YOGYAKARTA, RABU - Perusakan fasilitas di dalam gerbong kereta api masih terjadi, walau frekuensinya mulai menurun. Ini menunjukkan sebagian masyarakat tidak menghargai fasilitas KA.
Beberapa yang menjadi sasaran perusakan adalah kaca jendela dan jok kursi. Sedangkan sasaran pencurian biasanya kran di toilet, lampu-lampu, dan pinggiran jendela yang terbuat dari alumunium. Selain itu adalah corat-coret di dinding.
Menurut Humas PT KA Daerah Operasi VI Yogyakarta Hartomo Wiropuspito , perusakan kaca membuat citra PT KA sebagai moda transportasi yang tidak nyaman dan tidak aman. Sebulan sekali pasti ada insiden pelemparan batu ke kaca.
Insiden terakhir 12 Oktober lalu di kaca KA Lodaya saat melintas di jalur Jenar-Wates. "Seorang anak berusia tujuh tahun terluka pelipisnya karena terkena serpihan kaca," ujar Hartomo , Rabu (22/10).
"Dari sekian insiden perusakan kaca di Daop VI, hanya sekali yang pelakunya bisa ditangkap, yakni tahun 2007 lalu di Solo. Saat itu si masinis sempat melihat pelaku dan bisa mengejarnya. Ternyata orang itu hanya iseng," ucapnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang