Siapa Bilang Menikah Itu Rumit ?

Kompas.com - 29/10/2008, 10:38 WIB

KATANYA sih kerumitan berumah tangga disebabkan oleh suami-istri yang memperumit konsep pernikahan mereka sendiri. Supaya tidak rumit, apa sih rahasianya?

Mayong Suryo Laksono menuliskan betapa sederhananya konsep pernikahan itu dalam pengantarnya untuk buku Keluargaku Permataku, antara lain konsep saling berbagi, berikrar untuk saling setia, memenuhi nafkah lahir batin, dan menyediakan fasilitas kepada anak untuk berkembang. Bermilyar manusia, sejak zaman megalitikum hingga zaman megapolitan sekarang ini sudah menjalaninya dan ternyata berhasil. Lalu, mengapa kemudian banyak yang mempermasalahkannya?

SEKALI LAGI, KOMUNIKASI

Dalam banyak tulisan, satu kata ini selalu diulang-ulang sebagai resep ampuh untuk menggelindingkan roda pernikahan dan ternyata memang terbukti. Banyak pasangan yang awalnya tidak menyadari bahwa sumber permasalahan pelik yang mereka hadapi tak lain adalah mandeknya komunikasi. Misalnya si suami tidak senang istrinya terlalu menuntut ini-itu, namun ia tak pernah mengutarakannya. Ibarat menyimpan bom waktu, setelah 10 tahun usia pernikahan, akhirnya baru terasalah bagaimana "lelah"nya menjalani kepura-puraan tersebut.

Demikian juga ikrar untuk saling setia. Pasti tidak sulit melakoninya selama komunikasi berjalan mulus meski godaan akan selalu muncul. Seperti kata pepatah, bukankah rumput tetangga akan selalu terlihat lebih hijau? Namun kalau sedari awal godaan demi godaan bisa segera diselesaikan lewat komunikasi, apa pun yang diinginkan kedua belah pihak pasti akan terakomodasi. Bentuk yang paling memungkinkan adalah kompromi. Tapi perlu diingat, kompromi tidak sama dengan tuntutan. Dengan kompromi, maka rumput tetangga pun jadi tidak terlihat "hijau-hijau amat".

Berikut kunci mempertahankan komunikasi:

- Hindari berasumsi. Carilah kejelasan masalah dengan membicarakannya bersama.

- Jadikan keterbukaan sebagai dasar komunikasi dalam rumah tangga. Utamakan konsep "kita", dan bukannya "saya" atau "kamu".

- Cobalah untuk selalu belajar mengemukakan sesuatu dengan cara yang manis/positif.

- Jangan pernah lelah untuk terus berlatih menjadi pendengar yang baik.

- Senantiasa berpikir ulang, minimal 10 kali sebelum menyampaikan kata-kata negatif tentang pasangan.

BERI DUKUNGAN

Memberi dukungan berarti memberi ruang dan dorongan supaya masing-masing anggota keluarga dapat menjalankan peran dan fungsinya dengan baik serta mengaktualisasi diri secara optimal. Sayangnya, yang kini sering menjadi masalah, ada pihak yang merasa tertinggal atau bahkan ditinggalkan. Contohnya suami yang kariernya melesat. Kondisi ini harus disikapi dengan saling memberi dukungan. Tak cuma istri yang dituntut untuk menyejajarkan langkah dengan meng-up grade diri. Namun suami pun harus bisa menyesuaikan diri. Tidak rumit kok selama keduanya benar-benar punya komitmen untuk mengupayakan kebahagiaan keluarga.

Celakanya, yang kerap terjadi suami/istri "melesat" sendirian tanpa memedulikan pasangannya. Baru setelah pasangannya tertinggal jauh di belakang, muncul komentar, "Gimana dong? Abis suami/istriku enggak nyambung lagi sih!" Padahal kalau benar-benar diupayakan, membangun jembatan supaya keduanya selalu nyambung, bukanlah masalah besar. Berikut kiat-kiatnya:

* Jangan jadikan keluarga sebagai ajang persaingan.

* Landasi bangunan keluarga dengan semangat team work yang kompak.

* Selalu siap mengulurkan bantuan pada setiap anggota keluarga yang membutuhkan.

* Membuka diri untuk membicarakan rencana-rencana kreatif.

* Seberapa pun menariknya peran atau fungsi-fungsi baru, jangan tinggalkan sama sekali peran dan fungsi lama.

PENTINGNYA RASA NYAMAN

Ibarat mengendarai mobil, mengemudikan biduk rumah tangga pun perlu suasana yang kondusif. Mengendarai mobil di jalan macet pasti berbeda rasanya dengan mengendarai mobil melintasi pegunungan yang sepi dan nyaman. Effort yang harus dikeluarkan tentu tidak akan sama. Suami dan istri mana sih yang tidak ingin mendapat rasa nyaman setiap kali pulang ke rumah?. Rasa nyaman ini tentu saja tidak ada kaitannya dengan kondisi fisik rumah yang megah atau fasilitasnya yang lengkap, sebab rasa nyaman hanya bisa ada dalam hati.

Rasa nyaman inilah yang akan "menarik" masing-masing anggota keluarga untuk segera pulang ke rumah bila tidak ada hal-hal lebih penting lagi yang harus dikerjakannya di luar rumah. Rasa nyaman ini juga akan mempermudah pasangan untuk saling berbagi, saling mendukung dan saling membantu. Yang tidak kalah penting, rasa nyaman ini membuat suami maupun istri tidak menganggap perkawinannya sebagai sebuah keterpaksaan atau beban berat yang selalu menyusahkannya.

Berikut sejumlah tips menciptakan rasa nyaman di rumah:

* Rasa nyaman terhadap orang lain maupun diri sendiri baru akan tercipta bila kita terlebih dulu mampu menerima diri sendiri seutuhnya.

* Mampu berpikir dan bersikap realistis terhadap segala keterbatasan pasangan atau hal-hal yang tidak mungkin untuk diubah lagi.

* Kreatif menciptakan kegiatan bersama keluarga yang menyenangkan dan mendatangkan rasa relaks.

* Tingkatkan kemampuan mengelola stres.

* Selalu berupaya mendekatkan diri pada Tuhan dengan senantiasa berdoa dan bersyukur atas segala anugerahnya.

Penulis : Marfuah Panji Astuti.
Narasumber: Dra Clara Istiwidarum Kriswanto, MA, CPBC., dari Jagadnita Consulting

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau