Sumpah Pemuda Harus Picu Semangat dan Kreativitas

Kompas.com - 27/10/2008, 21:24 WIB

BANDUNG, SENIN - Pemaknaan sumpah pemuda jangan sekedar memperingati peristiwa yang lalu. Peringatan sumpah pemuda hendaknya menjadi pemicu anak muda mengembangkan sisi kreatif dan keinginan terus belajar pada seni dan kebudayaan bangsa.

Menurut Budayawan, Jakob Sumardjo, di Bandung, Senin (27/10), bukan hal penting bila pemuda sekedar hafal isi sumpah pemuda. Jauh lebih baik bila kaum muda menyerap esensi sumpah pemuda, salah satunya dengan berkarya. Karya baik yang mereka hasilkan menjadi bukti semangat sumpah pemuda masih terjaga.  

"Krisis ekonomi dikatakan bisa menjadi pemicu anak muda mengembangkan sisi kreativitasnya. Baik melalui seni atau produk kreatif," katanya.

Selain itu, di tengah keterpurukan keberagaman berbangsa, anak muda bisa belajar sejarah panjang masa lalu. Indonesia muncul karena penghuninya sangat menjunjung perbedaan yang ada, seperti suku, agama, hingga ras.

"Termasuk masuknya budaya asing. Jangan ditolak tapi diserap yang bisa memperkaya budaya dan keberagaman bangsa," katanya.

Sementara itu dalam Kuliah Umum mengenai Kontribusi Bahasa, Sastra, dan Budaya dalam Membangun Identitas Bangsa di Universitas Padjadjaran, Jatinagor, Sumedang, Seniman Remy Sylado, yakin bahasa Indonesia adalah satu-satunya ciri khas Bangsa Indonesia. Namun, keadaan yang ada justru ironis. Mayoritas warga Indonesia justru enggan menggunakannya.

Menurutnya, selama ini banyak pihak kebingungan menentukan apa sebenarnya budaya asli Indonesia. Sejauh ini, keberagaman berbagai kesenian seperti Jaipongan atau gamelan dipa hami sebagai kebudayaan daerah. Namun, bila dicermati, warisan asli Indonesia tidak lain adalah bahasa Indonesia yang dideklarasikan dalam Sumpah Pemuda tahun 1928. Melalui bentuk lisan atau tulisan, terangkum semua kultur dan kebudayaan nusantara.

Akan tetapi, dewasa ini masyarakat kerap melupakan bahasa Indonesia. Mayoritas lebih bangga menggunakan bahasa asing. Akibatnya penggunaan bahasa Indonesia dengan baik kurang mendapat perhatian. Hal itu diperparah tingkah laku pemimpin bangsa. Mereka kerap berbicara mencampurkan bahasa Indonesia dengan bahasa asing.

"Penggunaan bahasa asing sebenarnya tidak salah. Namun, ada baiknya penggunaan bahasa asing memperkaya bahasa Indonesia. Langkah yang bisa dilakukan anatara lain menyesuaikan bahasa asing yang sering digunakan ke lafal melayu dan dimasukan dalam tata bahasa Indonesia," kata Remy.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau