Gairah Berkesenian di Lereng Merapi-Merbabu

Kompas.com - 22/10/2008, 20:40 WIB

Oleh Sri Rejeki

Dua orang bersepatu bot yang dihiasi kerincingan melaju pada tanah yang menurun, menuju depan panggung. Di Panggung itu ada musisi dan nayaga yang memainkan komposisi musik dinamis. Bunyi- bunyian dihasilkan berasal dari gendang, drum, bende, rebana, demung, dan saron.

Kostum yang dipakai penari tampak atraktif, yakni paduan kain mengkilat berwarna merah, kuning, dan hijau yang dibuat berlapis- lapis dengan bagian ekor yang membentuk setengah lingkaran. Kostum ini dilengkapi dengan topeng raksasa bergigi taring panjang dan rambut gimbal berwarna-warni yang panjangnya menyentuh bokong.

Keduanya menggoyangkan kaki kiri dan kanan masing-masing secara bergantian dalam gerakan sederhana mengikuti irama.

Setelah 10 menit, muncul belasan penari lainnya. Mereka menampilkan gerakan yang sama secara berulang-ulang, mengikuti irama ritmis yang makin lama makin cepat dan memuncak. Para penari ini pun bergerak semakin liar.

Seorang tampak membuka topengnya. Dua orang berjaket hitam masuk arena lantas memeganginya. Rupanya penari itu mulai kesurupan. Pertunjukan yang disebut "Butho" ini selesai setelah penari terakhir yang bertahan juga kesurupan.

Pentas Butho ini ditampilkan sebagai hiburan pada resepsi pernikahan yang digelar Nitiwagi (50), warga Dusun Sepi, Desa Jrakah, Kecamatan Selo, Kabupaten Selo, pekan lalu. Niti menikahkan anaknya, Sony, dan mengundang tiga kelompok kesenian, yakni Yaksa Manunggal yang menampilkan kesenian Butho, Tri Manunggal yang menampilkan joget soreng, dan Karya Muda yang menampilkan kesenian topeng ireng manusia rimba.

Di tengah hawa sejuk lereng Merapi sore itu, aksi para seniman lokal ini menarik perhatian warga untuk datang menyaksikan. Tiga macam kesenian ini sebenarnya dikenal sejak lama di kawasan Selo yang penduduknya bermukim di lereng Merapi dan Merbabu. Namun, baru sejak tahun 2004, kesenian-kesenian ini terasa geliat dan kebangkitannya.

Di Kecamatan Selo, saat ini ada 68 kelompok kesenian tradisional. Selain tiga kesenian tadi, dikenal juga kesenian tradisional lainnya, seperti turangga seta, kuda lumping, reog, jlantur, sunduk ireng, dan badui.

Kelompok Tri Manunggal, Karya Muda, dan Yaksa Manunggal didirikan warga Selo Tengah bernama Citrongatun pada tahun 1989. Tujuannya menghibur masyarakat. Ia dibantu seorang penata tari. Anggotanya yang sebagian besar berusia 20-30 tahun rela membayar Rp 1.500 setiap latihan, dua kali seminggu. Di siang hari, mereka bertani, malam hari berkesenian.

"Niat saya ingin nguri-uri budaya Jawa meski harus meluangkan waktu bahkan membayar iuran untuk latihan," kata Pardi dan Giyono, anggota kelompok kesenian.

Gairah berkesenian ini disambut baik warga. Tiap kali masyarakat menggelar hajatan, mereka akan mengundang kelompok kesenian tradisional pentas. Kesenian khas Selo kini tidak hanya dikenal masyarakat Selo, tapi gaungnya telah merambah keluar.

Meskipun begitu, kelompok kesenian di Selo butuh bapak angkat. "Dengan ada bapak angkat, kami jadi lebih berkonsentrasi mengembangkan kesenian," kata Ngateman, penanggung jawab Yaksa Manunggal, Tri Manunggal, dan Karya Muda. Foto: 1 Kompas/Sri Rejeki Para penari dari kelompok kesenian Yaksa Manunggal dari Selo, Boyolali, beraksi mementaskan "butho" pekan lalu. Di Kecamatan Selo, tumbuh subur kelompok-kelompok kesenian tradisional yang mementaskan "butho", "topeng ireng", "soreng", dan kesenian lainnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau