Asal-Usul Patung Gajah Museum Nasional (3)

Kompas.com - 20/10/2008, 14:20 WIB

Bagian Dua: Dari Singapura ke Jawa

24 Maret

Pukul 09.30 kapal kerajaan telah memasuki Selat Riau. Menjelang petang, Kepulauan Lingga terlihat di sisi kanan kapal pada jarak 15 mil.

25 Maret

Pagi hari, kapal kerajaan memasuki sisi utara Selat Bangka. Pukul 08.00 Baginda Raja melihat mercusuar di sisi timur Selat Bangka. Pukul 09.00 kapal kerajaan masuk Selat Bangka dan keluar di sisi selatan menjelang petang.

26 Maret

Pukul 09.00 kapal kerajaan telah memasuki perairan Kepulauan Seribu. Pukul 11.00 kapal kerajaan memasuki Teluk Batavia (sekarang Teluk Jakarta-red). Sejumlah kapal perang, kapal uap dan galangan kapal terlihat di kejauhan.

Pukul 13.00 kapal kerajaan melintasi kapal-kapal perang Kerajaan Belanda. Sebanyak delapan kapal perang melepaskan salvo 21 tembakan meriam untuk menghorm ati Baginda Raja Chulalangkorn. Setelah melepas sauh, Gubernur Jenderal, Asisten Residen, Syahbandar dan lima pejabat Hindia Timur Belanda naik ke atas kapal kerajaan menyambut Baginda Raja Chulalangkorn.

27 Maret

Pukul 07.00 Gubernur Jenderal Hindia Belanda Timur Pieter Meijer mengirim kapal uap untuk mengantar Baginda Raja Chulalangkorn dan delegasi turun ke darat. Setelah acara memberi salam yang berlangsung sekitar 20 menit, Baginda Raja menaiki kereta ditarik enam ekor kuda menuju hotel di Rijswijk (sekitar Jalan Juanda dan Veteran sekarang-red) untuk bertemu Gubernur Jenderal Pieter Meijer bersama para pejabat tinggi, konsul asing dan para isteri mereka.

Pada petang hari, Baginda Raja berpesiar melihat suasana Batavia. Saat malam hari, Gubernur Jenderal Pieter Meijer bersama 700-800 undangan kehormatan dan para konsul bertemu dengan Baginda Raja Chulalangkorn.

28 Maret

Pukul 07.00 Baginda Raja menumpang trem selama setengah jam lalu dilanjutkan kereta kuda menuju Meester Cornelis meninjau pabrik senapan dan mengunjungi barak militer di mana atraksi keterampilan militer ditampilkan. Selanjutnya, Baginda Raja mengunjungi sekolah (gymnasium-red) Koning Willem II I (kini menjadi Perpustakaan Nasional di Jalan Salemba-catatan Kompas) dan sebuah panti asuhan. Pada kunjungan di Akademi Militer di Weltevreden, Baginda Raja menonton latihan ketangkasan para taruna akademi, melihat meriam koleksi dan rumah sakit (rumah s akit militer tersebut kini menjadi Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat RSPAD Gatot Subroto-catatan Kompas).

Pada pukul 17.00 Baginda Raja beranjangsana keliling Kota Batavia. Saat malam tiba, kerumunan warga datang untuk mempersembahkan pertunjukan kepada Baginda Raja Chulalangkorn di depan hotel hingga larut malam.

29 Maret

Baginda Raja Chulalangkorn dengan seragam resmi Kerajaan Siam didampingi Gubernur Jenderal Pieter Meijer meninjau latihan perang dari atas panggung di Lapangan Raja (Koningsplein-alias Lapangan Monas-catatan Kompas). Pelbagai simulasi penembakan senjata api dan artileri ditampilkan oleh 3.000 perwira dan prajurit dari unit Artileri, Kavaleri dan Infantri.

Pada pukul 20.30 Gubernur Jenderal Pieter Meijer mengundang Baginda Raja Chulalangkorn menghadiri gala di Klub Harmonie sebuah klub social warga elite. Bangunan Harmonie dihiasi seperti mahkota tujuh tingkat. Lambang Kerajaan Belanda dan Kerajaan Siam dipasang berdampingan dengan lampu gas. Sekitar 1.000 pria dan wanita berdansa hingga puk ul 23.00.

30 Maret

Baginda Raja mengunjungi Mahkamah Agung, pabrik pembuat mesin, Rumah Pabean, Jembatan Tarik dan beberapa toko. (Mahkamah Agung di masa itu terletak di bangunan yang kini menjadi Museum Seni Rupa dan Keramik dan Jembatan tarik adalah Jemba tan Kota Intan di Kalibesar-catatan Kompas).

Pada pukul 20.00 Baginda Raja dan delegasi menghadiri pesta kehormatan di Balai Kota (sekarang Museum Sejarah Jakarta-catatan Kompas) yang dihadiri sekitar 100 pengunjung warga asing.

31 Maret

Pukul 07.00 Baginda Raja mengunjungi Kebun Binatang, Gereja Inggris (kini Gereja Anglikan di Tugu Tani-catatan Kompas) dan Gereja Katolik Roma milik masyarakat Perancis. (Kerajaan Siam memiliki kedekatan hubungan dengan Kerajaan Prancis dan umat Katolik menilik latar sejarah adanya hubungan diplomatik dengan Raja Louis ke XIV pada abad 18 semasa pemerintahan Raja Phra Narai di masa ibukota berada di Ayuthaya. Sejak lama rohaniwan Katolik Perancis dan Portugis dari Ordo Jesuit berkarya di Siam. Hubungan baik ini berlanjut pada masa Dinasti Chakri ketika Ibukota sudah pindah ke Bangkok. Hubungan sempat renggang ketika Kerajaan Prancis dan Kerajaan Inggris berlomba-lomba meluaskan pengaruh di Burma, Kamboja, Vietnam, Laos dan Malaya-catatan Kompas)

Pada pukul 16.00 Baginda Raja mengunjungi museum yang menampilkan benda antik peradaban adiluhung Jawa tempo dulu dan dari negeri lain.

Pukul 20.00 Baginda Raja menghadiri acara dansa super mewah di Club Concordia, sebuah klub perwira militer. Pertunjukan kembang api digelar malam itu.

1 April

Pukul 07.00 Baginda Raja kembali ke kapal kerajaan. Sebuah arak-arakan resmi disiapkan untuk mengantar Baginda Raja Chulalangkorn seperti saat kedatangan beliau. Pada pukul 11.00 kapal kerajaan berangkat meninggalkan pelabuhan Batavia menuju Semarang, Jawa Tengah.

bersambung...


(Oleh Iwan Santosa disarikan dari Journeys to Java by a Siamese King karya Imtip Pattajoti Suharto, printed by ITB Press, Bandung, 2001, ditambah riset pribadi dari pelbagai sumber)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau