JAKARTA,RABU - Kelompok tersangka teroris yang ditangkap dalam serangkaian penggerebekan di wilayah Jakarta dan Bogor dalam dua hari ini, disebut-sebut memiliki kemampuan merakit bom yang lebih hebat dibanding pendahulunya. Mereka merupakan kader-kader baru didikan Dr Azahari dan telah banyak membuat inovasi dalam mengolah kemampuan merakit bom. Bahkan kelompok ini disebut-sebut telah melakukan uji coba membuat bom kimia.
"Kemampuan mereka merakit bom lebih canggih dari para pendahulunya. Dari hasil analisa Densus 88 Anti-teror, mereka telah melakukan percobaan penggunaan bahan kimia untuk teror," ungkap Wakadiv Humas Mabes Polri Brigjen Sulistyo Ishaq di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (22/10).
Sayangnya, Sulistyo menolak mengungkapkan lebih jauh tentang uji coba untuk melakukan teror dengan menggunakan bom kimia. Ia hanya menyatakan, dokumen-dokumen perakitan bom dan bahan-bahan yang ditemukan di lokasi penggerebekan menguatkan dugaan kelompok ini sudah melakukan percobaan teror dengan menggunakan bom kimia.
"Ini hasil analisa dari Densus setelah melihat dokumen-dokumen perakitan bom dan bahan-bahan yang ditemukan. Jadi bentuk rakitan bom kimianya belum ada. Baru sebatas dukumen-dokumen cara perangkaian bom," jelas Sulistyo.
Dalam rangkaian penggerebekan yang diawali dari rumah kontrakan Rusli Mardani alias Wahyu Ramadhan alias Uci alias Farid alias Zulfikar di Jalan Gading Sengon 7 RT 05/ RW 14, Kecamatan Kelapa Gading, Jakarta Utara, Selasa (21/10), polisi berhasil menangkap lima tersangka.
Tersangka yang berhasil ditangkap adalah Rusli Mardhani alias Wahyu Ramadhan alias Uci alias Farid alias Zulfikar, Nurhasani alias Hasan, dan Muntasir. Ketiganya ditangkap di Jakarta. Dua orang tersangka lagi adalah Imam Basori alias Basar dan Budiman yang ditangkap di Bogor. Sementara dua tersangka lagi yang berinisial SBRH dan ABH, masih dikejar. Diduga mereka berada di luar Jawa.
Wahyu alias Rusli Mardhani alias Uci alias Farid alias Zulfikar yang sehari-hari dikenal sebagai pekerja serabutan ini ternyata punya track record yang cukup meyakinkan sebagai peracik bom dan anggota teroris. Dia tercatat pernah terlibat pertempuran di Ambon dan adu tembak dengan polisi.
Ia juga pernah di Ambon pada tahun 2002-2003 dan tahun 2005. Tahun 2007 ia balik lagi ke Ambon. Tanggal 22 Januari 2007 ia terlibat kontak senjata api dengan tim Mabes Polri di Poso pada saat penangkapan pelaku teror di Poso. Wahyu lalu melarikan diri pada tanggal 24 Januari 2007 ke Gorontalo.
"Pada 25 Januari 2007 ia sudah berhasil lari ke Jakarta dan keberadaannya tidak terdekteksi lagi. Baru beberapa bulan ini setelah melakukan konsolidasi dengan teman-temannya untuk melakukan penyerangan, tim Densus kembali menemukan jejaknya di Plumpang, Jakarta Utara," jelas Sulistyo.
Wahyu juga pernah tercatat terlibat dalam kasus penembakan anggota Brimob di Loki, Maluku. Saat melakukan aksinya itu, Wahyu ditemani beberapa orang, antara lain Asep Dahlan, Asadullah. "Ia juga telibat pemilikan senjata api, amunisi, bahan peledak, cairan kimia dalam rangka persiapan kegiatan teroris di Indonesia," jelasnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang