PADA pertengahan tahun 2009, bila tidak ada hambatan, trem kembali beroperasi di Jakarta. Namun, trem itu belum beroperasi di jalan protokol seperti tahun 1869-1962, tetapi di kawasan hunian terpadu atau superblok Rasuna Epicentrum di kawasan Kuningan, Jakarta.
Akankah trem merajai kembali jalan-jalan di Jakarta, Surabaya, dan kota besar lainnya? Bakrieland, perusahaan pengembang yang membangun Rasuna Epicentrum, menyadari karakteristik orang Indonesia yang malas berjalan kaki.
Maka, ujung jalur trem dibangun tidak jauh dari halte busway di sekitar Pasar Festival di Jalan Rasuna Said, Jakarta, yang merupakan jalur busway Ragunan-Dukuh Atas. Ketika trem dapat berperan sebagai feeder, mengapa tidak dibangun di setiap superblok?
Trem bisa menjadi langkah awal untuk menghubungkan beberapa kawasan bisnis dan hunian di kota Jakarta dengan mengombinasikan trem dan busway. Bila berhasil, langkah serupa dapat diikuti kota-kota lain, yang sudah memulai pembangunan busway.
Tak jauh dari Rasuna, ada superblok Mega Kuningan serta kawasan komersial Ciputra. Di Mega Kuningan, dapat saja dibangun jalur trem berpola melingkar. Sementara di kawasan komersial Ciputra dapat dibangun jalur trem linear, sejajar dengan Jalan Dr Satrio.
Lalu, dua jalur trem itu dapat dikoneksikan dengan halte busway Karet. Maka, didapat jaringan feeder trem untuk kawasan Kuningan dan sekitarnya. Apalagi bila jaringan trem di Jalan Dr Satrio (Casablanca) dihubungkan dengan trem Rasuna Epicentrum.
Trem dapat pula dibangun di superblok Sudirman Central Bussiness District (CBD) untuk menggantikan shuttle bus. Juga layak dibangun di Sentra Primer Baru Timur Pulo Gebang, Jakarta Timur, dan Sentra Primer Baru Barat Puri Indah, Jakarta Barat (superblok The St Moritz). Soal dana? Jadikan itu sebagai tanggung jawab sosial perusahaan.
Pembangunan trem oleh swasta diharapkan bisa mereduksi dana subsidi untuk bahan bakar minyak (BBM). Terlebih 60 persen dari konsumsi BBM nasional untuk transportasi. Persentase jumlah yang tidak akan turun dalam waktu dekat akibat lambannya pemerintah membangun transportasi massal.
Bila trem tersedia, setidaknya mendorong masyarakat untuk pindah ke angkutan umum. Berbicara tentang efisiensi, Alstom (produsen kereta asal Perancis) menyatakan, satu rangkaian trem Citadis dengan tiga unit kereta setara dengan kapasitas tiga bus dan 150 mobil.
Bayangkan bila superblok-superblok lain di Jakarta, Surabaya, dan kota besar lain membangun lebih panjang jalur trem dan lebih banyak unit trem. Maka, beribu- ribu liter BBM dapat dihemat. Lalu, dananya dialihkan untuk memberdayakan ekonomi rakyat.
Di tangan pemerintah kolonial Hindia Belanda, pembangunan transportasi mendapat panggung. Tercatat pada 10 April 1899, Batavia Electrische Tram Maatschappij (BETM) mulai mengoperasikan trem listrik.
Trem listrik BETM menggantikan trem uap, yang beroperasi di Batavia sejak 19 September 1881 (milik Nederlandsche-Indische Tramweg Maatschappij/ NITM) dan di Surabaya sejak 10 Desember 1889 (dioperasikan Oost Java Stoomtram Maatschappij).
Dunia tercengang sebab trem listrik di Belanda baru ada Juli 1899 atau tiga bulan lebih lambat dari koloni Batavia. Bahkan, di Tokyo, Jepang, yang dilayani kereta peluru Shinkansen sejak 1964, trem baru beroperasi tahun 1903.
Tanggal 31 Juli 1930, BETM dan NITM sepakat merger. Maka, terbentuklah Bataviasche Verkeers Maatschappij (BVM), dengan aset gabungan berupa satu jalur trem uap, dua jalur trem listrik, dan tujuh jalur bus.
Tujuh jalur bus itu sebelumnya diversifikasi usaha NITM sebagai angkutan pengumpan atau feeder dari trem listrik. Hebatnya, perpindahan penumpang bus ke trem atau sebaliknya dimungkinkan sejak 1924 dengan karcis bersama atau overstapkaartjes.
Jadi, angkutan inti (trem) lengkap dengan feeder, termasuk perpindahan penumpang dengan tiket tunggal, adalah hal usang di negeri ini. Tak perlu studi banding ke seberang lautan, tinggal membuka kembali lembar sejarah. Irit anggaran, toh.
Teknologi Inka
”Kami akan mulai membangun trem di Rasuna Epicentrum pada Desember 2008. Kontrak yang didapat adalah design-build, jadi mendesain sekaligus membangun,” kata Direktur Utama PT Industri Kereta Api (Inka) Roos Diatmoko ketika ditemui di Madiun, Jawa Timur, beberapa waktu lalu.
Selain membangun jalur rel trem, Inka juga membuat kereta penumpang (tingkat dua) serta depo mini. ”Ini proses pembelajaran sebelum Inka membangun trem berkapasitas lebih besar,” kata Roos.
Di superblok Rasuna Epicentrum, jalur rel trem membentang hingga 1,5 kilometer, dengan lebar rel 1.435 milimeter (lebar rel standar dunia). Jalur rel trem dibangun dengan mengadopsi teknologi ballastless track, yang dirancang di Jerman.
Ballastless track artinya jalur rel dibangun tanpa ballast sehingga tak lebih tinggi dari muka tanah atau pelataran pusat perbelanjaan. Tiada kerikil dan bantalan rel yang membuat orang tersandung-sandung. Sementara peredam karet dipasang untuk menekan kebisingan dan getaran saat trem melintasi kawasan permukiman dan bisnis.
Trem bertingkat dua berdimensi panjang 7 meter, lebar 3 meter, dan tinggi 4,3 meter. Lantai bawah berkapasitas 26 orang, lantai atas 34 orang. Trem didesain jadul, maksudnya desain zaman dulu. Tapi, bila diamati melalui foto lama, desainnya serupa dengan trem lama di Batavia dan Surabaya.
Business Development Manager PT Inka M Pramudya mengatakan, trem di Rasuna Epicentrum telah dibangun dengan teknologi hybrid. Dengan teknologi baru itu, dia menjamin, trem lebih efisien dan ramah lingkungan.
Apa itu teknologi hybrid? Saat mesin dihidupkan, motor diesel menggerakkan generator. Kemudian, generator menggerakkan motor traksi sekaligus mengisi aki. Dua fungsi generator sekaligus perpaduan kerja ini disebut hybrid.
Manfaatnya, ketika melintas di ruang kosong, diesel dapat dipakai. Namun, saat trem melintas dekat hunian dan perkantoran, listrik yang disimpan dalam aki dapat untuk menggerakkan motor traksi.
”Teknologi hybrid memungkinkan trem bergerak dengan zero emission mode, tanpa gas buang. Terkadang, tanpa mengonsumsi BBM,” ungkap Pramudya. Ketika digerakkan aki, trem nyaris tanpa suara, hening.
Teknologi hybrid yang telah diterapkan oleh produsen kereta di dunia diklaim menghemat hingga 40 persen konsumsi BBM. Dampak positif lainnya, biaya perawatan turun 15 persen serta umur sarana diperpanjang 30 persen.
Di berbagai kota di Eropa, trem dibangun kembali. Contohnya, di Katowice, Polandia (2001); Paris, Perancis (2003); Bordeaux, Perancis (2003); Barcelona, Spanyol (2004); dan Kassel, Jerman (2005).
Trem beroperasi di jantung kota. Namun, di tepi kota, trem terhubung dengan kereta sub-urban atau kereta komuter. Trem juga terkoneksi dengan kereta antarkota, yang berkecepatan tinggi hingga 200-300 kilometer per jam.
Presiden Direktur PT Bakrieland Development Tbk Hiramsyah Thaib menjelaskan, pembangunan trem di Rasuna Epicentrum untuk menerapkan lingkungan hijau di superblok itu. ”Mobil dan motor didorong masuk basement, sedangkan di permukaan hanya orang dan trem yang lalu-lalang,” ujarnya.
Jadi, pembatasan kendaraan di Rasuna Epicentrum dikerjakan dengan terlebih dahulu menyediakan transportasi massal. ”Buat apa buang-buang bensin naik mobil atau naik motor yang belum tentu aman bila ada transportasi massal,” ujar Hiramsyah. Petuah seperti itu sudah diketahui banyak orang, tetapi sulit dilaksanakan di negeri ini karena transportasi massal yang dibangun pemerintah memang selalu tidak memadai.
HARYO DAMARDONO
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang