JAKARTA, SELASA - Ekspor produk garmen Indonesia ke Amerika Serikat akan semakin sulit dengan ketatnya persaingan di tengah melemahnya permintaan akibat krisis keuangan yang melanda negara tersebut.
"Ekspor dalam dua tahun ke depan akan lebih sulit. Selama enam bulan terakhir ini saja ekspor Indonesia sudah menurun 3 persen. Itu tanda yang mengkhawatirkan karena ekspor garmen Indonesia 60 persennya masuk ke AS," kata ahli pengadaan garmen internasional, Henrietta Lake dalam diskusi Laporan daya saing ekspor yang dibuat SENADA (program yang didanai USAID), di Jakarta, Selasa (21/10).
Sejak Juli 2008, lanjut dia, sudah ada penurunan permintaan ekspor. Meski demikian, Lake mengungkapkan beberapa merek garmen ternama di AS menilai produk Indonesia lebih baik dibanding negara lain seperti China dan Vietnam. Di Vietnam, inflasi tinggi dan beberapa pabrik mulai tutup, sedangkan China daya saingnya mulai menurun. "Pembeli dan investor akan tetap kembali ke Indonesia, tapi tidak boleh santai-santai saja,"ujarnya.
Lake menyarankan pengusaha Indonesia harus mulai meningkatkan kualitas produknya terutama dari segi desain dan harga. Untuk mengikuti keinginan pembeli, pengusaha harus mendapatkan akses terhadap informasi pasar garmen internasional.
Lebih lanjut, Lake mengatakan kerja sama kemitraan bidang ekonomi (Economic Partnership Agreement/EPA) antara Indonesia dengan Jepang dapat menjadi peluang untuk pengalihan ekspor dari AS.
Selama 2007, AS mengimpor garmen dari Indonesia sekitar 3,079 miliar dollar AS, dari China 13,962 miliar dollar AS, dan dari India 2,123 miliar dollar AS.
Konsultan SENADA, Dionisius Nardjoko yang membuat Laporan Daya Saing Ekspor Indonesia 2008 mengatakan kinerja ekspor garmen Indonesia selama 2000 hingga 2007 tumbuh 3,8 persen per tahun. Namun, terdapat variasi yang besar di antara produk dan sepanjang waktu.
Beberapa produk seperti jas hujan dan pakaian untuk wanita mengalami penurunan ekspor mulai 2003. Sementara produk tertentu seperti celana panjang wanita dan celana panjang pria dari bahan bukan rajutan tren ekspornya tetap mengalami peningkatan.
Menurut dia, produk garmen Indonesia masih memiliki daya saing global mengingat harga produk per unitnya stabil dan agak menurun pada 2007. Produk-produk garmen yang diekspor Indonesia juga memiliki tingkat spesialisasi yang tinggi.
Pangsa pasar produk garmen ekspor Indonesia selama 2000 hingga 2007 mengalami kenaikan yaitu dari 3,7 persen menjadi 4,5 persen. "Tapi kenaikannya tidak sebesar negara lain. China selama tujuh tahun terakhir mengalami kenaikan pangsa pasar hingga tiga kali lipat yaitu dari 17,2 persen menjadi 57 persen," tambahnya.
India juga mengalami kenaikan pangsa pasar yang cukup besar yaitu dari 3,8 persen menjadi 5,3 persen.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang