejut karena ternyata Ayah terinfeksi tuberkulosis. Memang Ayah batuk, tetapi batuknya tidak hebat. Setahu saya gejala TBC adalah demam dan batuk berkepanjangan. Ayah tak demam. Apakah gejala tuberkulosis pada orang muda berbeda dari usia lanjut? Apa yang dapat kami lakukan agar kami di rumah tak tertular TBC dari Ayah? Terima kasih atas jawaban Dokter.
A di J
Pertama-tama saya ingin menyatakan penghargaan terhadap kepedulian Anda terhadap kesehatan ayah Anda. Mudah-mudahan Anda cepat menyelesaikan skripsi dan berhasil lulus secara baik.
Memang benar gejala infeksi pada orang berusia lanjut tak sama dengan orang muda. Jika seorang muda terinfeksi, misalnya, TBC, maka dia biasanya mengalami demam tinggi, batuk-batuk, dan berat badan menurun.
Pada orang berusia lanjut gejala klasik infeksi, yaitu demam, tak selalu timbul. Adakalanya yang terlihat orang berusia lanjut tersebut kurang nafsu makan, merasa lemas, dan ada juga yang kesadarannya menurun.
Jadi, memang infeksi pada orang berusia lanjut gejalanya berbeda dari orang muda. Ini disebabkan sistem kekebalan tubuh pada orang berusia lanjut menurun sehingga pertahanan tubuh kurang berjalan seperti waktu muda. Demam merupakan upaya tubuh mematikan kuman.
Karena sistem kekebalan menurun, maka reaksi demam mungkin tak jelas, bahkan tak timbul. Nah, gejala TBC paru pada orang berusia lanjut juga agak berbeda dari orang muda.
Gejala batuk yang merupakan gejala penting pada TBC pada orang muda ternyata pada usia lanjut kurang menonjol. Biasanya yang lebih sering dikeluhakan adalah gejala sesak. Untunglah dokter spesialis jantung cukup jeli sehingga kemudian diagnosis TBC paru dapat ditegakkan.
Terapi TBC paru di Indonesia tersedia dan bahkan mendapat bantuan pemerintah. Saya amat berharap agar Anda dapat memantu Ayah menyelesaikan terapi TBC paru yang memerlukan waktu 6-9 bulan.
Mengenai pencegahan penularan TBC di rumah yang diperlukan adalah upaya agar kuman TBC yang keluar pada waktu batuk atau bernapas tak terhisap orang lain, terutama anak-anak.
Biasanya jika penderita TBC paru telah minum obat TBC, kuman ini tak akan ditemukan lagi di dahaknya. Jadi, kemungkinan menular sudah menurun.
Selain itu biasanya dokter akan berupaya agar anak tidak tertular TBC dengan cara menjaga nutrisi yang baik dan memberi vaksinasi BCG.
Orang dewasa juga dapat mencegah penularan TBC dengan menjaga kesehatan dan kebugarannya serta berupaya agar tidak kontak dengan kuman TBC di udara yang dihasilkan penderita TBC yang tak diobati. Di samping minum obat TBC, ayah Anda tentu juga perlu nutrisi yang baik, istirahat cukup, dan tidur yang baik.
Saya juga prihatin mengenai jumlah obat yang harus diminum ayah Anda. Untuk itu di RS Cipto Mangunkusumo dan juga beberapa rumah sakit pemerintah lain tersedia layanan geriatri (layanan untuk usia lanjut). Layanan ini menghindari layanan terkotak pada orang berusia lanjut. Dengan demikian, tindakan, pemeriksaan penunjang serta obat yang diperlukan dirundingkan bersama dan dikoordinasikan. Perlu juga diingat pada orang berusia lanjut fungsi organ tubuh menurun sehingga dalam pemberian obat keadaan fungsi organ harus dipertimbangkan.
Dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk Indonesia dan peningkatan usia harapan hidup, jumlah populasi usia lanjut di Indonesia akan meningkat pula. Kita harus menyiapkan diri untuk dapat memelihara kesehatan kelompok usia lanjut dengan benar.
Jika selama ini setiap keluarga di Indonesia perlu memahami cara memelihara kesehatan bayi dan anak, maka sekarang pengetahuan keluarga tentang pemeliharaan kesehatan orang berusia lanjut juga harus ditingkatkan. Semoga ayah Anda cepat sembuh dan dapat menikmati jalan-jalan paginya lagi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang