Kamar-kamar pasien kosong Rumah Sakit Shifa di Kota Gaza, Palestina seolah menjadi saksi bisu keadaan merana kondisi kesehatan di wilayah yang dikuasai Hamas itu.
Stok obat habis mencapai tingkat krisis dan pemogokan dua bulan lamanya oleh pekerja perawatan kesehatan menambah kesengsaraan hidup 1,5 juta penduduk Jalur Gaza yang miskin.
Di Shifa Hospital, pasien sakit ginjal Ibrahim Ghosha menunggu dengan sia-sia seorang teknisi untuk membetulkan mesin dialisis. "Itu semua mengenai keberuntungan. Satu waktu Anda datang dan mesinnya bekerja, pada waktu lain, mesin itu rusak," kata Ghosha kepada Reuters, Senin (27/10).
Pekan lalu, Komite Palang Merah Internasional (ICRC) mengatakan benar-benar tidak ada persediaan obat di Jalur Gaza. Akibatnya, beberapa ratus pasien sakit serius terancam meninggal dunia.
"Jumlah operasi bedah menurun hingga 40 persen di rumah-rumah sakit di wilayah itu, sementara pendaftaran pasien masuk menurun 20 persen, kata ICRC.
ICRC mempersalahkan "kemacetan dalam kerjasama" antara pemerintah otonomi Palestina di Tepi Barat, tempat kelompok Fatah pimpinan-Presiden Mahmud Abbas berkuasa, dan Hamas atas tersendatnya impor persediaan obat.
ICRC juga mendesak Israel, yang memperketat blokade wilayah itu setelah Hamas merebut kekuasaan dari Fatah Juni 2007, untuk memudahkan pengiriman obat dan peralatan medis.
Hussein Ashour, dirjen Shifa, mengatakan cadangan 90 macam obat telah habis, termasuk obat yang dibutuhkan untuk merawat pasien sakit kanker.
Sebagian besar dari peralatan skaning medis rumah sakit itu tidak berfungsi dan pasien malah telah diminta untuk pergi ke pusat kesehatan swasta.
"Kami bahkan kekurangan kertas -- formulir resmi -- sehingga kami kadang-kadang menulis di balik kertas yang telah digunakan atau mengubah buku salinan sekolah menjadi kertas untuk menulis resep dokter," kata Ashour.
Operasi jantung
Beberapa dokter mengatakan Shifa telah menangguhkan sejumlah operasi jantung pada tahun lalu karena tiadanya suku cadang untuk memperbaiki peralatan yang dibutuhkan untuk operasi.
Antoine Grand, kepala perwakilan ICRC di Jalur Gaza, mendesak pemerintah Fatah dan Hamas yang bersaing untuk bekerjasama dan "meyakinkan sektor kesehatan tidak menderita".
Grand mengatakan ICRC terus akan memberi rumah sakit dengan apa yang ia sebut sebagai bantuan "untuk menyelamatkan hidup" tapi hanya dapat meringankan sebagian krisis itu.
Eyad El—Sarraj, kepala Program Kesehatan Mental Gaza, mengatakan kesehatan mental masyarakat Gaza juga menderita karena pengangguran dan kemiskinan yang diperdalam oleh blokade Israel.
Ia mengatakan kantornya telah mengundang puluhan dokter dan pakar kesehatan mental asing, termasuk Israel, ke Jalur Gaza, untuk membicarakan masalah itu tapi Israel menolak memberi mereka izin masuk ke wilayah tersebut.
"Keadaan kesehatan mental sangat serius di Gaza dan kami mengkhawatirkan masa depan generasi anak-anak yang tumbuh sekarang ini dalam lingkungan perampasan hak, kehilangan harapan dan keputusasaan," kata Sarraj.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang