Stok Obat Habis, Ratusan Pasien di Gaza Merana

Kompas.com - 28/10/2008, 15:51 WIB

Kamar-kamar pasien kosong Rumah Sakit Shifa di Kota Gaza, Palestina seolah menjadi saksi bisu keadaan merana kondisi kesehatan di wilayah yang dikuasai Hamas itu.

Stok obat habis mencapai tingkat krisis dan pemogokan dua bulan lamanya oleh pekerja perawatan kesehatan menambah kesengsaraan hidup 1,5 juta penduduk Jalur Gaza yang miskin.

Di Shifa Hospital, pasien sakit ginjal Ibrahim Ghosha menunggu dengan sia-sia seorang teknisi untuk membetulkan mesin dialisis. "Itu semua mengenai keberuntungan. Satu waktu Anda datang dan mesinnya bekerja, pada waktu lain, mesin itu rusak," kata Ghosha kepada Reuters, Senin (27/10).

Pekan lalu, Komite Palang Merah Internasional (ICRC) mengatakan benar-benar tidak ada persediaan obat di Jalur Gaza. Akibatnya, beberapa ratus pasien sakit serius terancam meninggal dunia.

"Jumlah operasi bedah menurun hingga 40 persen di rumah-rumah sakit di wilayah itu, sementara pendaftaran pasien masuk menurun 20 persen, kata ICRC.

ICRC mempersalahkan "kemacetan dalam kerjasama" antara pemerintah otonomi Palestina di Tepi Barat, tempat kelompok Fatah pimpinan-Presiden Mahmud Abbas berkuasa, dan Hamas atas tersendatnya impor persediaan obat.
 
ICRC juga mendesak Israel, yang memperketat blokade wilayah itu setelah Hamas merebut kekuasaan dari Fatah Juni 2007, untuk memudahkan pengiriman obat dan peralatan medis.

Hussein Ashour, dirjen Shifa, mengatakan cadangan  90 macam obat telah habis, termasuk obat yang dibutuhkan untuk merawat pasien sakit kanker.
Sebagian besar dari peralatan skaning medis rumah sakit itu  tidak berfungsi dan pasien malah telah diminta untuk pergi ke pusat kesehatan swasta.

"Kami bahkan kekurangan kertas -- formulir resmi -- sehingga kami kadang-kadang menulis di balik kertas yang telah digunakan atau mengubah buku salinan sekolah menjadi kertas untuk menulis resep dokter," kata Ashour.

Operasi jantung

Beberapa dokter mengatakan Shifa telah menangguhkan sejumlah operasi jantung pada tahun lalu karena tiadanya suku cadang untuk memperbaiki peralatan yang dibutuhkan untuk operasi.

Antoine Grand, kepala perwakilan ICRC di Jalur Gaza, mendesak pemerintah Fatah dan Hamas yang bersaing untuk bekerjasama dan "meyakinkan sektor kesehatan tidak menderita".

Grand mengatakan ICRC terus akan memberi rumah sakit dengan apa yang ia sebut sebagai bantuan "untuk menyelamatkan hidup" tapi hanya dapat meringankan sebagian krisis itu.

Eyad El—Sarraj, kepala Program Kesehatan Mental Gaza, mengatakan kesehatan mental masyarakat Gaza juga menderita karena pengangguran dan kemiskinan yang diperdalam oleh blokade Israel.

Ia mengatakan kantornya telah mengundang puluhan dokter dan pakar kesehatan mental asing, termasuk Israel, ke Jalur Gaza, untuk membicarakan masalah itu tapi Israel menolak memberi mereka izin masuk ke wilayah tersebut.

"Keadaan kesehatan mental sangat serius di Gaza dan kami mengkhawatirkan masa depan generasi anak-anak yang tumbuh sekarang ini dalam lingkungan perampasan hak, kehilangan harapan dan keputusasaan," kata Sarraj.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau