BANDAR LAMPUNG, SENIN - Memasuki musim penghujan, Provinsi Lampung mewaspadai berkembangbiaknya penyakit demam berdarah dengue (DBD). Kewaspadaan dilakukan karena Lampung merupakan wilayah endemis DBD dengan tren serangan mulai November dan memuncak di Februari.
Kepala Dinas Kesehatan Lampung Rellyani, Senin (27/10) mengatakan, berdasarkan analisa data serangan dan jumlah penderita DBD tahun 20032007, terpantau setiap tahun jumlah penderita DBD mulai bertambah pada bulan November. Penderita akan terus meningkat dan memuncak jumlahnya pada bulan Februari dan kemudian menurun memasuki musim kemarau.
Sebagai gambaran, pada Januari 2007 penderita DBD di Lampung tercatat sebanyak 1.125 pasien sementara pada Januari 2008 sebanyak 971 pasien. Pada Februari 2007 jumlah pasien tercatat bertambah menjadi 1.490 orang, sementara pada Februari 2008 turun menjadi 892 orang. Pada Maret 2007 jumlah penderita turun menjadi 575 orang dan pada Maret 2008 juga turun menjadi 419 orang.
Menurut Rellyani tren peningkatan penderita tersebut harus diputus. Masyarakat Lampung perlu diingatkan untuk mewaspadai kesehatan lingkungan sejak dini. Alasannya, apabila satu anggota masyarakat sakit DBD setelah digigit nyamuk pembawa virus DBD, bisa dipastikan dalam radius 100 meter di sekitar pasien akan muncul pasien lainnya.
Masyarakat Lampung harus diingatkan kembali mengenai perlunya kebersihan lingkungan menghadapi DBD. Cara-cara yang bisa dipakai di antaranya dengan bersih-bersih lingkungan dan pemberantasan sarang nyamuk (PSN).
"Dengan cara-cara tersebut setidaknya siklus mata rantai perkemban gbiakan nyamuk dan penularan bisa diputus," ujar Rellyani.
Dinas Kesehatan Lampung mendukung kewapsadaan dini dalam bentuk bantuan obat seperti insektisida untuk fogging atau pengasapan lingkungan, alat-alat fogging, serta larvasida untuk membunuh jentik-jentik nyamuk. Obat dan alat-alat tersebut sudah dibagikan ke 11 kabupaten/kota di Lampung pada awal Oktober 2008.
Kepala Seksi Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Lampung Ismen Mukhtar mengatakan, kendati sudah dilakukan pencegahan seringkali pasien DBD tetap muncul. Itu karena selain Lampung sendiri berstatus sebagai daerah endemik DBD, Lampung juga di kelilingi daerah yang endemis DBD seperti Sumatera Selatan dan DKI Jakarta.
"Mobilitas manusia yang melewati Lampung itu bisa turut menularkan," ujar Ismen.
Menurut Rellyani, apabila kewaspadaan dini sudah dilakukan namun penderita DBD tetap bermunculan, Pemerintah Provinsi Lampung sudah menyiapkan dana pengobatan gratis melalui dana APBD untuk pasien DBD kelas III. Pengobatan DBD gratis dilayani di rumah sakit-rumah sakit yang tidak melayani jaminan kesehatan masyarakat (jamkesmas).
Di Lampung terdapat tiga rumah sakit yang bekerja sama dengan PT Askes untuk melayani pengobatan masyarakat tidak mampu melalui jamkesmas, yaitu di RSUD Abdul Moeloek, RS Detasemen Kesehatan Tentara, dan RS Oerip Sumoharjo.
"Selebihnya, di rumah sakit-rumah sakit di Lampung yang tidak melayani jamkesmas, apabila melayani pasien kelas III DBD, pembiayaan akan ditanggung Pemprov Lampung," ujar Rellyani.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang