Perempuan Harus Dilibatkan dalam Komisi Kebenaran

Kompas.com - 28/10/2008, 19:51 WIB

 

JAKARTA, SELASA - Berkaca dari pengalaman negara lain, minimnya perempuan sebagai anggota Komisi Kebenaran mengakibatkan kerja komisi tidak berbasis jender, sehingga membuat penemuan atas kasus-kasus kekerasan berbasis jender menjadi lemah dan tidak dapat diandalkan. "Misalnya yang dilakukan Komisi di Ghana. Komisi ini jauh dari dari peranan perempuan dalam pencarian kebenaran di negara tersebut," kata staf pengajar Hukum HAM Fakultas Hukum Universitas Atmajaya Jakarta Asmin Fransiska pada diskusi mengenai Peranan Perempuan dalam Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi di Jakarta, Selasa (28/10).

Menurut Wakil Ketua Komnas Perempuan Silvana, dalam konteks konflik, tubuh dan seksualitas perempuan adalah penanda identitas kolektif masyarakat. Perempuan menjadi target penyerangan seksual seperti, dilecehkan, diperkosa, diintimidasi, diperbudak secara seksual.  

"Pengalaman tubuh perempuan dan seksualitasnya sebagai obyek perang tidak hanya satu-dua kasus, tapi ada pola yang harus dianalisis secara lebih kritis. Kelihatan serangan seksual terhadap perempuan menjadi salah satu cara untuk melumpuhkan lawan," kata Silvana.

Perempuan kemudian menjadi korban untuk kedua kalinya karena ada stigma yang dilekatkan kepada perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual di wilayah konflik. Mereka tidak mendapat keadilan.

"Hak mereka ditentukan oleh komunitas. Perempuan itu tidak mendapatkan keadilan karena mereka hidup dengan stigma bahkan dialienasi atau dikucilkan," kata Silvana.

Bahkan dalam proses pembangunan perdamaian, terjadi marginalisasi perempuan karena peran perempuan tidak dianggap penting. Perempuan sangat jarang terlibat di meja perundingan.

"Perempuan tidak mendapatkan tempat pada periode rehabilitasi dan rekonstruksi," kata Silvana.

Sementara itu, Sri Lestari Wahyoeningrum dari International Center for Transitional Justice (ICTJ) Jakarta mengatakan, penegakkan hukum di Indonesia masih sangat karet. Pemerintah tidak berubah banyak, belum lagi kondisi kemiskinan dan isu dunia ketiga.

"Apalagi saat ini ada krisis global. Orang sudah lupa dengan penegakkan kebenaran di masa lalu. Korban-korban juga menjadi tidak peduli lagi. Yang penting mereka masih bisa survive. Perlu ada konsolidasi di antara masyarakat sipil dan korban agar Komisi Kebenaran dan Rekonsialisi bisa terbentuk," kata Sri Lestari.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau