Khawatir Alergi Vaksin

Kompas.com - 26/10/2008, 15:50 WIB

Rubrik Konsultasi Kesehatan asuhan Prof Dr Samsuridjal Djauzi di surat kabar KOMPAS edisi Minggu :

Saya (26) penderita alergi obat novalgin. Reaksinya cukup hebat sehingga saya harus dirawat di rumah sakit selama seminggu. Timbul gatal-gatal dan luka pada mulut. Bibir dan mata juga bengkak.

Reaksi alergi terjadi setelah saya minum obat novalgin dua kali. Sebenarnya setelah minum obat pertama sudah mulai ada rasa gatal sedikit, tetapi kurang saya perhatikan.

Kejadian alergi ini cukup menakutkan saya. Kulit saya juga berubah. Untunglah dapat pulih setelah satu bulan. Saya khawatir dengan gangguan pada kulit tersebut karena saya seorang perempuan. Meski saya sudah menikah, saya merasa rendah diri melihat bintik-bintik hitam di kulit saya.

Belum lama ini saya mengikuti ceramah pencegahan kanker leher rahim. Saya amat tertarik dengan acara tersebut karena salah seorang keluarga saya meninggal karena kanker leher rahim.

Ternyata, di samping Pap smear, sekarang tersedia vaksin untuk mencegah kanker leher rahim. Saya amat antusias mengikuti imunisasi tersebut.

Ada dua hal yang menjadi kepedulian saya. Pertama apakah saya ada risiko mengalami alergi waktu suntikan vaksin nanti? Bagaimana mencegahnya?

Kedua saya sudah menikah, apakah vaksin tersebut masih bermanfaat karena menurut ceramah vaksin ini akan memberikan manfaat optimal bagi perempuan yang belum melakukan hubungan seksual? Terima kasih atas penjelasan Dokter.

L di J

Saya merasa senang karena Anda mempunyai perhatian terhadap upaya pencegahan kanker leher rahim (kanker serviks).

Memang kanker serviks merupakan kanker yang paling sering menyerang perempuan di Indonesia. Kanker serviks terkait dengan infeksi human papilloma virus (HPV) sehingga dengan mencegah penularan infeksi HPV melalui vaksinasi, risiko kanker serviks juga dapat diturunkan.

Selain terkait dengan kanker serviks, infeksi HPV juga terkait dengan kanker vagina, kanker penis, dan genital ward (kutil kelamin).

Kutil kelamin juga merupakan masalah kesehatan di Indonesia. Kekerapannya tinggi, terapinya mahal, dan efektivitasnya kurang. Karena itu, keberadaan vaksin untuk mencegah penularan HPV perlu kita manfaatkan.

Vaksin HPV telah beredar di lebih dari 80 negara dan sejak tahun lalu sudah tersedia di Indonesia. Sayang harganya masih mahal sehingga mungkin belum semua orang yang membutuhkan dapat menjangkau.

Di beberapa negara maju vaksin ini dimasukkan program imunisasi, artinya pembiayaannya di tanggung pemerintah. Sementara ini vaksin HPV belum masuk program imunisasi nasional, tetapi kita tak perlu menunggu. Bagi yang mampu dapat mulai menggunakan.

Vaksin seperti juga obat, sudah tentu dapat menimbulkan efek samping, termasuk alergi. Alergi terhadap vaksin termasuk jarang dan biasanya alergi terjadi terhadap bahan yang digunakan dalam proses pembuatan vaksin. Misalnya, vaksin influenza menggunakan telur dalam proses pembuatannya sehingga penderita alergi telur harus hati-hati menggunakan vaksin influenza.

Alergi terhadap suatu golongan obat dapat menimbulkan alergi pada golongan obat yang hampir serupa. Misalnya, bila seseorang alergi terhadap obat penisilin, mungkin juga dia akan alergi terhadap golongan obat sefalosporin. Keadaan ini disebut sebagai alergi silang.

Alergi terhadap novalgin (piramidon) biasanya tidak bereaksi silang dengan vaksin. Vaksin HPV mengandung ragi. Jika ada orang yang alergi terhadap ragi, maka dia harus hati-hati menggunakan vaksin ini.

Jadi, pada dasarnya risiko Anda alergi terhadap vaksin HPV amatlah kecil meski Anda alergi terhadap novalgin. Jika Anda menginginkan perlindungan lebih optimal, dapat minta penyuntikan HPV di rumah sakit yang mempunyai pakar dan peralatan memadai sekiranya terjadi alergi.

Vaksin HPV memang akan menimbulkan efek proteksi terbaik jika orang yang divaksin belum pernah melakukan hubungan seksual sehingga kemungkinan dia telah terinfeksi HPV amat kecil.

Meski demikian, tipe HPV amatlah banyak. Vaksin yang tersedia di Indonesia ada yang mencegah penularan tipe 16 dan 18 dan ada juga yang mencegah tipe 16,18,6,11. Nah, jika orang telah melakukan hubungan seksual dan terinfeksi salah satu tipe, maka vaksin ini tidak dapat mengobati infeksi yang ada karena vaksin ini adalah vaksin pencegahan, bukan vaksin terapi. Tetapi, sudah tentu dia akan melindungi orang yang divaksin dari penularan HPV dalam vaksin dan dia belum terinfeksi HPV tipe tersebut.

Saya menganjurkan Anda berkonsultasi dengan dokter spesialis kebidanan untuk mendiskusikan manfaat dan mudarat vaksin ini untuk Anda. Dokter Anda memahami keadaan kesehatan Anda, dia tahu apakah Anda sudah di Pap smear atau belum dan bagaimana hasilnya.

Data tersebut penting untuk menentukan apakah Anda sebaiknya diimunisasi HPV. Jangan lupa, meski seseorang telah divaksin HPV, dia harus tetap menjalani pemeriksaan Pap smear dan sudah tentu melaksanakan gaya hidup sehat, termasuk memelihara kesehatan sistem reproduksi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau