Golkar Harus Memiliki Skenario Politik Terburuk

Kompas.com - 19/10/2008, 15:27 WIB

JAKARTA, RABU - Partai Golkar harus menyiapkan skenario politik terburuk dalam menghadapi pemilihan umum anggota legislatif dan capres dan cawapres. Misalnya, jika perolehan suara tidak mencapai targat bahkan untuk dapat mencalonkan presiden dan wakil presiden.

Hal tersebut disampaikan Fadel Muhammad, Ketua DPD I Partai Golkar Gorontalo yang saat ini masih menjabat Gubernur Gorontalo di sela Rapimnas Partai Golkar, Minggu (19/10). Fadel mengatakan, Partai Golkar juga harus menyiapkan skenario yang tepat jika terpaksa harus berkoalisi.

Ia memberi contoh pada pencalonan presiden dan wakil presiden apabila pansus RUU Pilpres akhirnya menetapkan 25 persen kursi legislatif sebagai syarat bagi partai politik atau gabungan parpol untuk dapat mengajukan pasangan capres dan cawapres. Jika pencapaian suara pada Pemilu kurang dari angka tersebut, Golkar harus sudah merencanakan partai-partai yang akan dirangkul.

"Jika demikian, kita harus tahu partai mana yang kita harus rangkul, dan bagaimana cara merangkulnya," ujar Fadel saat Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) IV dan HUT ke-44 Partai Golkar di Jakarta Convention Center, Jakarta, Minggu (19/10).Tapi sekalipun nantinya Golkar berkoalisi, lanjut Fadel, partainya harus tetap menjadi partai yang memimpin dan memegang tongkat kendali koalisi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau