PONTIANAK, SELASA - Harga jual minyak sawit mentah atau CPO yang anjlok dalam beberapa pekan terakhir, jika terus berlanjut dalam enam bulan ke depan dikhawatirkan akan membuat industri kelapa sawit di Kalimantan Barat terpuruk. Hampir setengah juta pekerja di sektor perkebunan sawit di Kalbar terancam mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK).
Demikian terungkap dalam pertemuan antara Gubernur Kalbar Cornelis dan Wakil Gubernur Kalbar Christiandy Sanjaya, dengan asosiasi pengusaha kelapa sawit dan karet di Kalbar, Selasa (21/10), di Pontianak.
Ketua Gabungan Pengusaha Perkebunan Indonesia (GPPI) Kalbar Ilham Sanusi, mengungkapkan, harga jual CPO yang saat ini hanya Rp 3.600 tiap kilogram, sangat tidak sebanding dengan ongkos produksinya. U ntuk memproduksi satu kilogram CPO dibutuhkan sekitar lima kilogram tandan buah segar (TBS) sawit. H arga beli TBS di tingkat petani saat ini berkisar Rp 1.060 tiap kilogram. Ini berarti untuk memproduksi satu kilogram CPO, pengusaha sawit di Kalbar terpaksa merugi sekitar Rp 1.700.
Sementara dengan areal kebun sawit tertanam sekitar 400.000 hektar, 17 pabrik kelapa sawit di Kalbar bisa memproduksi sekitar 800.000 ton CPO per tahun. Jika kondisi keterpurukan harga CPO berlangsung selama enam bulan dan pabrik kelapa sawit terus berproduksi, maka total kerugian yang diderita pengusaha sawit di Kalbar setidaknya mencapai Rp 680 miliar atau setara hampir separuh APBD Kalbar.
Kalau sampai PHK terpaksa dilakukan, tidak hanya berdampak bagi 500.000 pekerja di sektor perkebunan sawit, tetapi juga sekitar dua juta orang keluarga mereka. Jumlah ini hampir s eparuh dari jumlah penduduk di Kalbar yang berkisar empat juta jiwa, kata Ilham.
Gubernur Kalbar Cornelis menyatakan akan menyampaikan persoalan seputar keterpurukan industri sawit di Kalbar ini kepada Presiden RI Soesilo Bambang Yudhoyono. Kami di Kalbar ini kondisinya sudah tiarap, j adi perlu ada solusi segera untuk menyelamatkan rakyat Kalbar, katanya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang