JAKARTA, JUMAT - Tiga opsi voting yang disepakati dalam rapat kerja Pansus RUU Pilpres dinilai Direktur Eksekutif CETRO Hadar Gumay sebagai strategi dua partai besar untuk memenangkan syarat perolehan kursi 25 persen untuk pencalonan presiden dan wapres.
"Menurut saya tidak perlu sampai tiga opsi itu. Ini melemahkan. Menurut saya dua saja," ujar Hadar di Kantor KPU, Jumat (24/10).
Dua opsi yang patut dipertahankan adalah opsi 15 persen perolehan kursi di DPR atau 20 persen perolehan suara nasional, serta opsi hanya 25 persen perolehan kursi di DPR. Sementara opsi yang patut dibuang adalah opsi 20 persen perolehan kursi di DPR atau 20 persen perolehan suara nasional.
Menurut Hadar, sebenarnya opsi 20-20 itu adalah pilihan beberapa partai yang tak ingin mengambil keputusan melalui voting. Parta-partai tersebut juga menyebutkan bahwa akan kembali ke posisi awal 15-20 jika mekanisme voting yang digunakan. Agak aneh, bagi Hadar, ketika pilihan itu tetap dipertahankan.
"Agak mencurigakan ini, seperti mau memecah (suara), sehingga yang menang nanti yang 25 persen. Jadi nanti yang terbanyak tetap 25 persen yang menang. Bisa jadi," tandas Hadar.
Ia berharap partai-partai kecil tetap bertahan pada posisi awalnya. Namun, tak ada yang tahu pengaruh-pengaruh akibat lobi informal. Menurut Hadar, posisi yang ideal untuk mengisi pasal 5 adalah opsi 15 persen perolehan kursi di DPR atau 20 persen perolehan suara nasional.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang