Jangan Asal Minum Pendongkrak Imun

Kompas.com - 22/10/2008, 17:16 WIB

PENGGUNAAN obat yang merangsang dan memperbaiki kekebalan tubuh atau yang populer dengan sebutan imunomodulator sebaiknya dilakukan lebih bijaksana. Kurangnya pemahaman masyarakat akan imunomodulator membuat zat ini kerap disalahgunakan dan dianggap seperti vitamin atau suplemen. Padahal, pemakaian yang tidak tepat justru dapat merugikan tubuh yakni merangsang timbulnya alergi.

"Imunomodulator ini sering disalahgunakan dianggap seperti vitamin dan disuruh dikonsumsi tiap hari.  Kalau orang sehat diberi imunomodulator apa akibatnya? Bisa berlebih-lebihan kekebalannya dan alerginya tambah jadi karena penyakit autoimun dan lainnya," ungkap Dr Zakiudin Munasir, Sp. A (K), Ketua Divisi Alergi Imunologi, Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM, dalam Konferensi Pers Nutrilon Royal 3 di Jakarta, Rabu (22/10).

Dr Zakiudin menekankan bahwa imunomodulator hanya boleh digunakan apabila seseorang, baik anak-anak atau dewasa mengalami gangguan kekebalan tubuh. "Misalnya ketika anak sedang sakit, anak sakit-sakitan karena kurang kekebalan tubuh atau sehabis sakit berat itu ok.  Tapi kalau anak sehat-sehat saja, jangan setiap hari," terangnya.  

Dokter yang menjabat sebagai Perhimpunan Alergi-Imunologi (Peralmuni) Cabang Jakarta itu juga menyarankan agar tidak untuk mengonsumsi imunomodulator, walaupun dalam dalam bentuk fitofarmaka setiap hari karena akan merangsang alergi.

"Fitofarmaka itu kan obat.  Meskipun bahannya alami, orang apakah harus meminum jamu setiap hari misalnya. Yang boleh kalau dia sudah sakit, misalnya lagi flu, ketularan cacar dari saudara atau kalau habis sakit berat. Kalau kekebalan tubuh  normal, buat apa dirangsang-rangsang, nanti malah kelelahan," jelasnya.

Meski sejauh ini belum ada penelitian tentang akibat penggunaan imunomodulator berlebihan, Zakiudin menyatakan bahwa secara teori tubuh akan sangat rentan terhadap alergi.

"Kalau kekebalan tubuh normal dirangsang terus, seseorang akan tambah jadi alerginya. Nanti kekebalannya jadi berlebihan.  Pokoknya imunomodulator itu bukan sebagai suplemen tetapi memang diperlukan di kala tubuh membutuhkannya seperti saat terkena infeksi," tambahnya.

Imunomodulator, lanjut Zakiudin, memang berbeda dengan vitamin yang dapat dikeluarkan tubuh saat tidak lagi diperlukan atau berlebihan. Bila kekebalan tubuh terlalu berlebih, tubuh menjadi terlalu sensitif dan keseimbangan sel-sel limfosit menjadi terganggu.

"Dalam tubuh itu ada keseimbangan sel-sel limfosit yakni sel limfosit T-helper1 yang  dan limfosit T-helper 2. Sel T helper 1 lebih berperan kepada kekebalan tubuh terhadap infeksi sedangkan T helper 2 berperan pada antibodi.  Pada orang yang reaksi kekebalan tubuhnya berlebihan akan mudah alergi karena sel limfosit T-helper 2 menjadi terlalu dominan," tandasnya. 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau