BANDUNG, SENIN - Pemaknaan sumpah pemuda jangan sekedar memperingati peristiwa yang lalu. Peringatan sumpah pemuda hendaknya menjadi pemicu anak muda mengembangkan sisi kreatif dan keinginan terus belajar pada seni dan kebudayaan bangsa.
Menurut Budayawan, Jakob Sumardjo, di Bandung, Senin (27/10), bukan hal penting bila pemuda sekedar hafal isi sumpah pemuda. Jauh lebih baik bila kaum muda menyerap esensi sumpah pemuda, salah satunya dengan berkarya. Karya baik yang mereka hasilkan menjadi bukti semangat sumpah pemuda masih terjaga.
"Krisis ekonomi dikatakan bisa menjadi pemicu anak muda mengembangkan sisi kreativitasnya. Baik melalui seni atau produk kreatif," katanya.
Selain itu, di tengah keterpurukan keberagaman berbangsa, anak muda bisa belajar sejarah panjang masa lalu. Indonesia muncul karena penghuninya sangat menjunjung perbedaan yang ada, seperti suku, agama, hingga ras.
"Termasuk masuknya budaya asing. Jangan ditolak tapi diserap yang bisa memperkaya budaya dan keberagaman bangsa," katanya.
Sementara itu dalam Kuliah Umum mengenai Kontribusi Bahasa, Sastra, dan Budaya dalam Membangun Identitas Bangsa di Universitas Padjadjaran, Jatinagor, Sumedang, Seniman Remy Sylado, yakin bahasa Indonesia adalah satu-satunya ciri khas Bangsa Indonesia. Namun, keadaan yang ada justru ironis. Mayoritas warga Indonesia justru enggan menggunakannya.
Menurutnya, selama ini banyak pihak kebingungan menentukan apa sebenarnya budaya asli Indonesia. Sejauh ini, keberagaman berbagai kesenian seperti Jaipongan atau gamelan dipa hami sebagai kebudayaan daerah. Namun, bila dicermati, warisan asli Indonesia tidak lain adalah bahasa Indonesia yang dideklarasikan dalam Sumpah Pemuda tahun 1928. Melalui bentuk lisan atau tulisan, terangkum semua kultur dan kebudayaan nusantara.
Akan tetapi, dewasa ini masyarakat kerap melupakan bahasa Indonesia. Mayoritas lebih bangga menggunakan bahasa asing. Akibatnya penggunaan bahasa Indonesia dengan baik kurang mendapat perhatian. Hal itu diperparah tingkah laku pemimpin bangsa. Mereka kerap berbicara mencampurkan bahasa Indonesia dengan bahasa asing.
"Penggunaan bahasa asing sebenarnya tidak salah. Namun, ada baiknya penggunaan bahasa asing memperkaya bahasa Indonesia. Langkah yang bisa dilakukan anatara lain menyesuaikan bahasa asing yang sering digunakan ke lafal melayu dan dimasukan dalam tata bahasa Indonesia," kata Remy.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang