JAKARTA, SENIN-Bisnis waralaba kini banyak menjadi pilihan orang-orang yang baru mulai usaha karena tingkat keberhasilannya yang menjanjikan.
"Dulu tak semua orang berani memulai usaha karena pertimbangan risiko kerugian. Tapi sekarang, dengan munculnya jenis bisnis waralaba ini, banyak menjadi pilihan pengusaha karena memiliki risiko kerugian yang rendah. Sebaliknya jenis bisnis ini memiliki tingkat keberhasilan yang relatif menjanjikan," kata Burang Riyadi, konsultan Waralaba IFBM kepada Antara di Jakarta, Senin (27/10).
Dari hasil survei yang pernah dilakukan, Burang mengatakan pihaknya mencatat keberhasilan pebisnis waralaba ini mencapai 80 persen.
"Dari survei terhadap 616 pengusaha waralaba di Indonesia, hanya 20 persen yang mengalami kegagalan. Ini berarti tingkat keberhasilan mencapai 80 persen," kata Burang sambil mengungkapkan bahwa masalah mental menjadi salah satu penyebab kegagalan jenis usaha ini.
"Masalah mental di negara berkembang, itu khas, yaitu mental di mana seseorang lebih nyaman bekerja ketimbang usaha sendiri. Karena itu, beralih fungsi dari pekerja menjadi pengusaha agak sulit, misalnya menjadi kurang kooperatif, kurang tekun dan lebih emosional," katanya.
Burang juga menilai, pendidikan terhadap jenis usaha ini juga masih minim. "Pengetahuan terhadap jenis usaha waralaba masih minim. Misalnya, soal ukuran sebuah usaha seperti apa yang sudah layak diwaralabakan. Akibatnya hasil yang diupayakan menjadi tidak maksimal," ungkapnya.
Namun, ia menegaskan jenis bisnis ini masih memiliki tingkat risiko lebih rendah dibanding usaha lainnya. "Jenis bisnis ini lebih mudah karena sudah ada yang membimbing. Begitu juga masalah bahan baku, disain tempat dan lain-lain sudah disediakan franchisor," ungkapnya.
"Yang paling penting adalah kita sudah memiliki gambaran jelas bagaimana peluang bisnis yang kita pilih sehingga resiko ketidaksuksesan lebih kecil," kata Busang menegaskan.
Tetapi, menurut dia, sungguhpun para calon pengusaha tinggal memilih, mereka juga harus memperhatikan dengan hati-hati."Ada beberapa yang mesti diperhatikan orang sebelum memilih barang apa yang akan dibisniskan, misalnya orang akan membeli jenis usaha yang sudah terkenal. Kalau sudah terkenal, mereka pasti sudah memiliki pasar," katanya.
Selain itu, yang penting sebelum membeli usaha waralaba, kita harus bertanya dukungan apa dari franchisor, apakah secara berkesinambungan atau tidak. Kalau ada pelatihan, berapa kali. Ini mesti kita perjelas, ungkapnya.
Sementara itu, jika suatu franchisor sudah ada proyeksi perhitungannya, ia menyarankan untuk memilih franchisor yang perhitungan titik impas (BEP)-nya setengah periode jangka kontrak maksimum. "Jadi misalnya ia menawarkan kontrak maksimum dua tahun, BEP-nya 1 tahun, itu bisa kita pilih," ujarnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang