Wahyu Cs Siapkan Teror Bom Kimia

Kompas.com - 22/10/2008, 22:22 WIB

JAKARTA,RABU - Kelompok tersangka teroris yang ditangkap dalam serangkaian penggerebekan di wilayah Jakarta dan Bogor dalam dua hari ini, disebut-sebut memiliki kemampuan merakit bom yang lebih hebat dibanding pendahulunya. Mereka merupakan kader-kader baru didikan Dr Azahari dan telah banyak membuat inovasi dalam mengolah kemampuan merakit bom. Bahkan kelompok ini disebut-sebut telah melakukan uji coba membuat bom kimia.

"Kemampuan mereka merakit bom lebih canggih dari para pendahulunya. Dari hasil analisa Densus 88 Anti-teror, mereka telah melakukan percobaan penggunaan bahan kimia untuk teror," ungkap Wakadiv Humas Mabes Polri Brigjen Sulistyo Ishaq di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (22/10).

Sayangnya, Sulistyo menolak mengungkapkan lebih jauh tentang uji coba untuk melakukan teror dengan menggunakan bom kimia. Ia hanya menyatakan, dokumen-dokumen perakitan bom dan bahan-bahan yang ditemukan di lokasi penggerebekan menguatkan dugaan kelompok ini sudah melakukan percobaan teror dengan menggunakan bom kimia.

"Ini hasil analisa dari Densus setelah melihat dokumen-dokumen perakitan bom dan bahan-bahan yang ditemukan. Jadi bentuk rakitan bom kimianya belum ada. Baru sebatas dukumen-dokumen cara perangkaian bom," jelas Sulistyo.

Dalam rangkaian penggerebekan yang diawali dari rumah kontrakan Rusli Mardani alias Wahyu Ramadhan alias Uci alias Farid alias Zulfikar di Jalan Gading Sengon 7 RT 05/ RW 14, Kecamatan Kelapa Gading, Jakarta Utara, Selasa (21/10), polisi berhasil menangkap lima tersangka.

Tersangka yang berhasil ditangkap adalah Rusli Mardhani alias Wahyu Ramadhan alias Uci alias Farid alias Zulfikar, Nurhasani alias Hasan, dan Muntasir. Ketiganya ditangkap di Jakarta. Dua orang tersangka lagi adalah Imam Basori alias Basar dan Budiman yang ditangkap di Bogor. Sementara dua tersangka lagi yang berinisial SBRH dan ABH, masih dikejar. Diduga mereka berada di luar Jawa.

Wahyu alias Rusli Mardhani alias Uci alias Farid alias Zulfikar yang sehari-hari dikenal sebagai pekerja serabutan ini ternyata punya track record yang cukup meyakinkan sebagai peracik bom dan anggota teroris. Dia tercatat pernah terlibat pertempuran di Ambon dan adu tembak dengan polisi.

Ia juga pernah di Ambon pada tahun 2002-2003 dan tahun 2005. Tahun 2007 ia balik lagi ke Ambon. Tanggal 22 Januari 2007 ia terlibat kontak senjata api dengan tim Mabes Polri di Poso pada saat penangkapan pelaku teror di Poso. Wahyu lalu melarikan diri pada tanggal 24 Januari 2007 ke Gorontalo.

"Pada 25 Januari 2007 ia sudah berhasil lari ke Jakarta dan keberadaannya tidak terdekteksi lagi. Baru beberapa bulan ini setelah melakukan konsolidasi dengan teman-temannya untuk melakukan penyerangan, tim Densus kembali menemukan jejaknya di Plumpang, Jakarta Utara," jelas Sulistyo.

Wahyu juga pernah tercatat terlibat dalam kasus penembakan anggota Brimob di Loki, Maluku. Saat melakukan aksinya itu, Wahyu ditemani beberapa orang, antara lain Asep Dahlan, Asadullah. "Ia juga telibat pemilikan senjata api, amunisi, bahan peledak, cairan kimia dalam rangka persiapan kegiatan teroris di Indonesia," jelasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau