McCain Menantikan Keajaiban Truman

Kompas.com - 28/10/2008, 07:46 WIB

Oleh SIMON SARAGIH

Berbagai jajak pendapat terbaru, termasuk jajak pendapat yang memperhitungkan perolehan suara per negara bagian, Barack Obama mengalahkan John McCain. McCain tampaknya hanya menantikan keajaiban seperti yang pernah dialami Harry S Truman, hampir tidak diunggulkan hingga menjelang pemilu, tetapi menang secara mengejutkan.

Truman adalah presiden ke-33 AS periode 1945-1953 dari Partai Demokrat. Pada Pemilu 1948, menjelang jabatan periode kedua, Truman tidak populer dibandingkan dengan pesaingnya dari Partai Republik, Thomas Edmund Dewey (Gubernur New York, 1943-1951). Truman tidak populer dan menghadapi banyak masalah dalam negeri walau kemudian tergolong bagus dan masuk dalam jajaran 10 besar presiden terbaik AS.

Truman menghadapi masalah seperti pengangguran dan kehancuran ekonomi setelah Perang Dunia II. Dia tidak berhasil meyakinkan warga setelah memimpin empat tahun sebelumnya. Namun, Truman menang secara mengejutkan. Hal ini tidak lain karena kunjungan intensif dan tak kenal lelah dalam waktu singkat ke sejumlah pedesaan, yang dikenal dengan Whistle Stop Tour.

Ini kebiasaan yang dilakukan politisi AS dalam rangka merangkul warga. Hal serupa kini sedang dilakukan Obama (capres dari Demokrat) dan McCain (capres dari Republik).

McCain hampir tidak mendapatkan dukungan kuat, terutama di kalangan muda yang kini melebar hingga ke kelompok perempuan kulit putih, yang mulai yakni dengan kepemimpinan Obama. ”Saya sama sekali tidak minat mendengarkan dia bicara,” kata Michael McManus (22), warga kulit putih AS di Boston, yang sedang belajar jurnalistik di Emerson College.

Alasannya, McCain hanyalah perpanjangan tangan Presiden George W Bush, yang merusak perekonomian dengan kebijakan ekonomi liberal, yang membuat korporasi menjadi serakah dan tidak mengindahkan rambu-rambu bisnis.

Joel Gagne, konsultan senior untuk Partai Demokrat di Massachusetts, mengatakan, di bawah Bush, AS tidak saja menghadapi keadaan buruk karena pengelolaan ekonomi yang berantakan, tetapi juga pamor di dunia yang tidak mendapatkan respek. ”Ini harus diubah,” katanya.

Wakil Gubernur Sarah Palin kini menuduh media massa AS telah mengatur kemenangan kubu lawan. Terjadi kelimbungan di kubu Republik, seperti acara kampanye yang berjalan sesuai dengan keinginan Palin dan tak terkoordinasi dengan McCain.

Ini adalah perkembangan terakhir yang memperlihatkan kekacauan di kubu Republik. ”Tampaknya tidak ada yang bisa lagi mereka sampaikan,” kata Shellie Karabell, pengamat politik dari Palm Spring, California, yang melakukan telekonferensi dengan sejumlah wartawan Indonesia di Boston, kemarin. (*)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau