Penanggulangan Banjir Butuh Rp 22 Triliun

Kompas.com - 20/10/2008, 17:49 WIB

Jakarta tidak akan bebas banjir meski Banjir Kanal Timur (BKT) selesai dibangun. Selain BKT, Jakarta butuh puluhan polder, waduk serta perlu melakukan normalisasi sungai. Namun upaya normalisasi sungai dan pembangunan polder butuh dana besar, sedikitnya Rp 22 triliun.

Wakil Gubernur DKI Jakarta, Prijanto, mengemukakan hal itu di Balaikota, Senin (20/10), saat memaparkan konsep penanggulangan banjir di Jakarta kepada wartawan. Konsep itu, kata dia, telah dipaparkan kepada anggota Komisi VII DPR RI.

Prijanto mendata sejumlah hal yang menyebabkan Jakarta rawan banjir, yaitu permukaan tanah (sekitar 40 persen dari luas wilayah) yang lebih rendah dari permukaan laut, populasi penduduk yang padat (saat ini sekitar 9,5 juta jiwa dengan tingkat kepadatan 13.000 - 15.000 orang per kilometer), 13 sungai yang melewati Jakarta, terjadi penurunan permukaan tanah (diperkirakan akan mencapai 8-12 cm pada tahun 2025), naiknya permukaan air laut (diprediksi mencapai 80-120 cm pada tahun 2025), curah hujan di atas normal, dan perilaku masyarakat yang suka buang sampah ke sungai serta menempati bantaran sungai.

Untuk mengatasi persoalan banjir yang mengancam Jakarta saban tahun itu, pembangunan BKT saja tidak cukup. BKT hanya akan menerima air dari lima aliran sungai yaitu Kali Cipinang, Kali Sunter, Kali Buaran, Kali Jati Kramat, dan Kali Cakung. "Jadi, meski sudah ada BKT tidak berarti wilayah di selatan dan di utara BKT dengan sendirinya akan bebas bajir. Daerah Kelapa Gading misalnya, masih perlu bangun polder," katanya.

Dalam hitungan yang dilakukan Prijanto, untuk normalisasi sungai perlu dana Rp 16 trilun, sementara untuk pembangun polder dan waduk masing-masing butuh dana Rp 4 triliun dan Rp 2 triliun.

Meski telah menentukan target waktu tahun 2012 pembangunan polder, waduk dan normalisasi sungai selesai dikerjakan, Prijanto dalam konsepnya itu tidak secara jelas menyebutkan tahapan pembangunan atau pengerjaan proyek tersebut.

Sementara itu, untuk mengatasi banjir jangka pendek, ia mengatakan, "Paling banter kita melakukan kerukan. Kita juga akan menyiagakan posko-posko di daerah rawan banjir."

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau