JAKARTA, SENIN - Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Sofyan Djalil membantah langkah sekitar 11 BUMN melakukan program pembelian kembali (buy back) saham BUMN yang diperdagangkan di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI) demi mencegah kejatuhan indeks harga saham gabungan (IHSG) ke level lebih dalam tidak efektif. "Kita hijau juga tadi," jawab Menneg BUMN Sofyan Djalil, Senin (20/10), ketika ditanya tentang tidak efektifnya program buy back saham yang digenjot pemerintah.
Menurut Sofyan, langkah buy back saham BUMN tidak dimaksudkan untuk melawan pasar. Buy back saham justru ingin memberi kesan kepada publik bahwa saham-saham BUMN kinclong. "Tapi tentu kita tidak agresif," ujarnya.
Sofyan menjelaskan, ada aturan perihal buy back saham oleh 11 BUMN di Tanah Air. Ketentuan buy back yang diperlonggar tertuang pada Peraturan Bapepam-LK No. XI.B.3 tentang Pembelian Kembali Saham Yang Dikeluarkan Oleh Emiten Atau Perusahaan Publik Dalam Kondisi Pasar Yang Berpotensi Krisis. Tidak hanya itu, aturan buy back diperlonggar dari maksimal hanya 10 persen total saham yang beredar menjadi hinga 20 persen, dan tanpa harus menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
"Kemudian ada aturannya kalau harga hari ini lebih baik dari kemarin, kita tidak boleh beli. Baru boleh beli kalau harga hari ini lebih buruk dari kemarin. Kita tidak akan menekan pasar," terangnya.
Menurut catatan, BUMN yang telah menyatakan siap untuk mengikuti program tersebut yaitu Bank Mandiri, Bank BNI, Jasa Marga, Aneka Tambang, Timah, PGN, Semen Gresik, Tambang Batubara Bukit Asam, Adhi Karya. Adapun Telkom yang sebelumnya juga telah melakukan program buyback, juga ikut mendukung aksi buy back bersama BUMN lainnya.
Sofyan menambahkan, program buy back saham juga diperuntukkan untuk meredam kepanikan di perdagangan saham.
"Investor asing menjual motifnya ada dua yakni karena peluang, dan kedua kadang-kadang mempengaruhi harga. Nah, orang kita ikut-ikutan karena tidak tahu apa yang terjadi. Dengan adanya buy back kita mengharap orang yang ikut-ikutan terhindar," katanya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang