JAKARTA, JUMAT - Seiring dengan jatuhnya harga kopi di pasar internasional, sebaiknya ekspor kopi untuk sementara dihentikan dahulu. Prosesor dan eksportir diimbau untuk mengontrol dengan ketat penjualan kopi ke luar negeri.
Imbauan itu disampaikan Menteri Perindustrian Fahmi Idris, Jumat (24/10) di Jakarta. Fahmi mengharapkan produsen kopi untuk sementara fokus pada pasar dalam negeri.
”Pemerintah mengimbau para prosesor kopi agar membeli biji kopi dari petani sebanyak-banyaknya. Jangan dijual ke luar negeri dahulu pada saat harga kopi jatuh. Setelah itu, kopi diproses dan dijual ke pasar domestik. Sisanya, biji kopi itu disimpan sebagai stok,” ujar Fahmi.
Meski menyambut positif imbauan tersebut, eksportir kopi, Benny Hermanto, meminta pemerintah lebih arif. Menurut dia, eksportir dan petani kopi saat ini membutuhkan langkah konkret pemerintah untuk mengembangkan penetrasi pasar guna mengantisipasi penurunan permintaan.
”Misalnya, mengimbau restoran dan hotel mengonsumsi kopi nasional sehingga ada pengalihan pasar untuk produk domestik. Kalau sekadar mengimbau menahan ekspor saja, tidak cukup,” kata Benny.
Saat ini ada empat negara yang menjadi produsen utama kopi dunia, yaitu Brasil, Vietnam, Kolombia, dan Indonesia. Tahun 2007, produksi kopi dunia mencapai 7.094.440 ton.
Brasil adalah produsen terbesar dengan produksi 2.024.753,1 ton (28,54 persen), disusul Vietnam 1.049.977,1 ton dan Kolombia 744.206,7 ton. Indonesia di posisi keempat dengan produksi 425.666 ton atau 6 persen dari total produksi dunia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang