BEKASI,SENIN-Warga Jatimekar, Kota Bekasi, digemparkan oleh kepulangan Hasan Basri (30), pria bertato yang selama ini diduga sebagai korban mutilasi yang ditemukan di bus Mayasari Bakti. Hasan Basri bagaikan bangkit dari maut.
Hasan Basri muncul di rumahnya di RT 03/17 Kelurahan Jatimekar, Jatiasih, Kota Bekasi pada Sabtu (18/10) usai Isya. Saat itu, sejumlah tetangga dan kerabat telah berkumpul untuk menggelar tahlil hari ketujuh atau hari terakhir. Sejak enam hari sebelumnya, keluarga Hasan menggelar tahlil untuk minta petunjuk dari Allah tentang Hasan Basri.
Kemunculan Hasan dalam kondisi sehat walafiat membuat keluarga dan tetangganya terkejut. Mereka segera mengerubungi bapak dua anak yang sempat disangka telah menjadi korban mutilasi itu. Warga Kampung Rawabogo pun gempar.
Bahkan ada warga yang memukul Hasan untuk menyakinkan bahwa yang muncul di hadapan mereka adalah Hasan sesungguhnya. Mereka juga memukul Hasan karena gemas. Tahlil hari terakhir itu pun berubah menjadi acara selamatan untuk bersyukur karena Hasan Basri pulang dalam kondisi segar bugar.
Semalam, Hasan Basri diperiksa di Unit 1 Satuan Jatanras Polda Metro Jaya. Dia diperiksa terkait dengan keberadaannya selama beberapa minggu terakhir. Menurut seorang penyidik, Hasan Basri mengaku dirinya pergi ke rumah istri keduanya di Desa Jangkring, Lampung Selatan.
Seperti diberitakan, keluarga Hasan Basri menduga bahwa korban mutilasi yang ditemukan di bus Mayasari Bakti 29 September lalu adalah Hasan Basri yang tidak pulang sejak 27 September. Dugaan tersebut didasarkan pada tato macan di lengan korban mutilasi. Hasan Basri juga memiliki tato seperti itu di lengannya.
Hingga kemarin siang, keharuan masih terasa di rumah Hasan. Sejumlah kerabat dan tetangga berdatangan untuk menemui Hasan. Menurut Hasan, ia sama sekali tidak tahu tentang kasus mutilasi di bus Mayasari Bakti. Hasan juga tidak tahu bahwa dirinya did-uga sebagai korban mutilasi itu.
Tahlil Korban Mutilasi Bubar TATO — Hasan Basri, warga Jatimekar, Kota Bekasi, yang disangka sebagai korban mutilasi pulang dalam keadaan sehat walafiat. Hasan memiliki tato kujang bergagang kepala naga di lengannya.Warta Kota/dedy
Hasan mengatakan, sejak Jumat (26/9) dirinya pergi ke daerah Cintajaya Dua, Lampung Selatan untuk menjenguk kawan akrabnya yang sakit. Menurut Hasan, sang kawan yang tinggal di Cintajaya Dua tersebut sudah ia anggap sebagai saudara.
Hasan pergi ke Lampung dengan sepeda motor Honda Revo B 6559 KOT warna merah. Pria asli Betawi yang bernama asli Marhasan Basri itu pamit kepada Mustafa (24), adiknya, namun tidak pamit kepada istri maupun saudaranya yang lain. Hasan Basri memiliki dua anak dari hasil perkawinannya dengan Sudarmi (30). Kedua anaknya adalah Muhammad Fadli Aditya Saputra (13) dan Muhammad Rizki Fauzi (9).
Sejak tiba di Lampung, Hasan tidak pernah mengabari keluarganya. Hasan beralasan, ketika di kapal penyeberangan, handphone (HP) GSM miliknya hilang. Dengan demikian, dia hanya memegang HP CDMA. "Di Lampung sana HP itu enggak dapat sinyal, akhirnya saya enggak pernah menghubungi keluarga saya," ujar Hasan kepada Warta Kota, Minggu (19/10) sore.
Bahkan, kata Hasan, di tempat tinggal sang kawan, tidak ada listrik, radio, maupun televisi. Alhasil, dia sama sekali tidak tahu ketika namanya disebut-sebut pada berita-berita di televisi karena diduga sebagai korban mutilasi.
Tato
Menurut Mustafa, adik Hasan Basri, pada Senin (27/9) dia diberi tahu tetangganya bahwa ada korban mutilasi dengan ciri-ciri mirip Hasan. Kasus mutilasi itu ditangani Polsektro Cakung, Jakarta Timur. Mustafa lantas mendatangi Polsektro Cakung untuk mengecek mayat korban mutilasi tersebut.
"Saya baru bisa melihat foto-foto korban mutilasi itu pada hari Senin (sesudah Lebaran—Red). Saat itu, saya masih ragu-ragu meskipun ada sejumlah kesamaan antara korban mutilasi tersebut dengan abang saya, salah satunya adalah kaki. Kakak saya juga menggunakan sepatu nomor 41 dan 42," kata Mustafa.
"Selain itu ada tato macan di dada dan tangan korban mutilasi tersebut," imbuh Mustafa.
Menurut Mustafa, selama ini dia tidak pernah memperhatikan secara detail bentuk tato di lengan kiri sang kakak. Namun, ketika melihat tato macan lengan korban mutilasi, Mustafa mengiyakan bahwa mayat itu adalah kakaknya. "Saat melihat tato macan, saya panik akhirnya dan tidak berpikir rasional. Meskipun tidak percaya tapi saya juga setengah yakin bahwa mayat itu adalah kakak saya," ujarnya.
Mustafa kemudian menjalani pemeriksaan di Polsektro Cakung maupun Polda Metro Jaya. Mustafa juga berupaya mencari Hasan Basri ke Karawang tapi tak membuahkan hasil. "Saya juga pergi ke Cirebon untuk menjemput Abud, pria yang membuatkan tato di tubuh kakak saya," ujarnya. Sejauh itu, polisi belum membenarkan bahwa korban mutilasi di bus Mayasari Bakti itu adalah Hasan Basri.
Hari Lebaran lalu, dilalui keluarga besar Hasan Basri dengan kegundahan. Beberapa hari setelah Lebaran, keluarga Hasan Basri menggelar tawasalam selama tiga hari dan tahlilan selama tujuh hari. "Kegiatan itu kami lakukan untuk meminta petunjuk kepada Allah, jika kakak saya masih hidup kami meminta agar dia pulang dan jika sudah meninggal, tolong kami diberi tahu letak mayatnya," ujar Mustafa.
Kumpulkan uang
Hasan mengaku, selama ini dia sering meninggalkan rumah untuk kepentingan jual beli sepeda motor di Lampung. Dia juga sering tinggal beberapa pekan di Lampung Selatan. Ketika terakhir berangkat ke Lampung Selatan, Hasan berencana pulang pada malam takbiran.
Namun, lantaran kehabisan uang, akhirnya Hasan Basri tinggal lebih lama di Lampung Selatan. "Saya kehabisan uang, sepeda motor saya juga rusak. Akhirnya kerja di Lampung Selatan untuk ongkos pulang ke Bekasi," ujar Hasan Basri.
Hasan mengaku dia bekerja menjadi buruh pemetik kelapa dan jagung. Setelah mendapatkan uang Rp 150.000, Hasan membetulkan sepeda motornya. Sisa uang sebesar Rp 100.000 ia gunakan untuk ongkos pulang ke Bekasi. "Saya hanya membawa uang pas-pasan untuk pulang ke rumah. Untung saja di tengah jalan tidak ada peristiwa yang seperti kempis ban dan sebagainya," ujarnya.
Dalam perjalanan pulang, sekitar pukul 15.30, Hasan mampir di rumah kerabatnya, H Ulum, di Jalan Raya Pekayon, Pondokgede. Ulum tidak percaya melihat Hasan masih hidup. Dia menanyai Hasan hingga akhirnya percaya bahwa yang berdiri di depannya adalah benar-benar Hasan Basri.
"Karena takut warga gempar, saya disuruh tinggal sejenak di rumah Haji Ulum. Setelah salat Isya saya diantar pulang. Saya saat itu juga kaget kenapa akhirnya jadi begini. Banyak warga yang menyangka saya sudah mati. Bahkan ibu saya dan istri saya juga pingsan ketika melihat saya," ujar Hasan Basri.
Hasan mengatakan bahwa peristiwa tersebut akan ia jadikan pelajaran berharga dan tidak akan meninggalkan rumah lagi. "Peristiwa ini saya jadikan pelajaran dan hikmahnya sangat besar. Selama ini saya merasa keluarga saya tidak memperhatikan saya tapi ternyata mereka sangat sayang kepada saya," ujar Hasan yang ternyata memiliki tato bergambar kujang dengan gagang berupa kepala naga.(mur/wid)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang