Perhatian, Ekspor Garmen ke AS Makin Sulit!

Kompas.com - 21/10/2008, 16:13 WIB

JAKARTA, SELASA - Ekspor produk garmen Indonesia ke Amerika Serikat akan semakin sulit dengan ketatnya persaingan di tengah melemahnya permintaan akibat krisis keuangan yang melanda negara tersebut.
    
"Ekspor dalam dua tahun ke depan akan lebih sulit. Selama enam bulan terakhir ini saja ekspor Indonesia sudah menurun 3 persen. Itu tanda yang mengkhawatirkan karena ekspor garmen Indonesia 60 persennya masuk ke AS," kata ahli pengadaan garmen internasional, Henrietta Lake dalam diskusi Laporan daya saing ekspor yang dibuat SENADA (program yang didanai USAID), di Jakarta, Selasa (21/10).
    
Sejak Juli 2008, lanjut dia, sudah ada penurunan permintaan ekspor. Meski demikian, Lake mengungkapkan beberapa merek garmen ternama di AS menilai produk Indonesia lebih baik dibanding negara lain seperti China dan Vietnam. Di Vietnam, inflasi tinggi dan beberapa pabrik mulai tutup, sedangkan China daya saingnya mulai menurun. "Pembeli dan investor akan tetap kembali ke Indonesia, tapi tidak boleh santai-santai saja,"ujarnya.
    
Lake menyarankan pengusaha Indonesia harus mulai meningkatkan kualitas produknya terutama dari segi desain dan harga. Untuk mengikuti keinginan pembeli, pengusaha harus mendapatkan akses terhadap informasi pasar garmen internasional.
    
Lebih lanjut, Lake mengatakan kerja sama kemitraan bidang ekonomi (Economic Partnership Agreement/EPA) antara Indonesia dengan Jepang dapat menjadi peluang untuk pengalihan ekspor dari AS.
    
Selama 2007, AS mengimpor garmen dari Indonesia sekitar 3,079 miliar dollar AS, dari China 13,962 miliar dollar AS, dan dari India 2,123 miliar dollar AS.
    
Konsultan  SENADA, Dionisius Nardjoko yang membuat Laporan Daya Saing Ekspor Indonesia 2008 mengatakan kinerja ekspor garmen Indonesia selama 2000 hingga 2007 tumbuh 3,8 persen per tahun. Namun, terdapat variasi yang besar di antara produk dan sepanjang waktu.
    
Beberapa produk seperti jas hujan dan pakaian untuk wanita mengalami penurunan ekspor mulai 2003. Sementara produk tertentu seperti celana panjang wanita dan celana panjang pria dari bahan bukan rajutan tren ekspornya tetap mengalami peningkatan.
    
Menurut dia, produk garmen Indonesia masih memiliki daya saing global mengingat harga produk per unitnya stabil dan agak menurun pada 2007. Produk-produk garmen yang diekspor Indonesia juga memiliki tingkat spesialisasi yang tinggi.
    
Pangsa pasar produk garmen ekspor Indonesia selama 2000 hingga 2007 mengalami kenaikan yaitu dari 3,7 persen menjadi 4,5 persen. "Tapi kenaikannya tidak sebesar negara lain. China selama tujuh tahun terakhir mengalami kenaikan pangsa pasar hingga tiga kali lipat yaitu dari 17,2 persen menjadi 57 persen," tambahnya.
    
India juga mengalami kenaikan pangsa pasar yang cukup besar yaitu dari 3,8 persen menjadi 5,3 persen.

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau